Berita Cerpen

Ini Cerpen Pos Kupang Minggu Ini, Kepoin Yuk!

Ibu meninggal mungkin Dia telah mencintainya. Jujur saja, hingga kini aku tak mengerti dan terus bertanya.

Ini Cerpen Pos Kupang Minggu Ini, Kepoin Yuk!
ils

MALAM ini, aku teringat kembali kenangan bersama ibu di rumah sederhana ini. Ibu selalu memberikan aku kekuatan saat rembulan tidak menyinari rumah kami. Ibu selalu memberikan aku tempat yang nyaman saat matahari membakar rumah kami, ibulah yang selalu menuntun aku ke jalan yang benar.

Kini semua telah sirna dari hadapanku. Ibu telah meninggalkan aku setahun yang lalu. Kepergiannya membuat hidupku terus merana tanpa arah. Aku hanya seorang diri, sebatang kara.

Aku tak tahu entah sampai kapan aku hidup sendirian tanpa seorang ibu. Mungkin sang khalik telah menentukan hidupku seperti ini karena hanya Dialah yang tahu rahasia hidup manusia. Ibu meninggal mungkin Dia telah mencintainya.
Jujur saja, hingga kini aku tak mengerti dan terus bertanya.

Baca: Don Gaspar Mikel da Costa : Tiga Kali jadi Kepala Humas Polisi UNMISS

Mengapa Tuhan memanggil ibu setahun yang lalu kala rembulan malam tidak menyinari rumah kami. Aku begitu terkejut apalagi melihat ibu terbaring di tanah pada tengah malam. Aku berlari dari kamar tidur membawa lampu pelita, aku pikir saat itu mata ibu terbuka untuk melihatku, namun tetap saja ibu telah meninggal dunia dalam rumah yang gelap.

Barangkali, ibu meninggal dunia karena kecewa, aku tidak memberikan jawaban atas pertanyaannya. Entahlah! Sungguh aku tak tahu, karena dia pergi tanpa meninggalkan pesan pun kesan buatku.

Hanya kenangan yang tersisa. Pahit terasa seperti empedu saat ibu meninggalkan aku dalam rumah sederhana ini. Ibu telah pergi dalam gegas yang tak sempat kukemas dan rindu dalam yang masih menggemas.

Setelah kepergiaan ibu, malam-malamku diliputi kesunyian. Aku sering menatap langit malam. Aku berharap akan melihat ibu pada langit malam itu. Aku sangat merindukan tatapannya yang menyegarkan jiwa ragaku. Ibu telah pergi dengan membawa kenangan yang pernah kami rajut di rumah sederhana ini.

Baca: Apel HUT ke-90 Sumpah Pemuda Tingkat Provinsi NTT Digelar di Depan Gedung Sasando

Aku tak tahu apakah dia masih menyimpan semua kenangan kebersamaan kami. Semoga saja ibu tidak melupakan semua kenangan itu walau dia berada di surga. Karena dia pernah berkata bahwa semua kenangan kami tak pernah dilupakan, entah di mana atau sampai kapan pun tidak akan dilupakan.
***
Di kamar sumpek ini aku sepi sendiri, duduk termenung menggoreskan sebuah curahan hati untuk ibu yang telah meninggalkan aku selamanya. Kadang aku merindukan elusan tangannya yang selalu memberikan kehangatan pada ubunku. Kebiasaan kami sebelum istirahat malam selalu diselingi dongeng seorang pencuri yang sering berjalan di tengah malam. Pada setiap kata ataupun kalimat pasti ada kata 'bunuh' sehingga membuatku takut. Aku merangkum tubuh ibu saat dia terus mengisahkan dongeng seorang pencuri ini.

Tubuh yang selalu memberikan kehangatan membuatku merasa aman, walau ibu terus mengisahkan dongeng seorang pencuri yang pada akhirnya dibunuh oleh warga kampung karena dia telah mencuri beras salah seorang warga di kampung.
Setiap kali ibu mengisahkan dongeng selalu saja ada pesan tersendiri untukku. Kadang dia menulis pesan lewat kertas usang, juga secara spontan dari mulut manisnya.

Baca: REMAS Al Muttaqin Kupang Kian Bersemangat Membangun Masjid dan Membina Diri

Tapi kenangan itu terhanyut oleh derai air mata yang membanjiri. Kenangan itu sudah terbakar oleh kilat dan semuanya lenyap. Sekarang malamku gelap. Rembulan tempat aku memandang paras pasi kini telah dirundung duka. Dia menangis dan air matanya menjelma dalam air hujan. Dan paras seorang ibu pun tak kunjung datang. Aku menjadi sedih. Aku tak bisa menatap dan memeluk ibu lagi.

Malam semakin larut, kesepian terus menemaniku. Sebatang lilin yang selalu menyinari kamar sumpekku seakan-akan tahu akan isi hatiku. Embusan angin malam semakin menyengat terasa. Badanku mulai terasa dingin. Aku sesekali mengambil sarung yang pernah ibu pakai saat melawat orang mati di kampung.

Diintip cahaya bintang malam yang tak seberapa, aku sempat melihat foto ibu yang pernah ia sembunyikan karena takut aku melihat wajahnya yang tidak sebanding dengan paras para artis di negeriku yang semakin hari semakin cantik.
Sedangkan ibu semakin hari semakin keriput karena terus dibakar sinar sang surya. Tapi bagiku ibu sangat cantik. Dia wanita pertama yang membuatku tahu arti cantik pada diri seorang perempuan.

Baca: Sahabat Muda Kerawam Keuskupan Agung Kupang Adakan Diskusi Kebangsaan

Aku melihat lilin yang selalu menyinari kamar sumpekku pelan-pelan mulai sayup. Lewat embusan angin malam yang lembut tapi menyengat aku titipkan buat ibu sebuah kidung tanpa nada: "Ibu jangan pernah melupakan aku saat engkau berada di surga, kelak aku juga akan berada di sana nanti. Aku sangat merindukan tatapanmu!

Tatapanmulah yang menuntun langkahku menuju rumah Bapa di Surga! Dalam tatapanmu aku melihat cahaya yang menerangi dan menyejukkan hati ini."
(Riko Raden, mahasiswa STFK Ledalero, tinggal di Unit St. Rafael Ledalero).

Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved