Berita Ekonomi Bisnis

Hadapi Era Digital, Kemnaker Punya 3 Strategi Kuatkan SDM Indonesia

Memasuki era ekonomi digital pemanfaatan dan penguasaan teknologi merupakan salah satu indikator kemajuan negara yang memiliki SDM yang kuat.

Hadapi Era Digital, Kemnaker Punya 3 Strategi Kuatkan SDM Indonesia
KOMPAS.com/DOK Humas Kementerian Ketenagakerjaan RI
Plt. Irjen Kemnaker, Estiarty Haryani dalam sambutannya mewakili Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), M. Hanif Dhakiri pada seminar Navigating Indonesia Program di Hotel Mulia, Jakarta, Sabtu (13/10/2018). 

POS-KUPANG.COM - Memasuki era ekonomi digital pemanfaatan dan penguasaan teknologi merupakan salah satu indikator kemajuan negara yang memiliki sumber daya manusia (SDM) yang kuat.

Untuk memperkuat SDM Indonesia di era digital, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengambil sejumlah langkah strategis.

"Ada tiga hal yang perlu dilakukan penguatan terhadap SDM Indonesia di era digitalisasi ini yaitu penguatan kompetensi, penguatan dan konsisten terhadap nilai dan budaya bangsa, dan jangan pernah lelah mencintai Indonesia," kata Plt. Irjen Kemnaker, Estiarty Haryani, dalam rilis yang Kompas.com terima, Sabtu (13/10/2018).

Baca: Peserta Pertemuan IMF-Bank Dunia Melonjak, Pertumbuhan Ekonomi Bali Makin Tinggi

Estiarty Haryani mengatakan itu dalam sambutannya mewakili Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri dalam seminar "Navigating Indonesia Program" di Hotel Mulia, Jakarta di hari yang sama pula.

Lebih lanjut, dalam sambutan itu Menaker Hanif mengatakan, strategi pertama peningkatan kompetensi SDM dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan.

Baca: Acha, Miss Indonesia 2016 Curhat Rahasia di Balik Kesuksesannya

Untuk itu, orientasi program serta kurikulum pendidikan dan pelatihan vokasi harus diubah. Tujuannya supaya bisa menghasilkan lulusan yang memiliki kompetens sebagai entrepreneur society atau employee competent berbasis teknologi informasi.

"Lembaga-lembaga vokasi, harus adaptif terhadap perubahan dunia kerja dengan melakukan perubahan "lompatan-lompatan" kurikulum yang sesuai dengan kondisi saat ini," kata Hanif.

Strategi kedua adalah dengan penguatan nilai-nilai yang bersumber dari ajaran agama dan keanekaragaman budaya yang merupakan identitas nasional atau kepribadian bangsa.

Nilai tersebut harus menjadi dasar perilaku setiap individu dalam upaya membangun bangsa dan negara.

"Perilaku yang bersumber dari nilai-nilai dan budaya harus tetap dikedepankan, karena jika tidak justru era digital akan membuat kemunduran pada diri manusia yang berbudi luhur," kata Hanif.

Strategi ketiga adalah menguatkan rasa cinta setiap warga negara kepada bangsa dan negaranya dengan segala aspek keberagaman di Indonesia.

Sikap kecintaan terhadap Indonesia dapat dicerminkan melalui penggunaan bahasa dan tutur kata, penggunaan produk dalam negeri, dan lebih menonjolkan kepribadian bangsa Indonesia.

"Saya yakin dengan ke-3 hal yang tersebut, akan mengantarkan SDM atau tenaga kerja Indonesia memiliki daya saing (competitiveness) yang kuat dan menghantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat," pungkas Hanif. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved