Berita NTT Terkini

Romo Paschal Akui Gereja di Batam Sangat Peduli Korban TKI

Acara "Konferensi Komunitas Untuk Migrasi, Tenaga Kerja dan Perdagangan Orang" digelar di Aula Kominfo Provinsi NTT, Kota Kupang

Romo Paschal Akui Gereja di Batam Sangat Peduli Korban TKI
POS-KUPANG.COM/Ambuga Lamawuran
Romo Chrisanctus Paschalis Saturnus dari Batam sewaktu menghadiri diskusi bertemakan TKI di Aula Kominfo Provinsi NTT, Kota Kupang, Selasa (9/10/2018) 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ambuga Lamawuran

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Acara "Konferensi Komunitas Untuk Migrasi, Tenaga Kerja dan Perdagangan Orang" digelar di Aula Kominfo Provinsi NTT, Kota Kupang, NTT, Selasa (9/10/2018).

Dalam momen ini, hadir juga Pastor Chrisanctus Paschalis Saturnus dari Kota Batam.

Romo Paschal, sapaan akrab Pastor Chrisanctus Paschalis Saturnus, bercerita banyak hal tentang kasus dan proses penanganan para korban TKI di Kota Batam. Dia akui, gereja di Kota Batam sangat peduli dengan para korban humman trafficking.

Baca: Dinas Kominfo Malaka Ikut Kegiatan SPBE di Kupang

"Di Batam, ada komisi yang namanya KKP PMP (Komisi Karya Perdamaian Pastoral Migran Perantau) yang khusus menangani buruh dan migran," ujar Romo Paschal kepada POS-KUPANG.COM, Senin (9/10/2018).

Karya-karya penyelamatan yang dilakukan pihak gereja di Batam, kisah Romo Paschal, berlangsung sejak tahun 1975.

Baca: DPC PKB Ende Hargai Proses Hukum Abidin

"Kami awalnya terlibat karena ada pengungsi dari Vietnam. Hanya waktu itu belum dalam komisi," kisahnya.

KKP PMP ini baru dibentuk sejak tahun 2000. Komisi itu tetap berserikat dan berkarya sampai saat ini.

"Yang kita buat adalah mendirikan shelter, semacam tempat pendamping para korban. Kita temukan korban trafficking, kita balikan psikologinya, kita pulihkan keadaan rohaninya," katanya.

Shelter, menurut Romo Paschal, merupakan rumah singgah bagi para korban human trafficking, semacam tempat penyelamatan bagi para korban kemanusiaan tersebut.

Intinya, lanjutnya, gereja di Kota Batam sangat peduli dan membantu para korban migran yang terjadi di Batam dan sekitarnya.

Dalam konteks ini, gereja tidak terlibat secara praktis, namun berupaya untuk mempengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintah untuk memihak orang-orang lemah.

"Kita bisa kerja sama dengan lembaga-lembaga lain, pemerintah, dan berbagai pihak lainnya. Kita tidak hanya menolong korban, tapi soal keadilan yang harusnya dia miliki, kita perjuangkan," ujarnya. (*)

Penulis: PosKupang
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved