Editorial Pos Kupang

Kisah Hidup TKI asal NTT Tidak Sepenuhnya Kelabu

Syaratnya jelas yaitu miliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai serta meninggalkan kampung halaman

Kisah Hidup TKI asal NTT Tidak Sepenuhnya Kelabu
ist
Fremiot de Falconieri Riu 

POS-KUPANG.COM - Kisah hidup Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Nusa Tenggara Timur tidak selalu buruk. Di antara fakta nestapa yang bikin hati kita tercabik-cabik, masih ada harapan bahwa anak-anak Flobamora bisa sukses menjadi TKI di negeri orang.

Syaratnya jelas yaitu miliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai serta meninggalkan kampung halaman tercinta melalui jalan legal dengan dokumen lengkap sebagaimana dipersyaratkan.

Kisah sukses itu antara lain dituturkan empat Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal NTT, Yenni Maria Kapitan alias Yen (44), Fremiot de Falconieri Riu, SE alias Frem (43), Maria Neno Bais asal Amarasi dan Jessika Manafe asal Pulau Semau, Kabupaten Kupang.

Baca: Ramalan Zodiak Hari Ini, 3 November 2018, Taurus Frustasi, Virgo Banyak Pengalaman Baru

Baca: Inilah 6 Drama Korea yang Dibintangi Shin Won Selain Drakor Legend of The Blue Sea

Baca: Suga BTS Tetapkan Kriteria Cewek Yang Bisa Menjadi Pacarnya, Army Baper

Frem, misalnya, baru mau berangkat ke Malaysia setelah setelah meraih gelar sarjana ekonomi pada Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Kupang tahun 2000. Dia merupakan contoh tenaga kerja dengan latar belakang pendidikan tinggi. Bukan modal nekat dan semata mengandalkan fisik tanpa skill.

Selama menjadi TKW di Malaysia dengan gaji sekitar Rp 4 jutaan, Frem bisa membantu kebutuhan keluarganya di Kupang. Termasuk membiayai pendidikan dan kehidupan adik dan kakaknya dan memperbaiki rumah.

Cerita sukses sebagai TKW di Malaysia juga dialami oleh Yeni yang sempat menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Undana Kupang. Selama 20 tahun bekerja sebagai TKW sudah banyak hal positif yang dipersembahkannya bagi keluarganya di Oesao. Dia bangun rumah untuk orangtuanya, membeli traktor tangan, mesin rontok padi dan kios. Juga membiayai pendidikan adik serta anaknya.

Perjuangan Maria Neno Bais sebagai TKW di Malaysia dan Singapura juga patut diapresiasi. Dia mampu memperbaiki ekonomi keluarga dan melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Nusantara Kupang hingga selesai. Ia membiayai sendiri kuliahnya dari hasil kerja selama menjadi TKW. Kisah manis juga dialami Jessika Manafe asal Pulau Semau, Kabupaten Kupang.

Kita mengungkap kisah sukses semacam ini dengan harapan dapat memberi inpirasi bagi sesama anak NTT yang mau bekerja di luar negeri. Bila memiliki pengetahuan dan keterampilan serta sikap kerja yang baik maka keberhasilan pasti menghampiri.

Pekerjaan rumah kita justru ada di sini. Masih banyak tenaga kerja asal NTT
yang tidak memiliki keterampilan cukup walaupun sebagai pembantu rumah tangga. Cukup sering mereka tidak cakap mengoperasikan peralatan elektronik rumah tangga sehingga menjadi sasaran kemarahan majikan. Sejumlah kasus penganiayaan yang menimpa TKW asal NTT antara lain karena faktor tersebut.

Selama masa moratorium pengiriman TKI, pembenahan sistem rekruitmen mutlak dilakukan. Sudah saatnya NTT mengirim TKI yang berkompeten dan profesional di bidangnya sehingga tidak menjadi korban. *

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved