Berita Nasional

Sentimen Negatif Tinggi! Cukup Mudah Rupiah Tembus Rp 15.000

Sentimen negatif yang tinggi saat ini akibat perang dagang dan kenaikan harga minyak mentah dunia membuat nilai tukar rupiah

Sentimen Negatif Tinggi!  Cukup Mudah Rupiah Tembus Rp 15.000
KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Ilustrasi rupiah 

POS KUPANG.COM - -  Sentimen negatif yang tinggi saat ini akibat perang dagang dan kenaikan harga minyak mentah dunia, serta sentimen lainnya, akan membuat nilai tukar (rupiah) bisa dengan mudah menembus tingkat baru Rp15.000 per dolar AS.

Baca: 4 Zodiak ini Dikenal Gampang Panik dan Miliki Sifat Cemas Berlebihan. Zodiak Kamu Termasuk?

Pagi ini kurs rupiah yang  ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu, melemah sebesar 25 poin menjadi Rp14.920 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.895 per dolar AS.

Baca: PDAM Kota Kupang Butuh Sumber Air Terproduksi yang Baru

Analis Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih, mengatakan di tengah sentimen negatif rupiah yang tinggi saat ini, akan cukup mudah rupiah menembus level baru di atas Rp15.000 per dolar AS.

"Kemungkinan pelemahan berlanjut mendekati pertemuan the Fed 24-26 September mendatang. Namun, pelemahan ini kemungkinan sementara karena nilai tukar itu menunjukkan overshooting, dimana harga dolar AS sudah sangat mahal dalam mata uang rupiah," katanya.

Lebih jauh Chief Market Strategist FXTM, Hussein Sayed, mengatakan, maraknya sentimen negatif di pasar diantaranya mengenai perang dagang serta harga minyak mentah yang meningkat membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah kembali mengalami depresiasi.

"Ketegangan perang dagang serta tingginya harga minyak memperbesar masalah di pasar keuangan negara berkembang," katanya.

Ia mengemukakan harga minyak mentah jenis Brent mendekati 80 dolar AS per barel sehingga konsumsi. Diharapkan, harga minyak kembali ke rentang 60-70 dolar AS per barel guna mencegah kekhawatiran pasar terhadap perekonomian di pasar berkembang.


Hussein menambahkan sentimen negatif akan bertambah bagi pasar negara berkembang apabila The Fed tidak memperlambat laju pengetatan kebijakan moneternya.

Menurut dia, salah satu reaksi yang dapat dilakukan pemerintah adalah menerapkan tindakan penghematan, meski dapat menahan laju ekonomi yang lebih tinggi. (*)

Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help