Berita Cerpen

Kepoin Yuk! Cerpen Pos Kupang Minggu Ini?

Saya jadi sadar, mungkin perempuan dilahirkan untuk ditindas maupun dijadikan kuda tunggangan tuk menanggung beban dalam keluarga.

Kepoin Yuk! Cerpen Pos Kupang Minggu Ini?
ILS

PEREMPUAN selalu lahir dari sepasang air mata. Entah kenapa setiap kali bertemu seorang perempuan, selalu saya dapati bening air matanya mengalir tipis di cekung kedua pipinya. Saya jadi sadar, mungkin perempuan dilahirkan untuk ditindas maupun dijadikan kuda tunggangan tuk menanggung beban dalam keluarga.

Mulai dari urusan makan minum sampai cuci popok bayi serta kebutuhan menguras bak WC dan sebagainya. Saya heran mengapa laki-laki selalu menuding itu pekerjaan seorang perempuan?

Wajah lebam ibu Lefty belum juga membaik. Sejak pertengkaran biaya sekolah sang buah hati Dhalia, membuat Ibu Lefty jadi emosi.
Saking emosinya ia mengeluarkan kata-kata yang menyulut pertengkaran hebat keduanya sore itu.

Baca: Sudah Bertunangan, Ariana dan Davidson Putus, Davidson Langsung Nonaktifkan Akunnya

"Laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Selama ini buat apa saja. Uang topi saja tidak bisa kau beli, kita mau harap apa?"
"Kau tak seharusnya berkata begitu Lefty, saya pusing sana-sini cari kerja buat hidup kita. Perempuan mata duitan. Tahunya hanya uang saja, " ucap Pak Darno sambil menarik rambut ibu Lefty dan menggiringnya ke dekat meja kerjanya.

Berkali-kali mereka membahas hal remeh-temeh. Mulai dari soal makan minum sampai ekonomi keluarga yang dibilang mentok.
Tak hanya itu, berkali-kali Ibu Lefty mendapat tempelengan keras serta tonjokan di pelipis matanya hingga memar kehitaman. Tak jadi masalah.

Baginya cinta itu penuh resiko. Resiko menghadapi lautan cinta yang maha dalam dan juga umpatan serta tempelengan yang malang. Inilah yang sering dialami Ibu Lefty.

Pak Darno bekerja sebagai tukang jahit sepatu. Setiap hari ia berangkat kerja dengan sepeda bututnya menuju pertokoan. Di pinggir jalan, dekat gedung pencakar langit itu, pak Darno duduk di bawah teras sambil menyodorkan jasa menjahit sepatu dan sandal. Sudah banyak orang yang langganan padanya. Mulai dari para pegawai sampai para petani di kampung halamannya. Namanya cukup favorit di kalangan masyarakat.

Sedangkan Ibu Lefty adalah seorang guru honor di salah satu sekolah swasta. Kurikulum K-13, yang banyak tetek bengeknya membuat ia lebih banyak fokus pada urusan adimistrasi ketimbang mengajar dan mendidik. Ilmu didaktik menjadi tak berlaku sebagaimana mestinya.

Tuntutan menjadi guru amat berat. Selain mengajar juga memperhatikan adimistrasi yang kerap membuat para guru harus berjuang keras demi hal ini. Tragisnya, gaji sebagai guru honor tidak seberapa.

Baca: Beny Mauko, S.Pd, M.Hum : Harus Keluar dari Zona Nyaman

"Bagaimana saya bisa hidup pak dari gaji sekecil ini dengan adimistrasi serumit itu, " ungkap Ibu Lefty ketika ditanya oleh kepala Dinas PPO di sekolahnya.
"Begini bu, mengabdilah dahulu nanti pasti ada hikmah dibalik semua itu, " ujar Pak Bustanto dengan kelakarnya.

Halaman
123
Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved