Opini Pos Kupang

Faktor Kunci Keberhasilan Gubernur Terpilih

Setiap pemimpin terpilih tentu mempunyai ambisi dan cita-cita untuk membuat yang terbaik bagi rakyat dan daerahnya.

Faktor Kunci Keberhasilan Gubernur Terpilih
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat (kiri) bersama Wakil Gubernur Josef Nae Soi (kanan) melakukan salam komando seusai pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (5/9/2018). 

Kejujuran itu satunya kata dan perbuatan, wujud nyatanya memenuhi janji-janji kampanye. Pengelolaan keuangan transparan dan akuntabel serta pengaturan ASN yang taat asas hanya bisa dilakukan pemimpin yang tidak curang dan tidak mementingkan diri, keluarga dan golongan sendiri.

Singkatnya di tangan pemimpin yang jujur, hukum pasti ditegakkan tanpa pandang bulu. Sama kita ketahui bahwa negara seperti Skandinavia dan Selandia Baru maju dan sejahtera karena dipimpin tokoh berintegritas tinggi

II. Taat asas penyelenggaraan pemerintah yang baik (The Principles of good Governance). Ada lima asas yaitu, pertama taat pada konstitusi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam mengelola pemerintahan, pembangunan dan pelayanan publik, seorang pemimpin yang jujur pasti berpegang teguh pada prinsip taat aturan dan norma yang berlaku. Fenomena keterlibatan "Tim sukses" dalam mengurus pemerintahan seperti yang terjadi akhir-akhir ini misalnya, pasti akan dihindari pemimpin yang taat asas.

Kedua, taat asas kepentingan umum (Pro Bono Publico). Pemimpin jujur dan taat asas pasti menggerakkan, mempengaruhi dan mengarahkan bawahannya untuk bekerja sesuai tujuan dalam UU tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah.

Pemimpin yang selalu mengutamakan kepentingan umum akan merupakan teladan baik bagi bawahannya karena pemimpin menunjukkan kesetiaannya pada rakyat dan daerah. Ketiga, taat asas efisiensi dan efektivitas. Penyelenggaraan pemerintahan, pengelolaan pembangunan dan pelayanan publik diharapkan berdaya guna dan memberikan hasil baik.

Sehubungan dengan itu patut diperhatikan agar tidak terjadi pemborosan uang, tenaga, waktu. Kalau mau jujur harus diakui `penghematan' kurang diperhatikan dalam penggunaan dana dan barang.

Teknologi komunikasi sudah maju tetapi biaya perjalanan dinas masih tetap tinggi adalah salah satu contohnya. Rakyat yang masih miskin dan daerah yang terbelakang, mestinya menumbuhkan `sense of crisis' dan solidaritas yang mengarah ke penghematan dan kesederhanaan di kalangan penyelenggara negara.

Keempat, taat asas kehati-hatian dan keadilan untuk semua kepentingan. Sehebat-hebatnya seorang pemimpin dia tetap manusia yang punya kelemahan. Ada banyak godaan dan tekanan yang bisa menjerumuskan sang pemimpin. Kepentingan pribadi, keluarga, kebutuhan partai pengusung, tim sukses dan pengusaha yang membiaya ongkos politik bisa menekan dan menggiring pemimpin untuk menyalahgunakan wewenang dan salah urus.

Kelima, tidak menyalahgunakan wewenang (Abuse of power). Keenam,
kekuasaan di tangan adalah sarana untuk mensejahterakan rakyat, bukan untuk memperkaya diri, keluarga dan golongan . Pemimpin yang jujur dan taat asas pasti tidak akan mengejar konsekuensi logisi dari kekuasaan seperti kenikmatan, kehormatan, kesenangan pribadi, tetapi justru bekerja keras dan cerdas untuk kebaikan bersama (bonum commune).

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved