Berita Tamu Kita

Benyamin Kanuk : Garam yang Ada Haruslah Digarami

Banyak mengukir prestasi, tetapi Beny, demikian ia disapa tetap rendah hati. Potensi 'garam' dalam dirinya wajib menggarami sesama.

Benyamin Kanuk : Garam yang Ada Haruslah Digarami
ISTIMEWA

BELUM genap dua tahun memimpin Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang sejak dilantik menjadi Kepala Desa Desember 2016, terobosan yang dilakukan Benyamin Kanuk sangat luar biasa.

Prestasi yang diraih sungguh nyata baik di tingkat kabupaten hingga nasional. Keberhasilan memimpin Desa Mata Air inilah mengantar sosok pria kelahiran Desa Hundihuk, Kecamatan Rote Barat diundang ke mana-mana untuk memberikan testimoni mengenai pola yang diterapkan di desa ini.

Walaupun banyak mengukir prestasi, tetapi Beny, demikian ia disapa tetap rendah hati. Baginya potensi 'garam' yang ada di dalam dirinya wajib dia garami ke sesama yang membutuhkan agar tidak dibuang ke laut kembali.

Bagaimana pola yang digunakan dalam memimpin Desa Mata Air, berikutnya wawancara wartawan Pos Kupang, Fredi Hayong dengan Beny Kanuk di kediamannya di Desa Mata Air, Sabtu (8/9/2018).

Baca: Lembata Masuk dalam Agenda Paralayang Dunia

Bagaimana ceritanya Anda yang berasal dari Rote menetap di Desa Mata Air dan kini dipercayakan sebagai Kepala Desa ?
Saya ini lahir di kampung di Pulau Rote. Sejak tahun 1982 saya ke Kota Kupang untuk mencari ilmu. Dalam perjalanan hidup mencari ilmu itu, saya tidak pulang lagi ke kampung karena mendapat jodoh di Kota Kupang. Saya sejak itu tinggal di Tarus yang kemudian statusnya jadi kelurahan, ada pemekaran menjadi Desa Mata Air sekarang saya menetap. Dalam perjalanan waktu saya ada di desa ini, saya melihat sejumlah aset dan potensi yang perlu dibangun tapi saya tidak punya kapasitas sehingga tidak bisa bersuara ke mana-mana. Saya kemudian memutuskan maju menjadi calon kepala desa tahun 2007 sejak desa ini mandiri. Waktu itu saya tidak lolos, kalah suara. Saya pikir belum waktunya. Walau gagal tapi saya harus bangun desa ini sehingga saya terus berjuang. Walau saya bukan kades tapi bantu aparat yang lain untuk sama-sama bangun desa ini terus saya lakukan. Baik itu bidang pertanian, perikanan, pendidikan juga bantu gereja.

Bisa ceritakan pengalaman ketika menggeluti bidang-bidang yang Anda sebutkan itu?
Dalam bidang pertanin dan perikanan, saya selama itu menjadi penyuluh swadaya di bidang budidaya padi. Dari pengalaman yang saya miliki, saya mencetuskan pola perimbangan dalam hal pengelolaan padi sistem 532 per hektar, perhitungan per hektar rumpun sampai uji hasil panen. Saya temukan bibit padi baru piring saleh adopsi antara IR64 dan Ciera dan impari6. Ini semua sudah dirasakan masyarakat. Dalam perikanan saya berikan contoh budidaya air tawar. Conton buat sederhana dari terpal sampai kawinkan ikan lele. Bidang peternakan, saya buat contoh ternak babi sampai pada IB dan masih banyak lagi contoh seperti cara membuat kandang sehat, pakan dengan kelola hasil kemudian buat kandang binatang indukan, penggemukan sampai bedah juga bantu persalinan ternak babi jika ada masalah. Dalam bidang pendidikan saya bersama tim punya konsep membangun dari pinggiran. Sejak saya gagal jadi kades 2007 saya bersama tim bangun Sekolah Menegah Teologi Kristen di Desa Mata Air dan saat ini sekolah sudah status negeri.

Baca: BKN Umumkan Waktu Terbaik Kirim Persyaratan CPNS 2018 di Situs Sscn.bkn.go.id

Apa yang Anda lakukan sangat mulia. Apakah ketika itu ada minat untuk maju kembali mencalonkan diri menjadi kades ?
Tahun 2010 sudah persiapan kades periode baru. Saya dihubungi warga untuk saya kembali maju menjadi calon. Saya bilang belum menyelesaikan sejumlah hal karena dunia pendidikan masih butuh bantuan kami. Saya bilang ke warga, tidak bersedia untuk maju dan berikan kesempatan kepada tokoh lainnya. Saya merasa belum panen sebelum menanam yang banyak. Tahun 2007 itu kami bangun SD Filial Kelapa Tinggi kelas jauh untuk mendukung SMP Kristen. Atas dasar itulah, ketika warga melihat saya membawa cahaya pendidikan dari sudut desa, warga mau calonkan saya. Tapi saya merasa menjadi kades dan bangun sekolah sama memiliki makna. Itu amal buat sesama warga. Waktu demi waktu berlalu, tahun 2016 dalam periode ketiga desa mandiri, warga minta kesediaan saya untuk adi bakal calon. Seizin keluarga dan Tuhan saya terpilih jadi kades. Desember 2016 saya dilantik dan tanggal 9 Januari 2017 mulai resmi bertugas menjadi kades. Saya pikir sudah waktunya belajar dari pengalaman para pendahulu sesuai dengan apa yang saya mampu, saya bersama warga ditopang dengan semangat menghilangkan perbedaan politik dan suku, harus kami bangun bersama desa ini, mengubah wajah lebih maju dan dikenal bukan saja di level kabupaten tetapi sampai level nasional.

Langkah Anda luar biasa. Bagaimana kiat yang Anda terapkan sehingga program bisa berjalan dengan baik?
Saya punya sandaran pada Tuhan Pemimpin Agung yang berikan akal budi untuk membuat kebaikan bagi keluarga dan warga. Konsep saya sederhana, bagaimana membuat terobosan agar desa ini bisa tinggalkan yang namanya kemiskinan. Semua program kita mulai dari dusun. Gagasan dari dusun dinaikkan ke desa dan tetapkan program dari tahun ke tahun dengan melihat kepentingan umum, kebutuhan mendasar terutama pendidikan, kesehatan, pertanian, kelautan dan bangun SDM warga sesuai keahlian dan kebutuhan. Kita perhatikan juga program untuk kaum disabilitas. Semua sektor kami bangun gunakan dana desa baik bidang fisik dan pemberdayaaan. Kami bangun jalan karena orang gunakan halaman warga karena sebelumnya para pendahulu tidak membuat patokan jalan umum. Tidak ditentukan secara baik antara rumah dan jalan makanya kami buat pendekatan agar ada jalan menghubungkan antara satu kampung ke kampung lainnya. Untuk bantu petani kita buka jalan sehingga saat mengangkut hasil tidak kesulitan. Bidang pemberdayaan kita berikan bantuan wajib kembali misalnya ternak babi, kambing, ikan lele, ayam potong dan sarana budaya tenun ikat. Bantuan ini justru ada inovasi baru di kelompok masing-masing sehingga satu berhasil maka dana kembalikan ke kelompok pada orang yang tidak sama. Harapan semua warga nikmati dana desa bukan uang tapi pemberdayaan ekonomi dan budaya sehingga kami akan tinggal landas dari kemiskinan meraih harapan baru.

Baca: Gubernur NTT Akan Sampaikan Orasi Ilmiah di Wisuda UPG 1945 NTT

Bagaimana dalam hal pengelolaan anggaran apakah aspek transparansi menjadi salah satu perhatian Anda?
Menurut saya, semua program muaranya untuk kesejahteraan warga. Dasar itulah mereka kerja dengan kami dan mereka senang karena tidak ada jurang pemisah karena kami miliki sikap transparan dalam hal penggunaan anggaran. Kami posting mulai dari RAB sampai fisik supaya warga bantu awasi dan ikuti perkembangan. Mereka respons baik karena semua pekerjaan yang kami lakukan semua orang tahu untuk warga desa ini. Kami berterima kasih kepada warga atas kepercayaan yang diberikan mulai dari awal sampai ke depannya agar desa ini dikenal luas. Selama saya memimpin desa ini, ada penghargaan yang diberikan seperti menjadi desa contoh transparansi penggunaan anggaran. Kami menjadi desa contoh pertanian dalam tahun 2017. Kami diminta ikuti pertemuan di mana- mana, terakhir di Nagekeo. Pada pertemuan nasional Juni 2017 saya dikirim ke Aceh bersama kades contoh lain dan kami bawa hasil terbaik. Kami diundang wakili desa-desa di Kabupaten Kupang ke Jawa Timur lihat budidaya pertanian padi dan jagung. Kemudian ke Jawa Tengah di Brebes ketika harga bawang lonjak. Kami lihat pola bertani, pengawasan, amati ujicoba petani bawang. Hasil studi banding semua saya bawa pulang ke Mata Air. Oktober 2017 ke Sukabumi, Jawa Barat untuk melihat pengembangan ikan air tawar. Semua contoh inovasi baru saya bawa pulang dan mempraktikkan langsung di desa dan puji Tuhan berhasil karena saya praktik sendiri di rumah.

Apa keberhasilan yang dapat Anda bagikan ke desa-desa lain?
Kami berhasil menjadi desa contoh 2017 dan ditetapkan menjadi Kampung KB berbasis kependudukan. Tugas kami menunjukkan kepada warga informasi soal KB bukan 2 anak tapi keluarga harus rencanakan pembangunan keluarga. Pengalaman di desa ini membuat saya diundang ke Jawa Barat untuk memberikan testimoni diikuti 21 provinsi dan saya wakili NTT. Kita juga dikirim untuk melihat tugas kemanusiaan bersama LSM dan kaum disabilitas bersama 27 negara dari Asia Tenggara di Jakarta. Tahun 2018 kami meraih predikat sebagai program desa nasional dan dipilih sebagai desa contoh mewakili Kabupaten Kupang lolos ke provinsi dan mendapat penghargaan untuk ikuti HUT ke -73 RI tingkat Provinsi NTT. Saya merasa tidak hebat tapi ini semua karena dukungan warga. Saya sadar bahwa dalam diri saya ada garam dan wajib untuk menggarami ke masyarakat. Tidak mungkin garam yang ada di saya dibawa pulang ke dasar laut. karena hikmat saya wajib terapkan di Desa Mata Air. Harapan saya siapapun pemimpin yang akan datang harus lebih baik lagi.

Baca: NTT Akan Jadi Pusat Pelatnas Tinju Amatir Indonesia

Halaman
12
Penulis: Edy Hayong
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved