Opini Pos Kupang

Beginilah Aneka Krisis Koalisi Pilpres Tahun 2019

Sementara koalisi Gerindra, awalnya dililit masalah karena friksi kepentingan calon wakil dan ongkos. Untuk urusan

Beginilah Aneka Krisis Koalisi Pilpres Tahun 2019
ilustrasi

Dukungan Demokrat Jawa Timur ke Jokowi, mengilhami partai lain. Karena itu, meski demokrasi langsung merupakan dambaan semua pihak, tetapi prosedur demokrasi masih dibajak elite partai. Mereka kerap kurang sensitif dan cenderung bebal.

Pada faktanya, elit memang diperlukan, tetapi sekadar untuk memberi pertimbangan kritis atas banyak soal. Tetapi soal yang dipertimbangkan elite itu harus mengabdi pada kepentingan banyak orang. Celakanya elite seringkali kontroversial dengan imajinasi massa pemilih.

Mencermati gejala itu, peta wilayah kekuatan politik elektoral diprediksi begini. Diduga di NTT, Jokowi sangat kuat (plusminus 65%). Di Jawa berimbang tipis. Di Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan juga berimbang, meski Jokowi relatif lebih tinggi dibanding Prabowo. Kawasan Indonesia Timur umumnya ke Jokowi.

Untuk pemilihan Caleg, diramalkan begini. Partai pendukung Prabowo di NTT agak "kesulitan" merumuskan narasi politiknya, sedangkan para partai pendukung Jokowi relatif enteng, meski diakui mereka pasti saling meniadakan demi parliament threshold 4%.

Solusi paling relevan ialah ini. Para caleg cukup menjual habis-habisan pesona pribadi masing-masing. Para caleg pemabuk, dipastikan menggelontorkan biaya tinggi untuk perolehan dukungan konstituen, sedangkan para caleg santun, berkualitas dan berintegritas baik, relatif gampang dapat dukungan.

Sedangkan partai-partai yang diduga tembus parliament threshold 4%, mungkin tak lebih dari 6 partai politik. Sisanya masuk tong sampah politik. Mengapa? Karena selain ada kesulitan teknis pada saat pemilihan, juga karena kejenuhan dan pilihan prioritas.

Perhatikan. Para pemilih memegang 5 kertas suara. Saya berpendapat mereka lebih fokus memilih Presiden dan calon legislatif kabupaten dan provinsi. Sedangkan DPR RI dan DPD kurang mendapat perhatian. Lainnya apatis lantaran bosan melihat muka yang sama tiap kali Pileg. *

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved