Opini Pos Kupang

Beginilah Aneka Krisis Koalisi Pilpres Tahun 2019

Sementara koalisi Gerindra, awalnya dililit masalah karena friksi kepentingan calon wakil dan ongkos. Untuk urusan

Beginilah Aneka Krisis Koalisi Pilpres Tahun 2019
ilustrasi

Pragmatis

Orientasi pragmatis koalisi yaitu menang Pemilu legislatif dan presiden 2019. Dipercaya kemenangan meringankan distribusi kepentingan. Pandangan ini keliru, karena koalisi terbimbing ideologi dan kepentingan individu para elit.

Ideologi (James G. March, J.Olsen, 1995) masing-masing partai politik yang berkoalisi berbeda. Partai politik middle left (tengah kiri) biasanya sulit bergabung dengan partai middle right (tengah kanan). Maka, koalisi Pilpres sama sekali tidak memperhitungkan jarak ideologi di antara mereka. Satu-satu alasan berkoalisi hanyalah konsesi posisi kabinet ditambah biaya koalisi karena Pilpres dan Pileg berlangsung pada waktu yang sama.

Tampaknya, penggabungan ini lebih tepat disebut aliansi karena penentunya adalah partai yang menjadi The center of gravity. Dalam konteks Jokowi, PDIP sebagai The center of gravity. Prabowo, Gerindra menjadi The center of gravity. Partai lain hanya sebagai supporting. PDIP dan Gerindra diuntungkan karena posisi The center of gravity itu.

Keuntungan itu terkonfirmasi melalui hasil sejumlah survei. PDIP dan Gerindra cenderung unggul dalam persentase elektabilitasnya. Partai-partai lain cukup jika luput jebakan parliament threshold. Bagaimana nasib partai yang membayangkan insentif politik Pilpres dalam konteks elektoral Pileg?

Konsesi politik Pilpres mewujud dalam dokumen janji distribusi jabatan strategis di kabinet. Tetapi nilai guna untuk kepentingan Pileg sama sekali tak banyak. Partai justru berkompetisi dengan spirit exit. Yaitu upaya saling meniadakan yang lain.

Saya lihat, split voters menjadi bahaya yang paling mungkin muncul dari situasi ini. Anggota partai tidak setia pada pilihan kelompok oligarkhi. Rakyat merasa tidak harus bertanggung jawab atas pilihan elite. Bagi para pemilih, elite partai telah membela ideologi partai The center of gravity. Diduga gelembung split voters nantinya kian membesar.

Gejala ini tampak pada sikap politik Partai Demokrat Jawa Timur. Demokrat Jatim mengumumkan dukungannya kepada Jokowi dalam kompetisi Pilpres 2019. Sikap Demokrat Jawa Timur, tampaknya berpengaruh luas. Ada dua kubu menyusul pengumuman itu.

Kubu pertama berpendapat, sikap politik Demokrat Jawa Timur sesungguhnya merepresentasikan perbedaan sikap politik antara arus bawah dengan elite di Partai Demokrat di Jakarta. Kubu kedua berpendapat, pilihan politik Demokrat Jawa Timur merupakan indikasi kuat bahwa konsolidasi internal Demokrat tidak sanggup memikul beban sejarahnya sendiri. Sehingga fragmentasi internal terpantul dalam sikap terbelah di cabang-cabangnya di provinsi dan kabupaten.

Tentu saja, argumen yang dibangun masing-masing kubu, tak hanya sama kuat dan masuk akal, juga dapat dimaklumi secara empiris. Apalagi ditengarai Pengurus Pusat Demokrat amat dominan tatkala rekruitmen caleg untuk Pemilu 2019. Jakarta menentukan semua level. Spirit sentralisme Jakarta masih begitu kuat ketika api desentralisasi kian menyala di mana-mana.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved