Berita Imajinasi

Ini Cerpen Pos Kupang Minggu Ini! Kembalikan Tanah Kami : Cerpen Petrus Nandi

Begitulah persisnya keluhan Tasya, anakku, yang merasa sedih melihat binar mentari pagi hari ini tenggelam dalam kepulan awan tebal.

Ini Cerpen Pos Kupang Minggu Ini! Kembalikan Tanah Kami : Cerpen Petrus Nandi
ils

"Kembalikan tanah kami....! Kembalikan tanah kami....! Kembalikan tanah kami....! Hentikan kebohongan ini. Pabrik itu tidak berguna... lebih baik kami mencari sendiri makanan dengan menggarap tanah kami.. Kami mau tanah kami dikembalikan sekarang juga!"

Seketika itu kudengar suara protes sebagian warga kampung di depan rumah pak Tamin, ketua RT di kampung ini. Ternyata mereka adalah orang-orang yang secara terpaksa merelakan tanah ulayatnya kepada tuan asing sepuluh tahun lalu, sama seperti nasib suamiku.

Mereka begitu lantang menyuarakan rasa tidak puasnya terhadap kehadiran pabrik milik orang asing yang tidak menjanjikan itu dan sikap pemerintah yang seakan bodoh dan tidak tahu apa-apa tentang hukum lantas hanya berdiam diri di atas penderitaan warga.

Aku melihat ibu Theresia, wanita yang menenangkanku pada peristiwa penembakan suamiku, begitu aktif bersuara.
Aku coba untuk tenang dan memilih untuk membisu di balik kaca jendela rumah sambil menyaksikan aksi mereka. Aku sengaja melakukan ini. Kepingan-kepingan memori akan detik-detik terakhir kematian tragis suamiku membisik jiwaku untuk tidak banyak bertindak, apalagi membuat pemerintah tersinggung.
Sebab, di ujung kemarahan ada pedang dan pentungan pistol yang meredamnya. Aku lebih mencintai Tasya dan menyaksikannya tumbuh dewasa dan hidup mandiri daripada mati tertembak hari ini.

Kurang lebih dua puluh menit kemudian, pemandangan seketika berubah total tatkala dua buah mobil mewah memasuki kampung dan berhenti persis di hadapan para pendemo.

Baca: Martin Sebut Untuk Capai Target 100 % Imunisasi Perlu Kerjasama Lintas Sektor

"Oh Tuhan, tolonglah kami." Sepenggal doa melonjak dari hatiku yang kian risau ketika kulihat Pak Rustan, Pak Fadli dan Ibu Theresia yang mengkoordinasi aksi demo tertangkap. Bayangan akan hal buruk yang akan menimpa mereka nantinya melelapkanku dalam lamunan yang singkat. Dan sekejap saja barisan para pendemo terpaksa mundur.

Mereka kalah lagi hari ini. Sama halnya dengan kekalahan mereka sebelumnya. Satu jam kemudian, beredar kabar bahwa pemilik pabrik, atas dasar kesepakatan resmi dalam kontrak, mencabut hak atas uang jaminan dari pabrik untuk semua anggota barisan pendemo.

Sementara ibu Theresia dan kawan-kawannya didenda dengan angka yang cukup besar.
Peristiwa yang terjadi minggu ini seakan menegaskan bahwa investor asing yang bersembunyi di balik hukum positif pemerintah, dan pemerintah yang perutnya semakin membuncit lantaran kebanyakan makan uang sogokan investor merupakan dua kekuatan yang tak terkalahkan.

Apalagi, musuh yang dihadapinya tidak lebih dari rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa. Bodoh. Dungu.
Sepuluh tahun sudah pabrik itu telah berdiri kokoh di atas tanah kami. Dan selama sepuluh tahun pula kami menderita, bukan hanya karena sedih melihat nasib tanah kami dikuasai oleh orang asing, tetapi juga oleh menurunnya taraf hidup setiap keluarga lantaran hanya bertumpu pada uang jaminan dari pabrik yang besarnya tidak cukup untuk membiayai kebutuhan harian.

Kami tidak cukup berbeda dengan bayi yang selalu menunggu disuapi makanan. Kami tidak berdaya. Tidak ada lagi tempat untuk menabur dan memetik rezeki. Tidak lagi ada tanah bagi para petani untuk bekerja seharian dan sedikit mencuri waktu di siang hari untuk bercengkerama perihal makna hidup dengan teman seperjuangan di kebun.

Baca: Jalan Menuju Obyek Wisata Ratenggaro, Sumba Barat Daya Rusak

Halaman
123
Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved