Berita Puisi

Intip Yuk Puisi Pos Kupang Minggu Ini

Aku adalah anak zaman, Ayahku seorang pembantai dan Ibuku si muka tak berhati.

Intip Yuk Puisi Pos Kupang Minggu Ini
ILS
Cerpen Pulang Ke KOtamu 

Puisi-puisi Arfey Silfester
Oktober 1928

Aku adalah anak zaman
Ayahku seorang pembantai dan
Ibuku si muka tak berhati.
Kisahku dan aksi mereka bertarung
Di atas wadas tua
Pengukir sejarah.
Semasa kecilku, kusaksikan
Pembantaian adalah ibadah
Dan kucilan seperti instrumen musik klasik.
Lalu mereka ngeles, itulah bukti kasih sayang. Katanya.
Walau aurora tangisku
ada bersama derai hujan
pada musim kering
Jika itu melodi terindah pada musimnya.
Apakah mereka gubris, si ayahku dan si ibuku?
Aku pergi dari musim dingin,
Bukan pula menetap pada musim semi.
tapi, setidaknya aku ada
bersama para perjaka di bawah
serakan dedaunan pada musim gugur,
Berpisah dari tulang punggung hidup
kami masing-masing.
Mestikah kami terus mengingau
Tentang kebebasan?
Masihkah kami berdiri di atas zaman keemasan
seperti kekaisaran Bynzantium?
Ataukah darah mudah kami dilelang
demi kemerdekaan?
Jawablah, ayaku, ibuku.

Restory

Di sisnilah aku merunduk dan berbaring anakku,
Semenjak tubuhku berkarib erat
Bersama debu dan angin,
Semenjak waktu tak lagi memberi aku tumpangan
Untuk sekedar memulihkan masa laluku.
Ada sunyi yang tersisah
Berdiam di sana dalam kekosongan jiwaku.
Lalu aku bersujud,
Tuhan, tidakkah engaku memulangkan ceritaku
sekedar sejenak menghibur usiaku yang digusur senja?
Sebab, jiwaku penuh rindu
dengar dari ingatanku yang masih tersisa
tentang aurora tangisan oleh hembusan angin
sewaktu kaum Nipon mencabik-cabik ketenangan negeri ini
Dan membidik panah ke arah kejayaan Majapahit.
Sejenak aku mengais,
Lalu dihalau tawa.
Aku masih perjaka waktu itu anakku,
Ketika aliran darah membara
Merebut tabir negeri ini.
Ketika jiwa kami semakin kejam berdusta
pada nurani tentang harga nyawa jangan dilelang.
Tapi, itulah nyata atas perintah.
Aku rindu masa itu, sayangku,
Tapi, kan kutitip rindu pada sang Raja Semesta
Untuk mereka yang tak searah jalanku kini,
Janganlah berjuang atas nama harta,
Tetapi, berjuanglah atas nama bangsa.

Melampaui Nurani

Akulah yang mereka ceritakan
Membungkam di ujung pedang berdarah
Sedang meriam terus bernyanyi
Terngiang-ngiang di telingaku.
Waktu itu persaudaraan jadi lembaran kosong
Bertuliskan 'kedamaian' belaka.
Keterlampauanku melampaui segala waktu
Pada kisah nurani yeng kian bernanah
Sebab letak kedamain ada di ujung tombak.
Pembantaian itu menyeret waktuku
Lalu memperkosai nuraniku tak berdosa
Untuk mengenang segala zaman yang terus dikekal.
Tangisan anak kehilangan susu memilu,
Mengusut waktuku untuk kembali pada kisah itu.
Pada kisah negeri yang melarat.
Negeriku, aku masih ingat cerita kita
Tentang darah mudaku kan kutaruh
Tentang keterlampauan nuraniku
Sebelum engkau bertitah 'merdeka'
(Arfey Silfester, Anggota kelompok Sastra San Camilo)

Puisi-Puisi Siswa SMPK St. Joseph Freinademetz Kapan

Mati
Oleh Anjela G Nahak

Dan sunyi itu pun mati
Malam. Dan malam gelap tak mampu lagi bernapas
Gerak. Terbaringlah ia di tempat tidur yang panjang
Mata. Terbaringlah dan tak berbicaralah ia
Lilin-lilin bernyala di sekeliling mata malam
yang berhenti bergerak dan mati
Lilin-lilin berjalan dengan suara: tok-tik-tok-tik
Terlalu sunyi malam ini
Bukan. Bukan ini yang kuinginkan
Terbaring dalam gelisah
tergenang dalam kenangan
di alamku: tik-tok-tik-tok sudah mati.
(September 2018)

Tikus di Dunia yang Fana

Di dunia yang fana ini
para musuhku pernah menganggap
aku adalah tikus yang dibenci orang-orang.
Seandainya kelak aku disukai banyak orang
dan aku tidak menjadi tikus lagi,
aku ingin membuang dan menghempas
seluruh napas panjangku hingga aku mati.
Dunia ini memang sudah jadi milik orang jahat.
Baiknya aku dibunuh dan dimusuhi saja.
Mungkin aku baru akan jadi manusia di tempat yang lain,
setelah aku mati.
(2018)

Atau
Oleh Cicilia Calista Oematan

Kemarin aku memotong rambutku
Hari ini ia sudah tumbuh lagi, sedikit saja
Apa mungkin sifatku juga ikut berubah?
Atau ada rasa riang bercampur aduk,
seperti ada cabai di kolam renang
Sementara tubuhku telah menjadi gemuk
Atau jadikan saja aku tripleks?
Atau,
Atau,
Jadikan saja aku satu kata di dalam 30 kamus
Jadikan saja aku yang ada dalam tidur malammu
Atau ingatan ketika kau bangun pagi
(Oktober 2018)

Surga

Kelak ketika surga dan neraka bisa berteman
Apakah kita bisa bersatu?
Tapi bukan dalam cinta
Melainkan dalam surga
Yang kita khayalkan berwarna putih
(September 2018)

Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved