OMK Naesleu Kefamenanu Tampil di Ragam Indonesia Trans7

TAMPILAN Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Naesleu, Kefamenanu, mengundang decak kagum. Ekspresi di media massa kembali dirilis.

OMK Naesleu Kefamenanu Tampil di Ragam Indonesia Trans7
ISTIMEWA
Salah satu aksi OMK Naeleu-Kefamenanu saat pengambilan gambar. 

TAMPILAN Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Naesleu, Kefamenanu, mengundang decak kagum. Ekspresi di media massa kembali dirilis.

Selain produksi film pendek, kini mulai merambah suasana baru. Kerja sama apik yang dirajut bersama tim dari stasiun televisi nasional, Trans7, dalam program Ragam Indonesia, (Selasa-Rabu, 9-10/10/2018) menjadi kebanggaan tersendiri yang patut diapresiasi.

Keterlibatan dalam program Trans7 menjadi kesempatan emas bagi para pemeran. Ermelinda Aludia Naiteas dan Igniosa Melu Guta merasakannya sebagai satu kehormatan besar.

Tidak disangka mereka bisa dilibatkan dalam program Ragam Indonesia. Igni Guta tak henti-hentinya berterima kasih karena sudah dipercayakan dalam acara Ragam Indonesia.

Lokasi shooting cukup menantang. Harus berjemur diri di bawah terik matahari, tidak menyurutkan semangat dalam melakoninya. "Sangat luar biasa bisa mengambil bagian dan dipercaya untuk shooting di acara televisi nasional Trans7 dalam Ragam Indonesia. Terima kasih karena saya sudah dipercaya untuk memerankannya. Ini awal yang sungguh menantang, namun membanggakan seumur hidup saya," kata Guta dengan mata berkaca-kaca di lokasi shooting. Juga diakui rekannya, Ermelinda, jika bersama Trans7 seakan mimpi menjadi kenyataan.

Beragam jenis liputan Trans7 berkenaan dengan budaya lokal, makanan tradisional serta aktivitas warga yang bersentuhan langsung dengan kearifan lokal menjadi kebanggaan tersendiri. Bukan hanya orang muda yang dilibatkan tapi juga warga lokal.
Pendekatan Kru Trans7 dan warga penuh canda dan berbalut nuansa persaudaraan.

Diakui salah satu Kru Trans7, Affan, jika kesantuan warga di daerah Indonesia Timur, terlebih di daerah perbatasan Belu-Timor Leste, ternyata jauh melenceng dari anggapan orang selama ini.

"Luar biasa saya merasa datang di rumah sendiri. Persaudaraan dan kesantunan sungguh terasa. Kesempatan yang istimewa karena bisa mengenal banyak orang sebagai saudara sendiri," ungkapnya penuh bangga.

Areal liputan Trans7 meliputi beberapa tempat dengan menyusuri kampung-kampung di Kabupaten Belu dan Timor Tengah Utara (TTU). Materi yang diambil sangat variatif dan memberi kesan positif. Salah satunya dengan mengambil produksi ramuan khas daerah, Gama di pantai utara Wini berbatasan langsung dengan Timor Leste, pembuatan Lakutobe, makanan khas warga lokal di Naen-Lu'lu yang terbuat dari ubi kayu serta beragam jenis yang unik, namun enak untuk dikonsumsi.

Eduardus Nonis, warga lokal yang dikunjungi Trans7 dalam liputan sangat senang karena baru pertama kali mengalami langsung liputan media seperti ini. Baginya kunjungan yang sangat berkesan.

Di masa hidupnya, Nonis mengakui jika kehadiran Trans7 memberi motivasi yang luar biasa kepada warga. Apalagi mengangkat topik tentang makanan lokal. "Selama ini masyarakat sebagian besar sudah lupa makanan lokal seperti lakutobe. Justru kehadiran Trans7 mengangkat kembali tradisi lokal yang menjadi kebanggaan kami," ucapnya. (alf)

Penulis: Alfred Dama
Editor: Alfred Dama
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved