Opini Pos Kupang

Ke NTT Akan Kukembali, Rumahku Liang Lahat

Bumi gersang ini seolah menjadi liang lahat raksasa yang begitu rakus melahap jenazah anak tanahnya sendiri.

Ke NTT Akan Kukembali, Rumahku Liang Lahat
POS KUPANG
Suasana penjemputan jenazah Herman Flan, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal NTT tepatnya dusun Wolofeo Desa Nualise, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende, Jumad (1/6/2018) siang. 

Oleh Marsel Robot
Dosen dan Kepala Pusat Studi Budaya dan Pariwisata LP2M Undana

POS-KUPANG.COM - Masih terlihat bercak keringat di testa yang belum disekah sehabis pelantikan menjadi Gubernur Nusa Tenggara Timur (di Istana Negara, Rabu 5 September 2018 lalu), Viktor Bungutilu Laiskodat, mewanti tegas, "kembalikan TKI (Tenaga Kerja Indonesia) ke NTT.

Akan dibuatkan moratorium (penundaan atau penghentian sementara) pengiriman TKI ke luar negeri".

Wantian ini tentu bukan sekadar orkestra politik ketika memasuki gedung Sasando (baca: kantor gubernur) yang begitu pengap bau apek korupsi, melainkan rasa iba tak tertahankan terhadap nasib TKI asal NTT yang pergi ke luar negeri dengan doa ranum, pulang dengan lagu requiem, pergi dengan selendang, pulang dengan kafan.

Bumi gersang ini seolah menjadi liang lahat raksasa yang begitu rakus melahap jenazah anak tanahnya sendiri.

Mata hati Gubernur Laiskodat setajam mata elang menangkap fenomena krusial yang terkesan tak pernah kelar diurus oleh pemerintah provinsi ini. Ada rasa pilu dan mungkin malu sekaligus ketika melihat kondisi masyarakat NTT yang belum beranjak "naik kelas" dari kelas mempertahankan hidup ke kelas meningkatkan taraf hidup.

Pemerintah terkesan tak tulus mengurus TKI. Lantas urusan "kampung tengah" (urusan perut ini) harus mengekspor manusia keluar negeri. Apakah negeri sendiri terlalu ngeri sehingga kita ke negeri lain yang justru lebih ngeri?

Mungkin, keadaan itu pula yang menginspirasi Viktor Laiskodat terus mengguyurkan semboyannya "NTT bangkit, NTT sejahtera". NTT terasa lelap dalam kemiskinan, atau sengaja dilelapkan agar tidak merasa miskin. Tentu, terlalu banyak ceritera derita TKI yang didengar oleh Gubernur Laiskodat.

Semboyan "kembalikan TKI", semacam pernyataan bernada sionistik (pulang kampung ala Yahudi) atau semacam gerakan bale nagi (bahasa Flores Timur), kole beo (bahasa Manggarai), fan on kuan (bahasa Dawan).

Tentu berbeda, gerakan sionisme Yahudi teramat dahsyat dan mempengaruhi dunia. Sebab, mereka yang merantau adalah orang-orang cemerlang (benih unggul yang hidup di mana dan pada musim apa saja). Mereka menjadi "empu" di manapun mereka berada.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved