Berita Kota Kupang Terkini

Untuk Bertahan Hidup, Sebagian Imigran di Kota Kupang Memilih Cara Ini

Meski ada kendala bahasa, interaksi imigran dengan warga sekitar lokasi penampungan imigran berlangung baik.

Untuk Bertahan Hidup, Sebagian Imigran di Kota Kupang Memilih Cara Ini
ISTIMEWA
Para imigran dalam satu kesempatan tatap muka dengan petugas Rudenim Kupang. 

POS-KUPANG.COM, KUPANG -- Sudah lima tahun sebanyak 317 imigran berada di Kota Kupang. Enam di antaranya berstatus pencari suaka. Imigran tersebar di empat lokasi penampungan yaitu Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim), Hotel Ina Bo'i, Hotel Lavender dan Hotel Kupang Inn. Untuk bertahan hidup, mereka menjual makanan dan minuman yang diperoleh kepada warga.

Meski ada kendala bahasa, interaksi imigran dengan warga sekitar lokasi penampungan imigran berlangung baik. Belum pernah sekalipun terjadi keributan antara imigran dengan warga. Hal yang kerap terjadi, imigran menjual makanan dan minuman kepada warga setempat.

Ketua RT 02 RW 01 Kelurahan Kayu Putih, Febri Sinlae mengungkapkan hal ini saat ditemui di kediamannya, Sabtu (6/10/2018). Salah satu lokasi penampungan imigran, Hotel Kupang Inn berada di Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Oebobo.

Febri Sinlae menjelaskan hubungan para imigran dengan masyarakat cenderung baik dan aman meskipun ada kendala bahasa. Sebaliknya, keributan justru terjadi antarimigran di Hotel Kupang Inn. "Kemarin kan ada kasus perkelahian antara mereka yang ada di dalam," katanya.

Ia mencatat, sudah empat kali terjadi perkelahian antarimigran yang ditampung di Hotel Kupang Inn. Akibat perkelahian itu, beberapa imigran harus dipindahkan ke Rudenim. "Kita juga merasa prihatin karena perkelahian itu. Kadang-kadang sampai ada orang yang datang nonton perkelahian mereka. Dampaknya secara tidak langsung juga ke kita," ujarnya.

Febri Sinlae mengungkapkan, beberapa imigran juga kadangkala menjual makanan dan minuman yang didapat di tempat penampungan kepada warga sekitar untuk mendapatkan uang. "Kelebihan makanan dan minuman di tempat penampungan itulah yang dimanfaatkan untuk dijual kepada masyarakat," ujarnya.

Ketua RT 20 RW 29 Kelurahan Kelapa Lima, Kornelis Ga juga mengatakan, interaksi warganya dengan para imigran yang tinggal di Hotel Ina Bo'i relatif baik dan tanpa masalah. Sejauh ini, tak ada masalah yang dibuat para imigran yang bisa mengganggu ketertiban masyarakat.

"Dong (mereka) sonde (tidak) pernah buat masalah," kata Kornelis dengan dialek Kupang saat ditemui di kediamannya, Sabtu (6/10/2018). Kornelis belum pernah menerima aduan masyarakat terkait keberadaan imigran yang ditampung di Hotel Ina Bo'i. Ia prihatin dengan para imigran yang tinggal di penampungan. "Mereka juga kan manusia, jadi kita tidak mungkin terlalu keras pada mereka," ujarnya.

Ia mengakui, dalam keseharian para migran seringkali menjual makanan dan minuman kepada warga sekitar untuk mendapatkan uang. Menurut Kornelis, makanan-makanan yang dijual merupakan kelebihan makanan yang didapat dari IOM, lembaga PBB yang mengurus kebutuhan mereka.

Warga RT 27 Kelurahan Kelapa Lima, Andre Witak mengatakan keberadaan imigran tidak meresahkan warga. Ia berharap pemerintah serta pihak yang terkait perlu mengadakan sosialisasi tentang keberadaan dan status imigran hingga saat ini.

Halaman
123
Penulis: Ricardus Wawo
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved