Opini Pos Kupang

Siapkah Kita Membubarkan Prostitusi di Kota Kupang?

Seperti biasa, ada yang setuju, tidak sedikit juga yang menolak. Apapun bentuk kontroversinya, Pemkot Kupang tetap

Siapkah Kita Membubarkan Prostitusi di Kota Kupang?
Tribunnews.com
Ilustrasi 

Oleh: Saverinus Suhardin, S.Kep.,Ns
Perawat, pengajar di Akper Maranatha Kupang

POS-KUPANG.COM - Kabar tentang rencana penutupan lokalisasi prostitusi di Kota Kupang sudah menjadi salah satu topik hangat yang dibicarakan masyarakat di berbagai tempat.

Seperti biasa, ada yang setuju, tidak sedikit juga yang menolak. Apapun bentuk kontroversinya, Pemkot Kupang tetap berkukuh pada rencana awal. Bahkan tidak hanya satu atau dua lokasi saja, melainkan semua tempat yang diketahui menjadi tempat prostitusi akan ditutup.

Walikota Kupang telah menegaskan untuk menutup semua jenis lokalisasi protitusi yang ada tanpa pilih-pilih (Pos Kupang, 22/10/2018, hal. 1-7).

Baca: 5 Zodiak Ini Lebih Suka Memendam Cinta daripada Mengatakannya Meski Cintanya Sangat Besar

Baca: Inilah 6 Drama Korea yang Dibintangi Shin Won Selain Drakor Legend of The Blue Sea

Sebelumnya pernah dikabarkan kalau upaya ini merupakan salah satu tindakan yang dilakukan pemkot Kupang untuk mengurangi prevalensi HIV/AIDS yang terus dilaporkan meningkat tiap tahunnya.

Kecemasan Pemkot Kupang akan prevalensi HIV/AIDS memang beralasan. Antara tahun 2000-bulan Juni 2017 terdata 1.129 kasus, dengan rincian pengidap HIV sebanyak 783 orang dan AIDS sebanyak 346 orang (timorexpress.fajar.co.id). Kemudian data terbaru pada bulan Juni 2018 ditemukan meningkat cukup signifikan, yaitu mencapai 1.323 kasus (Dawainusa.com).

Apakah dengan menutup tempat prostitusi maka kejadian HIV/AIDS bisa menurun? Jawabannya bisa iya dan tidak. Iya, karena salah satu sumber penularan HIV memang melalui kontak seksual dengan PSK yang terinfeksi.

Tidak, karena ada argumentasi yang beredar juga di kalangan pemerhati HIV/AIDS, yang menganggap penutupan tempat prostitusi justru menyulitkan pengontrolan kelompok yang berisiko terkenal HIV/AIDS.

Argumentasi yang kedua di atas sebenarnya mudah dipatahkan bila kita melakukan penutupan dengan proses yang terencana dengan baik. Saya sebagai perawat (tenaga kesehatan) tentu saja mendukung rencana Pemkot Kupang tersebut, bukan saja hanya alasan penularan HIV/AIDS, tetapi ada banyak juga masalah sosial lainnya sebagai akibat keberadaan sebuah tempat prostitusi.

Selain menimbulkan dan menyebarkan penyakit kelamin dan kulit, kerberadaan lokalisasi juga menjadi pemicu rusaknya kehidupan keluarga; rusaknya sendi-sendi moral, susila, hukum dan agama; dan adanya pengekploitasian manusia oleh manusia lain (Kartini Kartono, 2003).

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved