Berita Imajinasi

Ini Cerpen Pos Kupang Minggu Ini! Kembalikan Tanah Kami : Cerpen Petrus Nandi

Begitulah persisnya keluhan Tasya, anakku, yang merasa sedih melihat binar mentari pagi hari ini tenggelam dalam kepulan awan tebal.

Ini Cerpen Pos Kupang Minggu Ini! Kembalikan Tanah Kami : Cerpen Petrus Nandi
ils

"PAGIKU kini tak secerah hari kemarin. Aku merasa sebal bunda, aku tidak dapat membayangkan betapa buramnya bumi hari ini jika tidak ada matahari."
Begitulah persisnya keluhan Tasya, anakku, yang merasa sedih melihat binar mentari pagi hari ini tenggelam dalam kepulan awan tebal.

"Matahari sedang dicuri awan yang berkokoh sepanjang langit melebar, nak. Itulah awan. Suka sekali dia menelan sendirian binar mentari itu. Padahal, petani desa punya jatah cahaya mentari untuk mengeringkan padi panenan mereka dan bunga-bunga yang kamu tanam di halaman rumah minggu lalu yang nyaris layu butuh cahaya matahari untuk hidup." Kutimpali keluhannya dengan tenang.

"Ia bun, awan itu seperti kaum elit negeri ini yang suka merebut hak kaum kecil dan pinggiran. Koruptor yang mencuri uang rakyat, juragan tambang yang suka mengeruk tanah petani miskin hanya untuk mengisi perut mereka sendiri. Ia kan bunda?" Serentak aku tertegun setelah mendengar kata-kata sindirannya.

Baca: SMA Negeri Biboki Anleu Terapkan Budaya Literasi! Ini Tujuannya

Aku tak sedikitpun membayangkan anakku bisa selugas ini berbicara seperti itu. Entah sejak kapan ia mengawali masanya untuk berpikir kritis. Mungkin guru di Sekolah Dasar yang mengajarkannya.

Sembari menuangkan teh pada cangkirnya, kuanggukkan kepala, pertanda aku setuju padanya. Bukan dengan kata. Aku yakin dia sudah mengerti banyak hal, juga mengenai bahasa tubuh. Dugaanku benar. Ia tak lagi berbicara apa-apa. Yang pasti ia puas karena aku mengamini ungkapan kekecewaannya terhadap perilaku kaum elit negeri ini.

Syukurlah, pembicaraannya tidak panjang lebar sehingga aku tidak perlu bingung menghadapi buah-buah pemikiran kritisnya. Meski demikian, percakapan singkat ini membuka tirai masa lalu yang menyakitkan, masa di mana aku dan kaum kerabatku pernah dianggap tidak ada dan hampir "ditiadakan" dari lembaran sejarah. Oleh mereka yang menamai dirinya penguasa di negeri ini.

Mentari kian mengayunkan langkahnya. Persis 30 menit kemudian kudapati diriku sedang tenggelam dalam lautan dendam atas masa lalu.
Tasya sudah sedari tadi ke sekolah, dan kata-kata protesnya terhadap kaum elit negeri ini telah menyisakan kesesakan bagiku. Bukan tanpa alasan. Aku seakan digiring kembali pada masa lalu, di mana dunia tidak berpihak padaku dan kaum kerabatku.

Jantungku berdenyut kencang. Hatiku sedang bergejolak dan bersungut pada takdir. Gejala biasa. Sudah sepuluh tahun aku protes terhadap waktu yang memangkas perjumpaan antara aku dan kebahagiaan, di mana aku bisa menyaksikan anakku bermain-main, bermanja mesra bersama ayahnya pada pagi dan malam hari.
Suamiku telah meninggal dalam peristiwa penembakan di perkebunan tebu milik kami sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu, ia terlalu agresif melancarkan protes sekaligus pukulan secara fisik terhadap salah seorang pegawai pemerintahan yang menjual lahan perkebunan tebu warisan orang tuanya kepada seorang investor kaya dari luar negeri.

Baca: Seperti di Bawa ke Nirwana, Ini Pengakuan Seorang Wanita yang Hidup Kembali Setelah Sempat Mat

Aku sendiri yang menyaksikannya. Untunglah, aku tidak ikut memberontak. Waktu itu, jiwaku masih terikat dengan tradisi di kampung yang mewajibkanku sebagai perempuan untuk bungkam di atas kekerasan dan pembunuhan itu. Itulah yang menyelamatkan nyawahku, hingga kini aku masih berkesempatan untuk menikmati hidup lebih lama lagi.

Tuhan lebih mencintai Tasya, anakku yang semata wayang ini ketimbang suamiku yang mati terkapar direnggut peluru pada peristiwa pembunuhan kala itu. Tuhan mengisinkan aku untuk hidup bersama Tasya ketimbang jatuh mati bersama suamiku. Meski demikian, aku tetap merasa trauma dengan masa laluku. Andaikata aku memiliki kesempatan untuk memilih satu dari sekian banyak hal yang indah dan membahagiakan, aku akan memilih untuk menjadi pengatur nasib dan takdir.
Aku akan kembali ke masa lalu dan menghapus semua duka itu dan menata hidupku sedemikan indah biar aku tidak merasa tersiksa seperti yang aku alami kini.

Halaman
123
Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved