Berita Labuan Bajo

Balai Taman Nasional Komodo Melarang Warga Berjualan di Pulau Padar

Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) melarang warga berjualan di Pulau Padar Labuan Bajo dengan alasan penertiban.

Balai Taman Nasional Komodo Melarang Warga Berjualan di Pulau Padar
pos kupang.com, servan mammilianus
Ruslin sedang melayani pembeli kelapa, di Pulau Padar, Sabtu (24/3/2018).

Laporan Wartawan POS--KUPANG.COM, Servatinus Mammilianus

LABUAN BAJO, POS--KUPANG.COM--Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) melarang warga berjualan di Pulau Padar Labuan Bajo dengan alasan penertiban.
Selama ini warga berjualan di tempat itu, terutama kelapa muda.
Kepala BTNK Budhy Kurniawan, membenarkan pelarangan itu saat dikonfirmasi lewat ponselnya, Selasa (2/10/2018).

"Kami melarang berjualan karena di sana sudah ada pos jaga, jadi kami mulai melakukan penertiban," kata Budhy.

Baca: PDAM Janji Suplai Air Bersih saat Kunjungan Tamu IMF ke Hotel di Labuan Bajo

Terpisah, anggota DPDRI asal NTT Andre Garu yang juga mengetahui hal itu meminta BTNK tidak boleh melarang aktivitas jualan dari masyarakat kecil.

"Pariwisata itu prinsipnya menyenangkan dan bisa memberi manfaat langsung kepada masyarakat. Untuk apa melarang warga berjualan, asalkan mereka harus menjaga kebersihan," kata Andre kepada POS--KUPANG.COM hari itu.

BTNK kata dia tidak boleh melarang warga dengan dalil menjaga pelestarian terumbu karang.

Menurutnya masih banyak pola lain yang bisa diterapkan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan ekosistem di tempat itu, bukan dengan melarang warga yang sudah lama berjualan.

Sebelumnya diberitakan, dalam sehari sebanyak 30 sampai 60 buah kelapa yang laku terjual di Pulau Padar.

Ruslin, penjual kelapa di destinasi wisata itu menuturkan, kelapa yang jual di tempat tersebut didatangkan dari Boleng, Komodo dan Rinca.

"Dalam satu hari kelapa yang laku terjual sebanyak 30 buah. Tetapi kalau ramai pengunjung, bisa sampai 60 buah," kata Ruslin saat ditemui di Pulau Padar, Sabtu (24/3/2018).

Per buah, kelapa yang dijual seharga Rp 30 ribu. Sehingga bila 60 buah kelapa yang laku, dia mendapat uang Rp 1.800.000, per hari.

"Sampah kelapa kami tampung di dalam kapal. Dalam seminggu sekali kami hantar sampah itu ke Pulau Komodo. Saat sudah kering baru dibakar, kadang-kadang digunakan untuk bakar ikan," kata Ruslin asal Pulau Komodo itu.

Dia bersama rekan-rekan berjumlah lima orang, berjualan kelapa di tempat itu sejak 2016 lalu. Merekapun inap di pulau itu setiap malam.( *)

Penulis: Servan Mammilianus
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved