Editorial Pos Kupang

Tentang Asuransi Kampung Adat

Ramainya kunjungan wisatawan ke berbagai obyek wisata di NTT ini tidak terlepas dari usaha dan kerja keras

Tentang Asuransi Kampung Adat
POS KUPANG.COM/PETRUS PITER
Kampung Adat Bondo Maroto di Desa Kelembu Kuni, Kecamatan Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat yang terbakar, Selasa (11/9/2018). 

POS-KUPANG.COM - Pariwisata di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami ujian maha berat. Di saat Pemerintah Provinsi NTT dalam hal ini Dinas Pariwisata NTT gencar-gencarnya mempromosikan berbagai obyek wisata keluar daerah dan manca negara, pada saat yang sama obyek wisata di NTT mengalami musibah kebakaran.

Sejak Sail Komodo 2013 dan sejak Komodo ditetapkan sebagai The New Seven Wonders of Nature, pariwisata NTT menggeliat. Tak hanya Pulau Komodo sebagai pusat wisata yang gaungnya sudah mendunia, tapi dampak ikutannya juga dirasakan obyek-obyek wisata lainnya di daerah ini.

Obyek wisata alam, budaya serta rumah-rumah adat yang sebelumnya tak begitu tenar secara perlahan mulai terkenal dan ramai dikunjungi wisatawan. Para wisatawan yang hendak berwisata pun memiliki berbagai pilihan.

Setelah puas melihat buaya darat Komodo, mereka berpindah ke obyek wisata lainnya di Provinsi NTT seperti kampung adat Wae Rebo di Manggarai, kampung adat Bena dan Gurusina di Ngada, danau tiga warna Kelimutu, kampung adat di Sumba, Timor dan berbagai obyek wisata alam dan budaya lainnya.

Ramainya kunjungan wisatawan ke berbagai obyek wisata di NTT ini tidak terlepas dari usaha dan kerja keras Dinas Pariwisata NTT melakukan promosi dan eventdi dukung pemerintah kabupaten dan para pelaku wisata.

Namun saat pariwisata NTT memberikan hasil, berbagai musibah pun datang. Beberapa obyek wisata seperti Gili Lawa di Manggarai Barat serta beberapa kampung adat terkena musibah kebakaran. Musibah itu pun terjadi secara beruntun dalam dua tahun terakhir.

Ada banyak pertanyaan yang belum terjawab. Mengapa terbakar? Apakah ada unsur kesengajaan manusia atau semata musibah. Jawaban atas pertanyaan ini tentu tidak bisa direka-reka. Ini menjadi tugas aparat kepolisian untuk mengusut dan menemukan penyebab terjadinya kebakaran.

Terlepas dari apa penyebab kebakaran obyek wisata tersebut, demi menjamin keamanan dari setiap obyel wisata yang ada, kiranya penting dipikirkan untuk mengasuransikan setiap obyek wisata di daerah ini. Tentunya dengan tetap mengikuti ketentuan atau syarat-syarat yang berlaku.

Caranya dengan mengalokasikan sebagian dana yang diperoleh dari retribusi obyek wisata untuk asuransi kebakaran. Asuransi ini penting agar ketika terjadi musibah kebakaran seperti yang terjadi pada obyek wisata kampung adat maupun obyek wisata lainnya, rekonstruksi obyek wisata kampung adat itu bisa dengan mudah kembali dilakukan. Selain itu, pengawasan terhadap para wisatawan harus semakin diperketat.

Misalnya saat berkunjung ke obyek wisata yang rawan kebakaran, wisatawan dilarang merokok, tentu dengan memasang rambu peringatan sebelum masuk lokasi. Ini mengantisipasi kemungkinan wisatawan yang membuang puntung rokok sembarangan di lokasi wisata yang mengakibatkan terjadinya kebakaran.*

Editor: Putra
Sumber: Hai
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help