Opini Pos Kupang

Sebuah Versi yang Berisiko, Catatan Semi Ikra Anggara Terhadap Pementasan Ina Lewo

Saya pernah menyaksikan pementasan berdasarkan foklore ini pada tahun 2016, dipentaskan oleh sebuah grup teater

Sebuah Versi yang Berisiko, Catatan Semi Ikra Anggara Terhadap Pementasan Ina Lewo
ISTIMEWA
Pementasan Ina Lewo 

Oleh Semi Ikra Anggara
Periset Pekan Teater Nasional dan Sutradara Teater

PPS-KUPANG.COM - Kepercayaan lama masyarakat Lamaholot (Flores Timur) banyak memosisikan perempuan sebagai sosok yang bermartabat tinggi, dihormati dan bahkan disakralkan.

Pada prosesi Semana Santa, sebuah prosesi pra paskah, diperlihatkan bagaimana patung kayu Tuan Ma (Bunda Maria) diarak ribuan jamaah mengikuti jalur tertentu di kota (Jalan Salib).

Prosesi ini merupakan akulturasi kepercayaan Katolik dan kebudayaan Lamaholot yang memuliakan sosok perempuan. Sebelum agama-agama besar datang masyarakat Lamaholot sudah memiliki kepercayaan religinya sendiri, salah satu manifestasinya penghormatan terhadap Ibu Bumi, sebagai bagian dari kepercayaan tertinggi dari trinitas "Lara Wulan Tanah Ekan" (Matahari, Bulan dan Bumi).

Penghormatan terhadap perempuan ini jejak-jejaknya juga bisa kita baca pada banyak foklore. Foklore "Ina Liko Lewo" (Wanita Pelindung Bumi) adalah salah satunya.

Saya pernah menyaksikan pementasan berdasarkan foklore ini pada tahun 2016, dipentaskan oleh sebuah grup teater sekolah dalam festival seni pertunjukan Larantuka yang digelar di tepi pantai.

Pementasan yang bersiasat dengan ruang pentas terbuka, membuat surprise dengan semburan api, dentingan parang dan gerak-gerak akrobatik, relatif mempertahankan `pikiran' dan plot asli, sementara Teater Nara pada pertunjukan mereka yang digelar dalam rangka Pekan Teater Nasional di Jakarta 13 Oktober 2018 mencoba membuat versi yang berbeda.

Sebuah pilihan yang memiliki risikonya sendiri. Sutradara Silvester Petara Hurit "mempertemukan" fakta sejarah penguasaan kayu cendana di Pulau Solor yang terjadi sekira lima abad silam dengan narasi "Ina Liko Lewo", yang paling terlihat adalah bagaimana setiap tindakan-tindakan setiap karakter memiliki alasan yang sangat jelas dalam setiap pengadeganan.

Tengoklah bagaimana Janda Ose paska suaminya terbunuh melarikan diri ke bukit bersama anak-anaknya untuk menghindari perkosaan. Di bukit itu pula tempat asal usul si Janda. Asal usul kampung memang memiliki makna penting dalam kebudyaan Larantuka, di sinilah alasan logis dramaturgis menemukan relevansinya dengan kepercayaan lama Larantuka.

Tapi risikonya penonton yang kadung afirmatif menerima Ina Liko Lewo (dalam versi ini sutradara Silvester Petara Hurit memilih judul Ina Lewo) sebagai lakon Matriaki yang menampilkan sosok seorang perempuan gagah perkasa langsung kecewa, dalam naskah "aslinya" bagaimana Janda dan anak-anaknya berhasil membalas para pembunuh suaminya di atas bukit hanya dengan menggunakan alat tenun, nah dalam lakon versi Teater Nara kita tidak menemukan heroisme yang optimistik tersebut.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved