Opini Pos Kupang

Pesan dari Cut Mutiah

Dalam silahturahmi penuh kekeluargaan, Jokowi didampingi Mensesneg Pratikno dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Pesan dari Cut Mutiah
KOMPAS.com/Ihsanuddin
Presiden Joko Widodo berkunjung ke Kantor KWI, Jakarta, Jumat (24/8/2018). 

Mengapa komunikasi yang abai akurasi data itu kontroversial sehingga Jokowi perlu melakukan klarifikasi dengan data akurat? Jawabannya, terletak pada (pola) komunikasi (politik) yang efektif. Pola komunikasi yang efektif -meminjam Richard L Hughes (1996)-ditandai kemampuan mengirim dan menerima pesan dengan probabilitas bahwa pesan yang dimaksud benar-benar bisa diterima dan dipahami.

Pesan penting

Namun, lepas dari itu kunjungan Jokowi ke Cut Mutiah sekaligus meninggalkan pesan bagaimana Gereja menegaskan diri serta keberadaannya sebagai sakramen (tanda keselamatan Allah) di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Berikut bagaimana Gereja menyadari spiritualitas politik dalam dirinya dan tetap semangat ikut membangun bangsa dan negara agar makin damai, adil, dan bermartabat.

Dalam Gereja Itu Politis (2012), Peter Aman OFM menguraikan posisi Gereja di tengah dunia. Gereja menegaskan dirinya serta keberadaannya sebagai sakramen -tanda dan sarana keselamatan serta persekutuan Allah dengan seluruh umat manusia di dunia.

Hal ini menjelaskan satu hal pokok yaitu bahwa Gereja ada di dunia bukan untuk dirinya sendiri. Ia (Gereja) hadir untuk kepentingan seluruh umat manusia.
Konsili Vatikan II dalam Gaudium et Spes (GS) menjelaskan relasi yang erat antara Gereja dan dunia. Gereja hadir sebagai tanda dan sarana keselamatan.

Di dalam keselamatan Allah itu hadir serta dialami: diamini secara eksplisit, diwartakan secara profetis, dan dirayakan secara liturgis. Karena itu, dari kehadiran dan tugas perutusannya Gereja mempersembahkan kepada dunia kekayaan spiritualnya dengan mewartakan Injil, pelayanan sakramen serta keterlibatan pastoral dalam bidang sosial, politik, dan kebudayaan.

Menurut Dr Paulinus Yan Olla MSF dalam Spiritualitas Politik, (2014), sejak lama Gereja Katolik yakin bahwa imannya mempunyai relevansi sosial. Allah yang diimani ditanggapi dalam situasi dan sosial-politik yang konkret.

Gereja tidak ingin mencampuri urusan politik praktis untuk merebut kekuasaan. Namun, dalam statusnya sebagai pewaris nilai-nilai kerohanian, moral, dan saksi kebenaran, Gereja terus melayani manusia untuk berkembang dalam keutuhannya, termasuk dalam dimensi sosial-politisnya.

Dalam keterlibatannya dengan masalah sosial-politik, Gereja dalam spiritualitasnya menyumbang bagi dihormatinya martabat manusia dan pembangunan kesejahteraan umum. Nah, kunjungan Jokowi ke Cut Mutiah menegaskan kembali peran Gereja sebagai umat Allah di dalam kehidupan sosial-politik. *

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved