Berita Kabupaten Kupang

Merasa Takut! 12 Siswa SD GMIT Tanah Merah Pindah Sekolah

menerima sebanyak 12 siswa SD GMIT Oebelo memilih pindah karena orangtua mereka merasa takut menyekolahkan anaknya

Merasa Takut! 12 Siswa SD GMIT Tanah Merah Pindah Sekolah
POS KUPANG.COM/GECIO VIONA
Mariajina Soares S.Pd Kepala Sekolah SD Kristen Rehobot ketika ditemui POS-KUPANG.COM di halaman sekolah di sekolah tersebut yang berada di RT 22 RW 08 Dusun 4 desa Oebelo, Keamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Senin (28/8/2018) 

 Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana

POS-KUPANG COM | KUPANG - Mariajina Soares S.Pd Kepala Sekolah SD Kristen Rehobot mengatakan, pihaknya menerima sebanyak 12 siswa SD GMIT Oebelo memilih pindah karena orangtua mereka merasa takut menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut pasca bentrok antar warga desa Oebelo dan Tanah Merah, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Senin (10/9/2018).

"Baru-baru ada 12 siswa yang pindah dari SD GMIT Tanah Merah ke sini, itu dari kelas I sampai kelas V. Alasan pindah karena takut ada bentrokan susulan begitu.," ungkap Mariajina kepada POS-KUPANG.COM di halaman SDK Rehobot di RT 22 RW 08 Dusun 4 desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang.

Baca: Kampung Adat Bondo Maroto Terbakar! Pemda Sumba Barat Bangun Dapur Umum

Baca: 16 Siswa SD GMIT Oebelo Pindah Sekolah Pasca Bentrok antar Warga Oebelo vs Tanah Merah

Ia menjelaskan, para siswa tersebut bertempat tinggal di desa Oebelo dan selama ini mereka sekolah di SD GMIT Oebelo yang terletak di desa Tanah Merah

"Rata-rata yang pindah ke sini warga desa Oebelo dan tinggal di resetlement atas Oebelo," jelasnya

Ia menjelaskan, pasca bentrokan terjadi pada akhir bulan lalu, pihaknya meliburkan sekolah selama satu minggu. Untuk sekarang, lanjut Mariajina, keadaan perlahan kondusif tapi rasa khawatir dan was-was masih di rasakan warga dan pihak sekolah karena belum ada langkah maju untuk perdamaian.

"Sudah berapa hari ini saya lihat biasa-biasa saja. Tapi ada beberapa siswa yang masih trauma. Tapi sudah banyak anak yang belajar dan bermain seperti biasa," katanya

Selain itu, banyak juga orangtua yang merasa khawatir atas keselamatan anaknya jika terjadi bentrokan susulan memilih mengantar dan menjaga anaknya hingga usai kegiatan belajar mengajar di sekolah.

"Anak yang dari desa Tanah Merah orangtuanya jaga setiap hari, jumlah anaknya sekitar 20 orang dan orangtua yang antar sekitar belasan orang karena dalam satu rumah ada lebih dari satu siswa yang sekolah di sini," jelasnya

Dikesempatan yang sama, Noni Nancy, guru kelas IV SDK Rehobot mengatakan, Masih ada siswa yang khawatir dan cemas saat belajar di kelas dan masih terdapat siswa yang memilih tidak bersekolah karena khawatir akan adanya bentrokan susulan

"Hari ini saja di kelas saya 8 anak tidak masuk, karena mereka bilang masih takut dengan bentrok kemarin. Baru orangtua juga masih was-was suruh anak mereka ke sekolah karena belum ada perdamaian," katanya

"Mereka (orangtua siswa) juga tidak tahu informasi jadi mereka juga terkadang SMS (Short Message Service) bilang ibu anak saya sudah aman kah tidak kalau ke sekolah begitu," jelas Noni.

Selain itu, ia juga menjelaskan, ada beberapa siswa yang masih trauma pasca bentrokan terjadi dan itu dirasakan saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.

"Saat di kelas juga para siswa was-was dan khawatir apalagi kalau ada bunyi lonceng atau ada orang teriak-teriak di luar kelas mereka langsung cepat-cepat lihat ke luar kayak begitu," ungkapnya

Dirinya berharap, upaya perdamaian segera dilakukan oleh pihak pemerintah, para tokoh adat, dan tokoh masyarakat kedua desa yang bentrok sehingga siswa tidak terus menerus dirugikan dan situasi antar dua desa lebih kondusif

"Harus segera urus damai sehingga orangtua juga tahu sudah damai dan mereka tidak was-was kalau anak mereka ke sekolah," katanya.

Armindo Bosco (43), orangtua murid yang bertempat tinggal di desa Oebelo ditemui POS-KUPANG.COM di halaman sekolah tersebut mengatakan, dirinya setiap hari mengantar dan menunggu anaknya hingga usai kegiatam belajar mengajar karena merasa takut jika ada bentrokan susulan.

"Kami setiap hari jaga anak-anak kami di sekolah, banyak anak yang belum masuk sekolah karena situasi belum ada perdamaian," ungkapnya

Dirinya berharap, upaya damai yang telah dibicarakan oleh Pemprov NTT dan instansi terkait segera ditindaklanjuti dengan kerja nyata sehingga warga dan anak sekolah bisa tenang dan menjalankan aktivitas sehari-hari dengan nyaman.

"Harapan kami percepat perdamaian supaya anak-anak kami yang sekolah dan kemana-mana termasuk kami orangtua aman dan bebas. Apalagi anak kami. Yang sekolah di sini agak baik karena kami orangtua jaga. Tapi bagaimana dengan yang sekolah di luar," katanya (*)

Penulis: Gecio Viana
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved