Opini Pos Kupang

Pemberlakuan Denda Sampah

Saya menduga karena beberapa hal. Pertama, publik merasa aneh saja, kok buang sampah tidak pada tempatnya bisa

Pemberlakuan Denda Sampah
POS KUPANG/PETRUS PITER
ilustrasi 

Oleh Isidorus Lilijawa
Warga Kota Kupang

POS-KUPANG.COM - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor B. Laiskodat beberapa saat setelah dilantik menyatakan ke publik akan memberikan denda berupa uang kepada siapa saja yang membuang sampah sembarangan. Pernyataan ini menimbulkan pergunjingan di mana-mana.

Saya menduga karena beberapa hal. Pertama, publik merasa aneh saja, kok buang sampah tidak pada tempatnya bisa dikenakan denda. Kedua, publik merasa heran, mengapa gubernur sibuk pada urusan-urusan sampah ini.

Ketiga, publik menunggu apakah gubernur bisa mewujudnyatakan pernyataannya itu. Dalam konteks Kota Kupang, saya berusaha mencerna beberapa dugaan ini.

Pola Lama

Sistem pengelolaan sampah di Kota Kupang hingga kini masih menggunakan pola kumpul-angkut-buang. Pengumpulan sampah dari rumah tangga atau pertokoan ke TPS dilakukan oleh warga masyarakat.

Baca: Gempa 5,1 SR Guncang Kupang, Banyak Netizen Tidak Merasakannya

Baca: Kupang Diguncang Gempa Bermagnitudo 5,1, Ini Penjelasan Lengkap BMKG

Pembuangan ke TPS dilakukan sejak pukul 19.00 -4.30 pagi dan kegiatan pengangkutan sampah dari TPS ke TPA sampah dilakukan oleh petugas kebersihan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Kupang dengan menggunakan truk sampah. Selanjutnya sampah dibuang ke TPA Alak yang berjarak kurang lebih 16 km dari pusat kota dan mengalami proses akhir secara kimia dan biologi.

Ada beberapa persoalan yang berkaitan dengan ini. Pertama, pada aktivitas pengumpulan warga tidak membuang sampah pada TPS yang disiapkan (buang di halaman rumah, lahan kosong, sembarang tempat).

Baca: 5 Zodiak Ini Terkenal Akan Kesetiaannya Yang Luar Biasa, Pasanganmu Termasuk?

Warga tidak membuang sampah pada waktu yang ditentukan. Sampah yang dibuang warga belum dipisahkan antara sampah organik dan anorganik.

Kedua, pada tahap pengangkutan dari TPS ke TPA. Kendala finansial menyebabkan sampah diangkut sekali sehari, sehingga selalu terlihat tumpukan sampah di mana-mana karena warga tidak membuang sampah sesuai waktu yang ditentukan.

Pengangkutan sampah belum menjangkau semua wilayah di Kota Kupang (khususnya di jalan-jalan lingkungan). Selain itu, jumlah TPS yang disediakan terbatas dan sebarannya tidak merata dan tidak semua warga yang membayar retribusi sampah mendapat jasa pengangkutan sampah.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved