Berita Puisi

Ini Puisi-Puisi Minggu

Terkadang kau menyesali jalan yang tak kau pilih, Mulai menyerah atas semua rencana yang kau buat.

Ini Puisi-Puisi Minggu
ilustrasi

Puisi-Puisi Dominick Tara Loko
(SMA Negeri 1 Riung Barat)
Terkadang

Terkadang kau menyesali jalan yang tak kau pilih
Mulai menyerah atas semua rencana yang kau buat
Terkadang kau merasa begitu sedih
Mengapa begitu banyak yang mengambil
Bukan memberi

Terkadang kau bertanya bagaimana ini bisa terjadi?
Bagaimana aku bisa begini?
Tapi terkadang kau bertemu orang yang istimewa
Orang yang memilih jalan yang sama denganmu
Dan tiba-tiba rasanya tak lagi begitu sepi

Berjalan di jalan yang mesti kau pilih sendiri
Dan saat itulah kau tau semuanya setimpal
Karena terkadang mimpi bisa terwujud

Salam Kepada Sang Fajar

Pandanglah hari ini
Sebab inilah hidup
Hidup yang benar-benar hidup
Dalam jangkanya yang singkat ini
Terletak semua kebenaran dan kenyataan eksistensimu
Kebahagiaan pertumbuhanmu
Kemuliaan perbuatanmu
Kemegahan karyamu

Sebab kemarin hanyalah mimpi
Dan esok hanyalah bayangan
Tapi hari ini sunggu ada
Dan membuat kemarin jadi mimpi indah
Dan esok menjadi bayangan yang berpengharapan
Olehnya pandanglah hari ini

Cerita Kita

Perjalanan di atas awan mengejar bintang
Bukan sebuah masalah tapi haral melintang
Coba berpikir dua kali terakhir
Tak sama tak beda tapi belum berakhir

Jadi satu
Satu tujuan
Satu cinta
Mengenal banyak rintangan
Ah rasanya indah
Bukan tuk bermain
Ayo siap berlangkah
Angkatlah anak panah
Lepaskan dengan terarah
Kawan bersiap berjalan bergandeng tangan
Erat, ikat, simpan bahagia
Bukan khayalan
Mungkin akan berat namun santai saja
Di kiri dan kananmu
Tuhan ada
Berjuanglah

Indah tuk dilukiskan lagi
Jalannya masih berputar kembali
Jangan lepas pegangan dariku
Kita akn selalu bersama melaju
Ceritaku tak panjang tapi sederhana saja
Jalani hari bersama kalian semua
Buatku berarti hadir ditengah kalian
Cerita baru
Hiasi kalbu
Selalu begitu dan akan tetap begitu

Puisi-Puisi Fr. Gusti Padang Guche, OCD
Politikus Negeriku

Banyak politikus di negeriku
Berangan-angan dan bermimpi setinggi langit
Sangat disayangkan semua itu hanya mimpi dan angan-angan belaka
Hanya sebatas rencana di balik rencana
Mereka hanya menginginkan lencana
Bermufakat, bermusyawarah sekadar mengisi waktu kosong
Dalam kenyamanan fasilitas yang ada
Mereka hanya bertingkah untuk menghabiskan waktu sehari
Berbicara, berbicara dan berbicara
Katanya demi kepentingan rakyat, atas nama rakyat
Nyatanya tanpa ada bukti yang dilakukan
Apabila ada kebijakan pemerintah yang menurut mereka tidak menguntungkan
Lagi-lagi mereka akan bermufakat dan bermusyawarah
Untuk mempertimbangkan apakah kebijakan itu diperlukan atau tidak
Mereka lebih pandai untuk mengatur dan mengeritik pihak lain
Sedangkan dalam pihaknya meskipun terdapat banyak kejanggalan
Mereka seolah-olah tak mampu berbicara
Sungguh sangat disayangkan...
Apakah ini layak disebut merdeka?
(7 Mei 2018)

Koruptor VS Pencuri

Keduanya sama-sama pencuri
Sang koruptor mencuri untuk menimbun kekayaan
Sedangkan sang pencuri mencuri demi mempertahankan hidup
Tetapi anehnya hukuman yang diberikan berbeda
Sang koruptor sering bebas berkeliaran
Meskipun terbukti bersalah ia malah tidak dihukum
Sedangkan sang pencuri akan diberi hukum yang sangat berat
Bukan hanya dihukum malah dihakimi oleh massa
Aneh memang sunggu aneh
Keduanya pencuri tetapi yang satu diistimewakan
Dialah anjrit koruptor.
(Mei 2017)

Anak-Anak Bangsa

Kami adalah anak-anak bangsa, generasi muda
Yang sedang mencari jati diri kami
Diantara puing-puing ketidakadilan dan kesenjangan di bangsa ini
Akibat korupsi, kolusi dan nepotisme.
Hampir setiap saat kami tidak pernah mendengar
Keadilan bergema di bangsa ini.
Keadilan redup dalam terang korupsi.
Para penguasa berkoalisi dan berkolaborasi, katanya demi keadilan dan kesejahteraan seluruh rakyat, tetapi nyatanya demi golongan dan partai.
Kami sebagai anak bangsa,
Merasa malu berada di bangsa ini, bangsa yang dipenuhi oleh para koruptor.
Namun kami akan tetap mencintai bangsa ini,
Karena disinilah kami akan bangkit menjadi pemberantas ketidakadilan, korupsi, kolusi dan nepotisme.
Bukan dengan kekerasan tetapi dengan sayir-sayir dalam puisi.

(Penulis adalah Toper di Biara St. Edith Stein Maronggela Riung)

Penulis: Apolonia M Dhiu
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved