Editorial Pos Kupang

Nikmatnya Penganan Berbahan Kelor

Cukup lama masyarakat NTT melihat kelor sebatas itu. Namun, sejumlah hasil penelitian menunjukkan

Nikmatnya Penganan Berbahan Kelor
istimewa
Daun kelor 

POS-KUPANG.COM - Sempat menjadi bahan polemik ketika Viktor Bungtilu Laiskodat mengampanyekan budidaya kelor (merunggai) jika ia terpilih menjadi Gubernur NTT periode 2018-2023. Ada yang menanggapinya dengan sinis sebagai program yang tidak berbobot.

Ya, kelor memang tidak bisa hidup di semua wilayah di NTT. Lebih-lebih di wilayah pegunungan dengan curah hujan tinggi, kelor tidak bisa hidup karena batangnya tidak tahan air.

Tetapi di wilayah yang dekat pantai dengan iklim kering, kelor lebih mudah hidup. Di tempat-tempat tersebut, pohon kelor banyak dijadikan tanaman pagar, yang kapan saja daunnya bisa dipetik untuk sayur.

Baca: Simak Ramalan Zodiak Rabu, 7 November 2018: Libra Lagi Galau & Aquarius Bakal Sibuk

Baca: Link Live Streaming Liga Champions Inter vs Barca dan Red Star vs Liverpool Malam Ini

Baca: Heboh Maria Ozawa Kunjungi Bali, Intip Pose-posenya: Diapit Pilot Hingga di Kolam Renang

Cukup lama masyarakat NTT melihat kelor sebatas itu. Namun, sejumlah hasil penelitian menunjukkan kelor memiliki banyak khasiat. Kelor berfungsi sebagai obat-obatan dan mengandung gizi yang jauh lebih tinggi dari jenis makanan yang dianggap bergizi selama ini.

Perlahan-lahan masyarakat mulai membudidayakan kelor. Bahkan TNI Angkatan Darat di NTT sudah memanfaatkan sejumlah lahan masyarakat untuk penanaman kelor secara besar-besaran. Hasilnya diolah untuk dijadikan komoditi ekspor dengan harga yang terbilang mahal.

Jadi, apa yang dikampanyekan Viktor Laiskodat bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba atau dibawa dari tempat lain, melainkan karena dia melihat potensi pengembangan kelor yang cukup menjanjikan di NTT. Kini, Viktor sudah menjadi Gubernur NTT.

Janji membudidayakan kelor sebagai komoditi unggulan ternyata tidak sekadar janji manis untuk meraih kursi NTT 1. Dia berani mewujudkan janjinya meskipun mulai dengan skala kecil.

Gubernur membuat perjanjian dengan Mathilda Masaubat, seorang pebisnis NTT, untuk menyediakan berbagai jenis kue berbahan kelor setiap pagi di Kantor Gubernur NTT. Gubernur menjadikan kelor sebagai bahan konsumsinya setiap hari sekaligus menyajikannya kepada setiap tamu yang datang.

Mathilda merespons permintaan Gubernur ini dengan serius. Makanya, setiap pagi Mathilda selalu muncul di gedung berbentuk Sasando itu. Dia mengantarkan empat jenis kue kelor yaitu Moringa Brownies, Moringa Cake, Klepon Kelor dan Bahana Cake Kelor. Tentu saja, sang Gubernur tidak makan gratis. Harus membayar kue-kue tersebut dan menjadi pendapatan tetap Mathilda.

Tidak hanya Mathilda, sejumlah UMKM mulai memanfaatkan kelor sebagai bahan makanan yang lezat dan bergizi tinggi. GMIT sendiri sudah mengimbau jemaatnya untuk menanam kelor.

Bahkan WVI dua tahun sebelumnya sudah mulai dengan program budidaya kelor. Nah, apalagi yang harus disangsikan dari program budidaya kelor? Setidak-tidaknya masyarakat di daerah-daerah yang cocok untuk budidaya kelor, mulailah menanam kelor.

Tidak harus memusnahkan komoditi yang sudah ada, melainkan memanfaatkan lahan-lahan yang masih kosong untuk menambah penghasilan. Selanjutnya, kita harapkan pemerintah juga mencari pasar bagi komoditi kelor dengan harga menguntungkan. *

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved