Berita Tamu Kita

Kanisius Teobaldus Deki S.Fil, M.Th : Membangun Ekonomi Gotong Royong

Padahal bangsa kita disebut sebagai bangsa yang berbudaya dan kaya akan nilai. Filosofi gotong royong dalam kehidupan perlahan punah.

Kanisius Teobaldus Deki S.Fil, M.Th : Membangun Ekonomi Gotong Royong
ISTIMEWA

Tantangan apa yang sangat besar dalam membangun koperasi?
Mentalitas masyarakat kita masih menjadi tantangan utama. Masyarakat kita sudah terbiasa dengan label miskin, mengharapkan bantuan, kurang berusaha, dan cenderung instan. Lihat saja banyak rentenir berwajah koperasi yang menjual uang dengan bunga 20 persen. Masyarakat mau berhutang asal cepat, saat ini, sekarang dan di sini. Ini tantangan bersama semua pihak, khususnya pemerintah daerah. Selain itu, pemerintah belum memandang koperasi sebagai solusi untuk pembangunan ekonomi yang efektif. Hal itu terlihat ada kebijakan anggaran yang masih minim untuk pendidikan koperasi.

Baru-baru ini gedung kantor Kopkardios dibangun, termasuk gedung koperasi termegah di NTT, apa harapan Anda selanjutnya?
Tahun 2017 saya terpilih menjadi ketua pengurus. Hal pertama yang saya lakukan adalah mewujudkan impian kami untuk memiliki kantor sendiri. Masyarakat kita sangat figuratif. Mereka butuh simbol. Karenanya kami sepakat membangun kantor baru yang megah sebab sebelumnya kami meminjam gedung milik keuskupan Ruteng. Pada tanggal 7 Juli 2018, bersamaan dengan HUT Koperasi Tingkat Provinsi NTT, gedung ini diresmikan oleh Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya bersama utusan Menteri Koperasi dan UKM RI. Melalui tampilan gedung baru ini kami ingin menyakinkan masyarakat bahwa kita mampu menjadi lembaga keuangan yang terpercaya yang membantu anggotanya untuk menjadi sejahtera.

Baca: Segera Mengubah Gaya Hidup, Kunci Pengobatan Asam Urat di Rumah

Bagaimana pandangan tentang pertumbuhan koperasi di Manggarai Raya saat ini?
Pertumbuhan koperasi baik. Khusus untuk koperasi kredit, ada 39 Kopdit yang tergabung pada Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Manggarai yang bertumbuh dan berkembang dengan baik. Kami melihat ada geliat pertumbuhan anggota dan modal yang berpengaruh pada pertumbuhan usaha anggota di masyarakat.

Respon masyarakat tentang perkoperasian menurut Anda?
Sampai sejauh ini, melihat banyak kantor koperasi yang membantu masyarakat dalam akses keuangan, masyarakat makin mengenal dan mulai mencintai koperasi. Koperasi sudah menjadi salah satu rujukan utama keuangan masyarakat. Bukan lagi lembaga keuangan alternatif.

Bagaimana pandangan Anda tentang koperasi harian yang terus ada di tengah kehidupan masyarakat?
Tentu "koperasi harian" adalah lembaga keuangan yang bukan dimiliki para anggota, melainkan lembaga milik perseorangan yang bertamengkan koperasi. Sebuah koperasi didirikan oleh anggota untuk kepentingan anggota. Praktik "koperasi harian" adalah praktik rentenir karena memberikan pinjaman kepada pihak yang bukan anggota dengan bunga yang tinggi. Risikonya sangat tinggi. Dengan bunga yang tinggi (rata-rata 20 persen) bukan membantu orang yang sedang berkesulitan tetapi malah mencekik mereka untuk terus berada di lubang kemiskinan. Sebenarnya, inilah saat yang tepat bagi masyarakat untuk tidak dijajah terus-menerus oleh para rentenir itu, yakni dengan menjadi anggota koperasi yang benar.

Apa pandangan dan penilaian Anda soal koperasi di NTT?
Provinsi kita disebut "Provinsi Koperasi". Tugasnya berat. Pertama, membuat rakyat NTT sadar akan perlunya mereka berkoperasi lalu terlibat aktif di dalamnya. Kedua, pemerintah juga terlibat aktif dalam kampanye dan pendidikan serta pendampingan lembaga koperasi yang ada sehingga dari segi manajemen mereka mampu melayani anggota secara maksimal. Kami melihat bahwa sampai sejauh ini, kebijakan anggaran pemerintah provinsi dan kabupaten belum betul mengakomodir kepentingan ini.

Bagaimana harapan agar koperasi di NTT bisa mendunia
Koperasi kredit lahir di Eropa untuk membantu masyarakat kelas bawah yakni para buruh. Koperasi di NTT bisa mendunia tatkala perekonomian kita berada dalam prinsip dan sistem ekonomi gotong royong. Dalam semangat gotong royong yang kuat menolong yang lemah, yang lemah diberdayakan sehingga mereka bisa mandiri. Angka kemiskinan menurun. Angka produktivitas makin naik grafiknya. Tingkat kesejahteraan penduduk terus membaik. Lapangan kerja menyerap tenaga kerja. Kisah saling tolong inilah yang bisa menjadikan NTT sebagai "the best practice" (contoh baik) untuk ditawarkan kepada dunia.

Baca: Petani Sawah Terang Siapkan Lahannya Tanam Jagung Pasca Panen Padi

Menurut Anda, apakah Manggarai layak menjadi kabupaten koperasi agar masyarakat bisa keluar dari kemiskinan?
Tentu sangat layak. Data pertumbuhan lembaga koperasi kita membaik dari waktu ke waktu. Tinggal saja kemauan baik pemerintah untuk terus melakukan pendampingan kepada lembaga-lembaga ini. PAD Manggarai 70% bersumber dari pertanian. Itu artinya, melakukan inovasi di bidang pertanian menjadi pilihan utama selain sector jasa. Saat ini, program hortikultura pada kelompok masyarakat menunjukkan kegairahan ekonomi baru. Ikutannya adalah pendampingan manajemen keuangan kelompok dan keluarga agar uang yang dihasilkan berdaya guna.

Apakah selama ini koperasi di Manggarai sudah membantu masyarakat keluar dari kemiskinan?
Kami pastikan bahwa koperasi telah ikut membantu masyarakat keluar dari kemiskinan walaupun belum seluruhnya. Penduduk yang menjadi anggota koperasi belum sampai 11% dari total jumlah penduduk. Itu artinya, masih banyak calon anggota yang perlu diajak untuk menjadi anggota. Dengan demikian, mereka belajar literasi keuangan, usaha kreatif dan mandiri sehingga kemakmuran bukan lagi rencana atau cita-cita melainkan fakta.

Baca: Markas Polres Kupang Kota Jadi Wilayah Bebas Korupsi

Harapan Anda kepada Pemkab Manggarai dan NTT guna memajukan koperasi?
Pemerintah melalui instansi teknis hendaknya memandang koperasi sebagai salah satu peluang ekonomi utama dalam membangun kesejahteraan rakyat Manggarai. Kesadaran itu harus terus-menerus dibangun sehingga tereksplisitasi pada program-program pengentasan kemiskinan masyarakat. Karena itu, dana pendidikan bagi anggota, badan pengurus, badan pengawas dan tim manajemen sangat dibutuhkan untuk dianggarkan pada APBD. Selain itu, perlunya figur model. Dengan bupati, wakil bupati, Sekda dan pejabat teras lainnya masuk koperasi itu adalah kampanye efektif untuk mengajak masyarakat agar juga menjadi anggota. Hal mana membenarkan bahwa pembangunan adalah usaha bersama semua pihak. *

Halaman
1234
Penulis: Aris Ninu
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved