Berita Kabupaten Malaka

Heri Kota Sebut Harga Pasaran Bawang Merah di Malaka Masih 10.000 Per Kilogram

Herri Kota mengatakan, harga pasaran bawang merah di Kabupaten Malaka saat ini masih stabil di Rp 10.000 per kilogram.

Heri Kota Sebut Harga Pasaran Bawang Merah di Malaka Masih 10.000 Per Kilogram
POS KUPANG/TENY JENAHAS
Ketua Tim Pakar RPM, DR. Herri Kota

Laporan Reporter POS KUOANG.COM,Teni Jenahas

POS- KUPANG.COM|BETUN--Ketua Tim Pakar Revolusi Pertanian Malaka (RPM) DR. Herri Kota mengatakan, harga pasaran bawang merah di Kabupaten Malaka saat ini masih stabil di Rp 10.000 per kilogram.

Harga bawang belum merangkak naik karena secara nasional produksi bawang tinggi sehingga harga menurun.

"Harga bawang di seluruh Indonesia memang lagi drop. Kita di Malaka masih baik 10.000 ribu. Di NTB turun sampai 4.000 ribu. Terus di Atambua masih Rp 12.000," kata Heri saat dikonfirmasi Pos Kupang.Com, Jumat (21/9/2018). Heri Kota dikonfirmasi terkait keluhan petani terkait peran tim pakar dalam menangani pemasaran komoditi bawang.

Menurut Heri, sesuai grand desain, tim pakar memang mengurus sampai pemasaran namun peran yang lebih besar adalah pemerintah melalui dinas-dinas. Khususnya dinas pedagangan, perindustrian dan koperasi mesti bisa menjaring pasar agar bawang dari Malaka terus dipasarkan keluar daerah.

Menurut Herri, harga bawang merah Rp 10.000 per kilogram itu sudah sesuai harapan. Karena perhitungan matematisnya, satu hektare menghasilkan 10 ton bawang. Jika dikalikan dengan harga Rp 10.000 per kilogram maka mendapat 100 juta. Angka ini sangat besar sekali.

Menurut Herri tim pakar terus melakukan pemantauan harga pasar sambil mendorong pemerintah melalui dinas-dinas agar semua dinas harus bernuansa RPM. Artinya, RPM tidak hanya urusan Dinas Pertanian tetapi semua dinas mengurus RPM dengan peran dan fungsi masing-masing. Peran semua dinas akan membantu menstabilkan harga bawang di Malaka agar tidak anjlok terlalu besar.

Terkait masalah keawetan bawang, Heri mengatakan, tim pakar dan PPL sudah memberikan pelatihan kepada petani bawang khususnya pasca panen. Dalam prosedur tetap RPM, bawang yang disimpan setelah panen bisa bertahan 3-4 bulan sepanjang petani mengikuti atau mentaati prosedur tetapnya.

Ketika harga bawang masih rendah, petani bisa menyimpannya sambil menunggu harga naik. Tetapi jika ada kebutuhan mendesak seperti anak sekolah, biaya kesehatan maka dianjurkan untuk tidak menjual seluruhnya. Petani bisa mensiasati cara penjualan agar di saat harga naik, stok bawang masih tetap ada.

Heri juga mengatakan, sejauh ini, belum ada informasi penumpukan bawang merah bahkan bawang merah busuk karena tidak terjual. Yang terjadi hanya kondisi bawang kempes karena cara penyimpanan bawang yang tidak sesuai protap. Kemudian, penumpukan bawang tidak berarti tidak laku terjual tetapi petani menunggu harga lebih baik. (*)

Penulis: Teni Jenahas
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help