Berita Nasional Terkini

Alissa Wahid Sebut PKB Seret NU ke Politik Praktis

Putri pertama almarhum Abdurrahman Wahid, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid mengkritik Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)

Alissa Wahid Sebut PKB Seret NU ke Politik Praktis
KOMPAS.com/Youtube KOMPAS TV
Alissa Wahid saat mengisi acara Satu Meja yang ditayangkan Kompas TV, Rabu (19/9/2018). 

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - Putri pertama almarhum Abdurrahman Wahid, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid mengkritik Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang dinilainya membawa organisasi Nahdlatul Ulama (NU) ke ranah politik praktis.

Hal itu disampaikan Alissa dalam wawancara khusus di program Satu Meja yang tayang di Kompas TV, Rabu (19/9/2018) malam.

"Kalau menurut saya, iya (PKB membawa NU ke politik praktis). Ya kita tahulah PKB saat ini sedang gencar untuk merasa seperti merepresentasikan NU," ujar Alissa.

Baca: Nomor Urut Capres dan Cawapres Ditetapkan Besok, Polri Imbau Dua Kubu Jaga Ketertiban

Padahal, menurut Alissa, publik harus melihat bahwa NU sebenarnya terdiri dari kelompok struktural dan kelompok kultural. Jumlahnya, tentu lebih besar NU kelompok kultural dibandingkan struktural.

Berdasarkan hasil Pemilihan Legislatif 2014 silam, lanjut Alissa, perolehan suara PKB jelas tak mampu menunjukkan bahwa ia merupakan representasi NU secara organisasi.

Baca: 6 Kementerian/Lembaga Ini Syaratkan TOEFL bagi Pelamar CPNS 2018, Bagaimana dengan Anda?

"Faktanya, kalau berdasarkan riset, NU itu sekitar 60 jutaan di seluruh Indonesia. Sementara angka perolehan PKB kelihatan, di kisaran 9 juta (data KPU pada Pileg 2014: 11.298.957 atau 9,04 persen)," papar Alissa.

"Tidak semua calon pemimpin daerah yang didukung PKB kemudian juga menang, walaupun daerah itu kantong NU. Jadi artinya, kita sendiri melihat bahwa NU tidak sama dengan PKB yang sekarang, PKB yang tahun 2018 ini," lanjut dia.

Alissa berharap struktur Pengurus Besar NU menyadari hal ini dan melakukan pembenahan internal.

Ia berharap NU kembali ke asalnya sebagai organisasi masyarakat Islam yang fokus pada isu peningkatan spiritualitas, sosial dan kesejahteraan masyarakat.

"NU diperjuangkan Gus Dur tahun 1994. Gus Dur dengan kiai-kiai saat itu bersusah payah untuk mendekonstruksi fase perjalanan NU yang dekat, dari bagian gerakan politik praktis, untuk kembali ke khittahnya sebagai organisasi sosial kemasyarakatan," ujar Alissa.

"Kalau sekarang diseret- seret lagi untuk kepentingan elektoral, ini warisan Gus Dur, warisan para kiai yang dipertaruhkan. Apa harga yang dibayar oleh NU?" lanjut dia. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved