Opini Pos Kupang

Petani NTT dan Mimpi Swasembada Jagung

Meskipun banyak petani lokal yang mengusahakan jagung, ternyata jumlah produksinya secara nasional belum

Petani NTT dan Mimpi Swasembada Jagung
ISTIMEWA
Suasana panen jagung hibrida varietas Nasa 29 di Oesao, Kabupaten Kupang, Jumat (12/10/2018) 

Oleh: Andrew Donda Munthe
ASN pada BPS Kota Kupang, Mahasiswa Pascasarjana IPB Bogor

POS-KUPANG.COM - Tanaman jagung merupakan salah satu tanaman pangan primadona bagi sebagian besar petani di Indonesia. Kegunaan jagung adalah sebagai bahan baku untuk industri makanan dan minuman, bahan pakan ternak serta diolah menjadi berbagai produk lainnya.

Meskipun banyak petani lokal yang mengusahakan jagung, ternyata jumlah produksinya secara nasional belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Potensi komoditas tanaman pangan ini yang sangat besar ternyata belum dikelola secara maksimal.

Setiap tahun, pemerintah Indonesia masih saja melakukan impor jagung. Dengan kondisi ini, layakkah Indonesia bermimpi untuk menjadi negara yang mampu swasembada jagung?

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa impor jagung periode Januari hingga September 2018 mencapai nilai yang fantastis yaitu sebesar US$101,37 juta. Impor tersebut merupakan produk komoditas jagung dengan kode HS10059090 yang mencakup maize, other than seed, dan juga other than popcorn (Media Indonesia, 16/10/2018).

Jalan menuju swasembada jagung bukanlah hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Keadaan alam, penggunaan bibit unggul, pupuk, pola tanam, maupun penanganan serangan hama merupakan beberapa faktor utama yang mempengaruhi tinggi rendahnya produksi jagung.

Berbagai kendala tersebut perlu diatasi dengan menghadirkan kebijakan yang tepat dan mampu di implementasikan hingga ke tingkat petani.

Kebijakan yang digulirkan pemerintah terutama terkait dengan komoditas jagung masih perlu dikaji dan dievaluasi secara lebih mendalam serta komprehensif.

Kebijakan yang digulirkan idealnya mendengarkan "suara" dan melibatkan peran aktif dari para petani. Hal ini penting agar keluhan serta masukan dari petani dapat melahirkan kebijakan yang mampu meningkatkan produksi jagung dengan kuantitas dan juga kualitas yang unggul.

Kebijakan yang tepat hanya dapat "lahir" dari data yang akurat. Permasalahan data menjadi salah satu persoalan yang sangat penting untuk dibenahi oleh pemangku kepentingan baik di tingkat pusat maupun daerah. Tanpa data akurat, mustahil melahirkan kebijakan yang "benar" bagi para petani.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved