Berita Nasional Terkini

4 Tahun Jokowi-JK: Target 10 Juta Lapangan Kerja, Tercapai 8,7 Juta

Salah satu capaian empat tahun pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla adalah mengenai penyerapan lapangan kerja yang ditargetkan 10 juta.

4 Tahun Jokowi-JK: Target 10 Juta Lapangan Kerja, Tercapai 8,7 Juta
KOMPAS.com/Fabian Januarius Kuwado
Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden, Jusuf Kalla, Selasa (2/10/2018) pagi di Kantor Presiden Jakarta, saat memimpin rapat terbatas membahas penanganan dampak bencana di Sulawesi Tengah. 

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - Salah satu capaian dari empat tahun pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla adalah mengenai penyerapan lapangan kerja yang ditargetkan sedari awal sebesar 10 juta.

Sampai empat tahun masa pemerintahan Jokowi-JK, tercatat target tersebut hampir tercapai menuju 10 juta penyerapan lapangan kerja.

"Pemerintah menjanjikan dalam empat tahun lapangan kerja terserap 10 juta. Sampai saat ini, sudah terserap 8,7 juta," kata Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko melalui konferensi pers di Sekretariat Negara, Selasa (23/10/2018).

Baca: Jokowi Sebut Utang Indonesia Kecil Dibanding Negara Lain

Moeldoko menjelaskan, capaian ini diharapkan bisa terpenuhi sesuai dengan target, yakni 10 juta lapangan kerja, hingga akhir masa pemerintahan Jokowi-JK.

Selain menyampaikan realisasi target penyerapan lapangan kerja, juga dipaparkan capaian lain di bidang makroekonomi yang secara umum dalam kondisi yang baik.

Baca: Saat Dunia Geram Kasus Khashoggi, Menkeu AS Temui Putra Mahkota Saudi

Seperti pertumbuhan ekonomi yang terus tumbuh di kisaran 5 persen, di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global.

Sebagai perbandingan, pertumbuhan ekonomi tahun 2015 sebesar 5,02 persen dan semester I 2018 pertumbuhan ekonomi tercatat 5,17 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Selain itu, angka pengangguran juga turun, dari 5,94 persen pada 2014 menjadi 5,13 persen untuk tahun 2018.

Harga-harga pun terkendali yang tercermin dari tingkat inflasi, di mana sebesar 8,3 persen secara keseluruhan tahun 2014 menjadi 2,88 persen pada September 2018.

"Untuk pertama kalinya angka kemiskinan berada pada level satu digit di 9,82 persen. 2014 masih 10,96 persen. Dibarengi penurunan ketimpangan pendapatan atau gini ratio 0,389 di 2018 dari 0,414 pada 2014," tutur Moeldoko.

Dari sisi fiskal, terlihat pengelolaan keuangan negara dijalankan dengan baik dan hati-hati. Salah satu indikator dalam hal defisit APBN yang dijaga di bawah 3 persen terhadap PDB, di mana tahun 2014 defisit APBN 2,34 persen terhadap PDB dan pada Agustus 2018 defisit APBN 1,01 persen terhadap PDB.

"Defisit transaksi berjalan juga dijaga di bawah 3 persen terhadap PDB. Defisit 2014 sebesar 3,1 persen terhadap PDB. Semester I 2018 sebesar 2,6 persen terhadap PDB," ujar Moeldoko.

Sementara itu, ketahanan cadangan devisa juga masih dalam kondisi baik. Pengelolaan utang pun masih dalam koridor yang sehat, dan terus diupayakan untuk dijaga dalam rasio 30 persen terhadap PDB. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved