Berita Kabupaten Malaka

Gubernur Vicktor Janji NTT Jadi Punyambang Garam Nasional 2019

Gubernur NTT, Vicktor Bungtilu Laiskodat bertekad mengembangkan usaha garam di NTT. Pemerintah NTT akan mengerahkan

Gubernur Vicktor Janji NTT Jadi Punyambang Garam Nasional 2019
pos kupang.com, teni jenahas
Gubernur NTT, Vicktor Bungtilu Laiskodat saat menghadiri misa syukur satu tahun meninggalnya Daniel Asa, Wakil Bupati perdana Malaka, Periode 2016-2021, di Wehae, Desa Kapitan Meo, Kecamatan Laenmanen, Kabupaten Malaka, Sabtu (15/9/2018). 

Laporan Reporter POS KUPANG.COM,Teni Jenahas

POS KUPANG.COM, BETUN---Gubernur NTT, Vicktor Bungtilu Laiskodat bertekad untuk mengembangkan usaha garam di NTT. Pemerintah NTT akan mengkerahkan pemerintah kabupaten yang memiliki potensi garam untuk terus dikembangkan sehingga target tahun 2019, NTT menjadi provinsi penyumbang garam nasional.

Gubernur Vicktor mengatakan hal itu dalam sambutannya saat misa syukur satu tahun meninggalnya Daniel Asa, Wakil Bupati perdana Malaka, Periode 2016-2021, di Wehae, Desa Kapitan Meo, Kecamatan Laenmanen, Kabupaten Malaka, Sabtu (15/9/2018).

Baca: Gempa Bumi Kembali Guncang Sumba Timur-NTT

Baca: Bacaleg Mantan Koruptor di Nagekeo dan Alor Sudah Dinyatakan TMS

Menurut Vicktor, NTT memiliki potensi garam yang sangat luar biasa yakni mencapai 3-4 juta metik ton per tahun. Potensi garam di NTT setara dengan kebutuhan garam nasional yang saat ini masih impor dari luar negeri. Ketika potensi garam NTT 3-4 metik ton per tahun sudah dikelola maka Indonesia tidak perlu lagi mengimpor garam.

Menurut Vicktor, selama ini potensi garam di NTT belum dikelola secara optimal sehingga produksi garam di NTT belum bisa memenuhi kebutuhan garam nasional. Kondisi ini bisa terjadi karena pemerintah kurang serius dan bisa juha karena model pengelolaan kurang tepat.

Baca: Lazim Djati Raih Emas Nomor Bergengsi Randori 65kg

Pada masa kepemimpinannya, pemerintah provinsi akan serius mengembangkan garam dengan model pengelolaan yang berbeda dengan sebelumnya. Jika sebelumnya, investor atau pengusaha garam mengelola garam mulai dari lahan, produksi hingga pemasaran, maka di masa kepemimpinannya dirubah total.

Pada masa kepemimpinannya, investor hanya berperan untuk mengelola garam melalui industri yang dibeli dari masyarakat lalu mengekspor kembali garam tersebut ke keluar daerah. Sedangkan, urusan lahan dan produksi menjadi peran masyarakat setempat. Dengan demikian, masyarakat tidak lagi menjadi penonton di daerahnya sendiri.

Masyarakat mengelola sendiri lahan untuk menghasilkan garam lalu garam itu dijual kepeda pengusaha. Sedangkan pengusaha mengurus teknologi dan pamasarannya.

"Pengusaha seperti pedagang, dia beli garam, dia olah lalu dia jual lagi. Masyarakat olah lahan untuk menghasilkan garam, terus dijual kepada penegusaha. Kalau pola selama ini, pengusaha urus mulai olah lahan, olah garam sampai menjual garam. Makanya masyarakat jadi penonton," kata Vicktor disambut tepukan tangan meriah.

Vicktor mengatakan, masyarakat yang hendak mengolah garam tidak perlu khawatir karena para pengusaha garam sudah berada di NTT saat ini. Pemerintah mengajak masyarakat dan seluruh elemen untuk menggerakan seluruh kekuatan agar NTT bisa menjadi daerah penyumbang garam tahun 2019. (*)

Penulis: Teni Jenahas
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved