Berita NTT Terkini

Jutaan Pekerja Non Formal di NTT Belum Terlindungi

Di NTT jutaan orang yang bekerja di sektor informal belum terlindungi BPJS Ketenagakerjaan.

Jutaan Pekerja Non Formal di NTT Belum Terlindungi
POS-KUPANG.COM/Yeni Rachmawati
Kepala BPJS Ketenagakerjaan, Rita Damayati (Pihak Pertama) menandatangi Perjanjian Kerja Sama dengan Pemerintah kota Kupang di Aula Garuda Kantor Walikota Kupang, Senin (29/10/2018). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Adiana Ahmad

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Tukang Ojek, Pelaku UMKM, sopir, juru parkir, pekerja jasa konstruksi, petani, peternak , nelayan dan pekerja informal lainnya merupakan pekerjaan dengan resiko tinggi dan rawan kecelakaan. Namun di NTT jutaan orang yang bekerja di sektor tersebut belum terlindungi.

Hal itu disampaikan Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Nusa Tenggara Timur (NTT), Rita Damayati, ketika ditemui di ruang kerjanya, Kamis (8/11/2018).

Rita mengatakan, NTT bukan daerah industri karena itu sebagian besar masyarakatnya belum familiar dengan industri. Hanya 30-40 persen tenaga kerja yang bekerja di sektor industri atau formal.

Baca: IWAPI Flotim Gelar Diklat Tata Rias Kecantikan

Selebihnya pekerja informal baik di sektor pariwisata, pelaku UKM, petani, nelayan, pedagang kaki lima, sopir, juru parkir dengan penghasilan tidak menentu dan mandiri.

"Mereka ini perlu dilindungi nyawanya karena pekerjaan mereka beresiko tinggi dan rentan terhadap kecelakaan kerja. Itu masuk dalam program kami. Program yang kami jalankan Ini berdasarkan UU Nomor: 40 tahun 2004 dan UU Nomor: 24 tahun 2011. Berdasarkan kedua UU tersebut, pemerintah mengamanatkan badan penyelenggaranya adalah BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan," katanya.

Baca: Hari ke-6 Pelaksanaan Ujian CPNS, 14 Peserta Lolos Tes SKD, Ini Harapan Kepala BKD TTS

"Kalau BPJS kesehatan, memberikan perlindungan kepada seluruh rakyat yang belum lahir sampai meninggal kalau sakit, sedangkan BPJS Ketenagakerjaan memberikan perlindungan kepada masyaarakat yang sudah bekerja. Baik pekerja formal (berbadan hokum) maupun informal," jelas Rita.

Rita mengungkapkan, pekerja informal ini rata-rata sangat miskin, rentan terhadap kecelakaan. Para pekerja informal ini kadang tidak pikirkan keselamatan jiwanya. Yang dia pikirkan hanya perut atau uang.

Rita menjelaskan, BPJS Ketenagakerjaan beda dengan asuransi komersial lainnya . "Kalau kami asuransi nirlaba yang tidak berorientasi pada laba atau keuntungan. Kalau asuransi lain profit oriented. Kami memberikan perlindungan terhadap kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja merupakan program emergency yang tidak bisa ditunda. Semakin cepat dia dilindungi dengan membayar preminya maka amanlah tenaga kerja tersebut bersama keluarganya. Yang namanya kecelakaan kerja itu kita sepakat sifatnya emergency. Satu jam pertama menentukan nasib tenaga kerja tersebut. Apakah meninggal, cacat atau sembuh. Tidak ada alasan baik tenaga kerja formal, informal tenaga kerja jasa konstruksi untuk tidak masuk dalam program kami karena sudah diamanatkan dua UU tadi," demikian Rita.

Rita sendiri belum menjelaskan berapa total tenaga kerj informal di NTT karena masih dalam proses validasi dan verifikasi. (*)

Penulis: Adiana Ahmad
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved