Berita Cerpen

Ini Loh Cerpen Edisi Minggu Pos Kupang

KOTA ini tiba-tiba menjadi begitu syahdu di tengah musim yang tak pasti. Angin bertiup kencang dari arah timur.

Ini Loh Cerpen Edisi Minggu Pos Kupang
ILS

Pulang ke Kotamu

 Cerpen Maria Pankratia

KOTA ini tiba-tiba menjadi begitu syahdu di tengah musim yang tak pasti. Angin bertiup kencang dari arah timur dan hujan mendadak tumpah-ruah semalaman di bulan Juni yang seharusnya melimpahkan sinar matahari.

Ia termangu di jok belakang sepeda motor tukang ojek yang ia sewa menuju jalan pulang. Di kejauhan kabut tebal masih menutupi puncak Gunung Wongge dan pendampingnya Gunung Kengo.

Jika melihat bentangan alam ini, ia selalu teringat pada impiannya, ia tak akan pernah bisa mewujudkannya, mendaki jauh tinggi hingga ke puncak kedua gunung tersebut.
Ada jarak yang tak mampu dibahasakan, tak hanya dari sudutnya memandang secara nyata, tetapi juga dari kedalaman pikiran dan hatinya yang kadang tak bisa ia jelaskan dengan leluasa.

Baca: Perempuan Ditemukan Tewas Membusuk di Rumah Petak, Gegerkan Warga Kampung

Hanya pernah sekali waktu, ia mencapai kaki gunung Wongge, memanen jagung, membakarnya dan menikmati langsung di tempat, bersama kawan-kawan sepermainannya. Dulu sekali, saat kebebasan bukanlah sebuah perihal yang begitu sangat berharga. Hari-harinya adalah kesenangan belaka.
Ojek melintasi Jalan Wirajaya, sebuah jalan bertabur kenangan di mana seluruh waktunya sepanjang dua belas tahun dihabiskan.

Dari seragam merah putih, lalu biru putih, dan akhirnya abu-abu putih. Jika ditanya, apakah ia tidak bosan, menghabiskan hidup selama itu melalui jalanan dan lingkungan yang sama? Ia tak akan menjawab, sebagian besar karena ia lupa, lupa apa saja yang telah ia lakukan untuk menghabiskan waktu sebanyak itu pada lintasan yang itu-itu melulu.

Banyak bangunan sekolah berdiri di Jalan Wirajaya, mereka bertetangga dengan akurnya. Oleh karena itu, tidak heran, jika dua belas tahun, ia hanya berpindah gedung dan menyeberang dari sisi jalan yang satu ke sisi jalan yang lain.
TK, SD, SMP, SMA bahkan Perguruan Tinggi. Juga ada gereja dan masjid, biara bagi para pastor, bruder dan suster, yang terakhir cukup mencolok, Kompi Senapan C. Rumah-rumah penduduk, hanyalah sebagian yang menyempil di antara bangunan-bangunan penting tersebut.

Ia tidak ingin membayangkan masa-masa sekolah atau membahas perubahan yang terjadi dengan bangunan dan lingkungan sekolahnya. Ia terlalu sering bernostalgia tentang hal tersebut dengan sahabat-sahabatnya yang saban hari bertemu. Mereka menamai kegiatan tersebut, Reuni Daur Ulang, sebab terjadi terus-menerus dan mereka tak kunjung bosan menceritakan hal yang sama berulang-ulang. Sungguh konyol!

Baca: Bukit Raksasa Tidur di Sumba Timur Lagi Diburu Pengunjung

Kompi Senapan C, Lingkungan Angkatan Darat-Tentara Nasional Indonesia yang selalu berusaha ia hindari. Hingga saat ini, ia masih berusaha menemukan alasan, mengapa ia sangat gugup ketika bertemu orang-orang berpakaian loreng sembari memanggul senjata itu, belum lagi sepatu mereka yang bisa melabrak kepala hingga terbelah dua.

Halaman
123
Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved