Berita Kota Kupang

Politani Negeri Kupang Gelar PKM di Kolhua

Politani Negeri Kupang menggelar Program Kemitraan Masyarakat (PKM) di Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang.

Politani Negeri Kupang Gelar PKM di Kolhua
ISTIMEWA
Kelompok Tani Kaka Palli dan Dael Mesa di Kelurahan Kolhua, Kota Kupang sedang dilatih membuat Anggur dari kulit pisang oleh Tim PKM Politani Negeri Kupang.

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oby Lewanmeru

POS-KUPANG.COM|KUPANG --Politani Negeri Kupang menggelar Program Kemitraan Masyarakat (PKM) di Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang. PKM ini difokuskan pada dua kelompok tani yaitu Kelompok Tani Kaka Palli dan Dael Mesa yang terletak di wilayah RT 28 dan 29/ RW 09.

‎Salah satu Tim pelaksana kegiatan PKM di Kelurahan Kolhua , Nova D. Lussy, SP., M.Sc menyampaikan hal ini kepada POS-KUPANG.COM, Kamis (11/10/2018).

Selain Nova, dalam program ini, ada tim pelaksana lainnya, yakni Marthen Saubaki Y. Saubaki, STP., M.Sc dan Ir. Eko H. A. Juwaningsih, M.Si. Mereka dibantu oleh teknisi, mahasiswa, dan Siswa SMK yang sedang magang di Politani Negeri Kupang‎.

Menurut Nova, PKM rupakan suatu bentuk pelaksanaan dari Tridharma Perguruan Tinggi khususnya bidang pengabdian pada masyarakat. Kegiatan PKM yang dilaksanakan di Kelurahan Kolhua difokuskan pada dua kelompok tani yaitu Kelompok Tani Kaka Palli dan Dael Mesa.

Kelompok Tani Kaka Palli dan Dael Mesa berada di wilayah RT 28 dan 29/ RW 09.

"Dua kelompak tani di Kelurahan ini dibentuk tahun 2011. Kedua kelompok ini merupakan kelompok petani pangan dan hortikultura yang umumnya membudidayakan padi sawah (sawah tadah hujan), jagung, dan sayuran seperti kangkung, sawi, labu, dan buncis. Luasan lahan untuk budidaya sayuran disesuaikan dengan ketersediaan air dan tenaga," kata Nova.

Dijelaskan, sumber air berasal dari bak penampung PDAM dan sungai, sedangkan tenaga kerja hanya berasal dari anggota keluarga. Selain tanaman tersebut,lanjut Nova, juga terdapat pisang dan kelapa yang tumbuh di sekitar pekarangan dan sawah. Pisang biasanya untuk konsumsi sendiri dan ada juga yang dijual sedangkan kelapa digunakan sebagai bahan baku minyak goreng.

"Kelompok Tani Kaka Palli dan Kelompok Tani Dael Mesa mengalami kendala dalam menerima penyebaran IPTEKS untuk kepentingan usahataninya sehingga pengusahaan budidaya tanaman dilakukan sesuai kebiasaan dan keterbatasan pengetahuan yang dimiliki dan berakibat rendahnya produksi tanaman yang diperuntukan bagi konsumsi keluarga," jelasnya.

Baca: Laporan Kasus Korupsi Diprediksi Membludak, Penegak Hukum Harus Siap

Baca: Gempa di Timur Laut Situbondo Merusak Rumah warga Kabupaten Jembrana

Baca: Caleg Hanura Siap Amankan Target Kursi DPRD

Baca: Ruas Jalan Menuju Terminal Ndao,Ende Mulai Diperlebar

Baca: Gempa M 6,4 di Timur Laut Situbondo, Warga Sumenep Paling Terdampak

Dikatakan, serapan teknologi untuk kegiatan budidaya sangat minim berdampak pada kurang informasi dan keterbatasan sarana yang dimiliki. Karena itu, menurut Nova,‎pada usaha budidaya tanaman, kelompok tani tersebut selalu menggunakan produk kimia (pupuk dan pestisida) dan ditambah dengan perlakuan tanah dan tanaman yang kurang ramah lingkungan bahkan cenderung merusak kesuburan tanah dalam jangka panjang.

"Hal ini terlihat dari tindakan pembakaran limbah pertanian (jerami padi) di lahan, kurangnya pemanfaatan limbah ternak yang dipelihara, tidak adanya penggunaan bahan organik (pupuk organik) dalam usahatani dan tidak dilakukannya penanganan atau daur ulang limbah pertanian," ujarnya.

Alumni Fakultas Pertanian Undana ini mengatakan, tindakan tersebut dikarenakan petani belum mengetahui bagaimana memanfaatkan limbah pertanian sehingga berdampak pada penurunan kesuburan tanah dan produktivitas lahan yang akhirnya mempengaruhi produksi tanaman yang diusahakan.

"Hasil wawancara kami dengan kaum wanita di dua kelompok tani itu pada Mei 2017 lalu, mereka mengharapkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam mengolah limbah yang dapat dimanfaatkan selain untuk pertanaman, juga untuk pengolahan limbah hasil usahatani, seperti pengolahan limbah air kelapa menjadi nata de coco dan limbah kulit pisang menjadi kerupuk dan keripik dari kulit pisang yang belum pernah didapatkan dan dapat berdampak pada kesejahteraan kehidupan mereka," kata Nova.

Dengan melihat permasalahan yang ada, menurut Nova, maka kegiatan PKM difokuskan pada pemanfaatan limbah pertanian dan sumber daya alam yang dimiliki petani Kelurahan Kolhua untuk dijadikan sebagai bahan pupuk dan pestisida nabati kemudian diaplikasikan ke budidaya tanamannya sehingga petani tidak selalu bergantung pada pupuk dan pestisida kimia. Selain itu, juga dibuat nata de coco, krupuk dan anggur dari kulit pisang.

" Untuk mencapai maksud tersebut maka dilakukan metode pendekatan, berupa: penyuluhan, demplot, rancang bangun, model budidaya tanaman, dan pendampingan," ujarnya.(*)

Penulis: Oby Lewanmeru
Editor: Rosalina Woso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved