Opini Pos Kupang

Paroki Waibalun Menjadi "Barometer" Mengapa Demikian?

Dari rahim Waibalun telah lahir banyak misionaris tertahbis pun misionaris awam yang memberi andil besar bagi kemajuan

Paroki Waibalun Menjadi
POS KUPANG.COM/FELIKS JANGU
Rombongan Wakil Gubernur NTT Josef A.Nae Soi memasuki tenda malam puncak yubileum 100 tahun gereja Paroki Waibalun Senin malam (24/9/2018). 

Oleh Frano Kleden
Tinggal di Manila

POS-KUPANG.COM - Waibalun, paroki yang terletak di sebelah barat Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur itu baru saja merayakan yubileum seratus tahun. Usia seratus tahun tentu merupakan usia yang luar biasa. Butuh dua kali usia emas untuk merengkuhnya.

Josef A. Nae Soi, wakil gubernur NTT, yang turut hadir dalam perayaan tersebut menyebut perjalanan seratus tahun sebagai sebuah perjalanan iman. Dalam refleksinya, beliau menyampaikan proficiat dan apresiasi kepada paroki Waibalun.

Dari rahim Waibalun telah lahir banyak misionaris tertahbis pun misionaris awam yang memberi andil besar bagi kemajuan pendidikan dan kesehatan di NTT (Pos Kupang.com, 25/09/2018). Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr, uskup Keuskupan Larantuka, juga mengungkapkan harapannya di hadapan seluruh umat paroki. Waibalun harus bisa menjadi "barometer" Keuskupan Larantuka.

Baca: Mau Jalan-Jalan Yang Sesuai Dengan Karakter Dan Zodiakmu, Ini Tempat Favoridmu

Baca: Lee Hyun Ungkap Karakter Member BTS, Klaim Paling Dekat dengan Jimin dan Jin

Baca: Penggemar Drama Korea, Intip 10 Drakor Yang Bakal Tayang Bulan Oktober 2018

Tulisan ini berpangkal dari harapan di atas. Menjadi "barometer" bagi yang lain tentu merupakan sebuah pesan, kenangan serentak harapan yang istimewa. Ada peluang menarik yang harus direbut bersama satu-dua tantangan yang juga harus dilalui.

Saya menaruh kata "barometer" dalam tanda petik semata-mata karena dua tujuan khusus. Pertama, "barometer" pantas menjadi kata kunci, pesan terdalam dari segala bentuk sukacita dan semarak perayaan. Kedua, saya tertarik mendedah, dalam hal mana saja Waibalun bisa menjadi "barometer" bagi yang lain?

Mengapa "Barometer"?

Modernitas dan agama, meskipun tidak menghancurkan satu sama lain, juga menantang agama untuk mendefinisikan ulang beberapa aspek dalam praktik-praktik keagamaan.

Hal ini dialami juga oleh gereja. Kesenjangan kualitas sumber daya manusia tentu akan berimplikasi pada kualitas persekutuan, pelayanan dan kesaksian pada masing-masing wilayah. Kondisi keimanan juga bisa mengalami kemerosotan.

Hal ini dapat terlihat dari perilaku umat yang banyak terseret dalam arus negatif globalisasi dan modernisasi seperti gaya hidup hedonisme, pragmatis dan kurang berempati terhadap kondisi sosial kemasyarakatan yang berkembang di sekelilingnya.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved