Berita Imajinasi

Ini Dia Puisi-Puisi Edisi Pos Kupang Minggu Ini, Kepoin Yuk

Bocah itu sudah sejak subuh berada di lengan jalan kota. Tiada seragam Merah Putih,Dikenakannya hanya sebuah topeng monyet.

Ini Dia Puisi-Puisi Edisi Pos Kupang Minggu Ini, Kepoin Yuk
ils

Puisi-Puisi Ivanno Collyn
Harga Sebuah Kehidupan

Bocah itu sudah sejak subuh berada di lengan jalan kota.
Tiada seragam Merah Putih,
Dikenakannya hanya sebuah topeng monyet.
Jadilah ia, oleh para pengendara, para pejalan kaki, agen-agen Surat Kabar, para pelajar dipanggil Bocah Monyet.
Lengan jalan adalah panggungnya, traffic light adalah lampu panggung
Dan Monyet itu menjadi bintang panggung ketika badan jalan mulai riuh ramai.
Di panggung itu, Sang Monyet membacakan puisi tentang harapan, harga sebuah kehidupan.
Pada Red traffic light, istirahatlah sejenak. Pulihkanlah dirimu dari semua kepenatan duniawi.
Pada Green traffic light, Sang Monyet berpekik tangkaplah hari dalam prjalanan.
Pada Yellow traffic light, hati-hati di jalan. Jalanmu adalah sajak terpanjangmu.
Dum Spiro, Spero.
Berharaplah dari keringat sendiri dan
Sedekah kepada orang lain.
Menjelang malam, lampu panggung padam
Dengan membungkukkan kepala, ia menyembunyikan air mata.
Para pengendara, para pejalan kaki, agen-agen Surat Kabar, para pelajar serentak memukul
kening
Pentas usai, kita merawat harap.
(Lelalero 301018)

Menjunjung Kenangan

Beberapa detik setelah kita dewasa
Aku mengunjungi kepalaku
Kepalaku adalah bank kenangan lagipula
Aku rutin menabung
Kenangan dengan defisit terbesar
Adalah permainan-permainan masa kecil
Kutemukan mereka menangis tanpa air mata
Terharu menghantarku pulang tiada pamit
Kumakamkan haru malu-ku dalam kata
Bangkit di dalam mata kita
Biar sekali dua kali
Kita mengunjungi mereka bersama istri dan anak-anak.
(Boganatar 191018)

Puisi-puisi Petrus Nandi
Kepada-Mu, Embun Sabda

Kepadamu embun sabda
kuceritakan semua
tentang pagi yang dulu giat berwarta
dan senja yang setia berceramah.
Kini letih menepis gelak gaduh
sebab dunia tak lagi bersahabat
dengan kata yang kau letakkan
pada mulut mereka.
(Puncak Scalabrini, 23 Juni 2018)

Obituari

Di kota ini masih kusaksikan
selaksa raga yang meratap
di lorong-lorong jalan
tangisi keadilan yang telah pergi

dari bilik negeri.

Harapan mereka teramat sederhana:
mereka memiliki dunia tidak hilang ingatannya
dan sejarah yang setia melawan lupa
biar anak-cucu kelak tahu
bahwa keadilan mati
di sini: negeri separuh rupa.
(Benteng Jawa, 12 November 2017)

Puisi Henderika Oktavia Lanu
Sajak penunggu Senja

Sepanjang jalan ku pandangi engkau
Tenang dan samar ku pahami
Engkau yang tak leleh oleh waktu
Engkau yang tak gusar oleh cerca
Engkau menghias bingkai hidup
Seindah imajinasimu
Engkau memupuk jalan hidup
Sesubur kata lakumu
Kini ku bersanding tanpa kata
karna mimpi terlahap ego
Kini ku beriring tanpa celoteh
Saat kasih terkubur dendam
Aku melangkah gagah kala senyummu merekah
Aku bisu kala tawamu sirna
Pedulikan kami, duhai hidup
Sonsonglah kami, wahai masa
Kami sulit deraikan tawa
Kami takut lengkungkan senyum
Kami telah di batas senja
Namun, tak satupun kasih membuka pintu

Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved