Berita Tamu Kita

Beny Mauko, S.Pd, M.Hum : Harus Keluar dari Zona Nyaman

Guru harus kreatif dan inovatif sehingga menghasilkan siswa yang kreatif dan inovatif pula.Harus berani keluar dari zona nyaman.

Beny Mauko, S.Pd, M.Hum : Harus Keluar dari Zona Nyaman
ist

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Apolonia Matilde Dhiu

POS-KUPANG.COM|KUPANG - Mengikuti ajang lomba Kepala SMP Berprestasi Tingkat Nasional tahun 2018 di Jakarta yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI memberikan banyak catatan bagi dirinya.

Banyak hal yang harus dilakukan di sekolah untuk menciptakan mutu pendidikan. Semua komponen pendidikan, baik kepala sekolah, guru, pegawai, siswa, orangtua dan masyarakat harus bersama-sama bergandengan tangan untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Guru harus kreatif dan inovatif sehingga menghasilkan siswa yang kreatif dan inovatif pula. Sekolah tidak bisa bediam diri hanya melakukan tugas pokok yakni Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

Baca: Tangis Haru Warnai Kepulangan Peserta Asian Para Games 2018

Inilah yang akan dilakukan Kepala SMP Negeri 16 Kupang, Beny Mauko, S.Pd, M.Hum, finalis Kepala SMP Berprestasi Tingkat Nasional tahun 2018. Apa saja yang dilakukan sehingga menjadi Kepala SMP Berpretasi dan strategi apa yang dilakukan di sekolahnya. Ikuti wawancara Wartawati Pos Kupang, Apolonia Matilde Dhiu di sekolah tersebut belum lama ini.

Proficiat. Anda masuk finalis Kepala SMP Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2018. Bisa diceritakan bagaimana Anda mengikuti ajang bergengsi tersebut?
Terima kasih. Awalnya saya mengikuti lomba Kepala SMP Berpretasi tingkat Kota Kupang dan saya menjadi juara I. Saya akhirnya lanjut ke tingkat provinsi dan juara juga. Dan, saya dipilih mewakili Provinsi NTT ke Jakarta.

Apa yang Anda lakukan di tingkat nasional? Adakah perasaan canggung karena harus bersaing dengan guru dari seluruh Indonesia?
Kalau soal canggung sebenarnya tidak. Prinsipnya, saya ke sana mau belajar dari banyak orang, seperti apa tingkat kreativitas mereka, prestasi mereka seperti apa. Saya tetap tampil percaya diri. Saya mempresentasikan apa yang sudah saya lakukan di sekolah selama masa kepemimpinan saya, untuk menginspirasi yang lain. Yang saya sesali adalah panitia nasional menerapkan penilaian yang sama antara Indonesia Barat sampai Timur. Seharusnya bobotnya dibedakan. Kalau saya berada di sekolah dengan kondisi karang dan tanah putih, masih bisa lakukan sesuatu, seharusnya nilai apresiasinya lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain.
Tapi karena mereka sampaikan seorang pemimpin harus berpikir cepat, dan jujur saya kalah di portofolio sekolah. Dalam ajang lomba kepala sekolah berprestasi itu mereka lihat dari program inovasi yang saya buat di sekolah.

Apa saja inovasi yang Anda lakukan di SMP Negeri 16 sehingga terpilih menjadi Kepala SMP Berprestasi tingkat nasional?
Di SMP Negeri 16 selama masa kepemimpinan kurang lebih empat tahun, saya mengembangkan program 'Aku Bisa', yakni aktif, kreatif, unggul, bersih, indah, sehat dan aman. Program inovasi tersebut dibagi dalam beberapa kegiatan, pertama, zona belajar. SMP Negeri 16 Kupang menerapkan zona belajar khusus kelas IX, kelas persiapan menuju Ujian Nasional (UN). Seluruh siswa kelas IX dipetakan berdasarkan tempat tinggal, dan dan mengelompokkan mereka ke dalam kelompok belajar. Saya mengundang orangtua, untuk bekerja sama menentukan satu rumah sebagai tempat belajar siswa, dan orang tua di rumah tersebut yang menjadi penanggung jawab kegiatan belajar.
Tugas kepala sekolah dan guru pembimbing adalah setiap hari mengelilingi kelompok-kelompok belajar tersebut untuk memastikan anak-anak benar belajar atau tidak. Saya akhirnya bisa tahu kondisi anak dan orang tuanya dengan kunjungan rumah tersebut. Materi belajar dipersiapkan oleh guru, dan sekolah mendistribusikan buku-buku dan soal-saol pengayaan.
Kedua, Learning With Native Speaker untuk bahasa Inggris. Tercatat sudah dua kali tamu dari luar negeri menyambangi SMP Negeri 16, menginspirasi para siswa tentang bahasa Inggris. Salah satunya dari Amerika yang mengikuti pertukaran pelajar ke NTT. Ketika pulang ke negaranya, dia mengunggah foto kegiatan SMP Negeri 16 melalui akun medsosnya dan sampai saat ini kami berteman di medsos.
Ketiga, Gebyar Pembagian Raport, dan semua karya seni siswa dipamerkan, apresiasi kepada siswa berprestasi. Pada gebyar ini juga diselipi dengan Pasar Murah yang bekerja sama dengan para distributor sembako di Kota Kupang.
Setiap tahun gebyar diselenggarakan dengan tema yang berbeda. Gebyar ini menyedot perhatian orangtua dan banyak orangtua yang datang ke sekolah, dibandingkan dengan sebelumnya saat penerimaan raport banyak yang mewakili orangtua. Padahal, ada hal-hal penting yang disampaikan kepada orang tua terkait perkembangan anak dan perkembangan sekolah.
Selain itu, kami mendukung program Wali Kota Kupang tekait lingkungan hidup yaitu penghijauan, sehingga bekerjasama dengan Dinas Kehutanan Provinsi mendatangkan anakan ke sekolah. Anakan ini dibagi kepada orangtua saat penerimaan raport untuk ditanam di rumah masing-masing.
Ada pula ceramah pendidikan anak dari sisi teologis yang disampaikan oleh Pendeta Yan Manobe. Program inovasi lainnya adalah gerakan literasi sekolah, dan para siswa menulis dikirim ke Tempo. Hasil karya siswa berupa puisi dan cerpen akan dibukukan. Selain itu, sanggar seni sekolah untuk memberi ruang kepada siswa berekspresi. Dan, sanggar seni ini menjadi brand SMP Negeri 16 Kupang. Saya sengaja menggarap total sanggar ini karena memang kalau dari segi akademik tidak mungkin bersaing dengan sekolah lainnya. Sekolah kami selalu diundang untuk penyambutan tamu kedinasan dan sebagainya.

Baca: WhatsApp Bakal Lakukan Pembaruan, Yuk Back Up Datamu Agar Tak Lenyap, Begini Caranya

Ada pelajaran yang Anda petik dari para kepala sekolah lainnya yang mengikuti ajang Kepala SMP Berpretasi Tingkat Nasional?
Andaikan ada ruang yang dibukakan untuk saya membagikan pengalaman, berbagi inspirasi pasti saya berikan. Saat ini, mau tidak mau kepala sekolah harus melek IT. Salah besar kalau seorang kepala sekolah tidak tahu IT. Prinsipnya seorang pemimpin harus cepat berpikir, cepat bertindak saat dihadapkan dengan sebuah persoalan, dan mengambil solusi yang inovatif dan kreatif. Yang saya petik dari lomba tersebut adalah bukan zamannya lagi kita duduk dan membangun karya dari apa yang ada, tetapi kita harus punya cara berpikir yang lebih, cara bertindak yang lebih dengan memberikan sentuhan-sentuhan inovasi, sentuhan kreativitas dalam layanan pendidikan. Tidak bisa tidak, harga mati. Bukan zamannya lagi duduk di belakang meja yang formal, tetapi kepala sekolah harus keluar dari zona nyamannya, untuk berada di tengah peserta didik dan masyarakat.
Kalau kepala sekolah hanya duduk di belakang meja, perintah guru, tidak bisa, harus benar-benar berdiri di depan dan menjadi penuntun bagi guru, di tengah dan di belakang untuk memotivasi. Jadi prinsip Tut Wuri Handayani, Ing Madya Mangun Karso harus dijalankan.

Berapa kali Anda mengikuti lomba Guru atau Kepala SMP Berpretasi?
Ya, saya memang baru pertama kali mengikut lomba, dan langsung tembus sampai tingkat nasional. Mungkin karena saya aktivis saat di kampus, terlibat di organisasi-organisasi, baik intra kampus maupun ekstra, dan saya suka membaca berbagai sumber buku. Mungkin juga karena saya termasuk kepala sekolah dengan usia muda sehingga jiwa mudanya masih berkelana.

Halaman
12
Penulis: Apolonia M Dhiu
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved