Berita Tamu Kita

Yosef Waleng: Bangga Jadi Orang Lembata

Setelah memiliki segudang pengalaman, saya lantas memutuskan untuk pulang kampung, pulang ke Lembata.

Yosef Waleng: Bangga Jadi Orang Lembata
Frans Krowin

POS-KUPANG.COM|KUPANG - Dia dikenal sebagai seniman Lembata. Kiprahnya mengharumkan tidak hanya namanya tetapi juga tanah kelahirannya tersebut. Pria ini tidak lain adalah Yosef Waleng.

Pria kelahiran 5 Maret 1965 itu merupakan jebolan Unika Atmajaya Jakarta. Sebelum kembali ke Lembata, ia meniti karier sebagai seniman di sejumlah tempat termasuk Jakarta.

Di kota metropolitan yang juga ibu kota negara tersebut, ia jatuh bangun dalam memantapkan talentanya di bidang seni. Seperti apa aktivitasnya di Lembata dalam dunia seni, simak perbincangan wartawan Pos Kupang, Frans Krowin dengan Yos Waleng di kediamanya yang Bangga Menjadi Orang Lembata.

Baca: Wah, Politani Kupang Kembangkan Bibit Kacang Merah Dataran Rendah

Apa yang melatarbelakangi Anda sehingga demikian bangga akan Lembata?

Begini. Saya ini lahir dan besar di luar Lembata. Padahal darah yang mengalir dalam tubuh saya ini adalah darah Lembata. Puluhan tahun saya hidup di tanah rantau termasuk Jakarta. Selama di daerah orang itu, saya malang melintang dari satu panggung ke panggung yang lainnya. Bertahun-tahun saya bergabung dengan sanggar-sanggar seni ternama di kota metropolitan Jakarta.
Salah satu sanggar seni tempat saya memperdalam talenta adalah Sanggar Seni Sekar Putih asuhan Ari Jarot. Tujuh tahun saya belajar pada sanggar seni tersebut dan menimba banyak pengalaman. Saya belajar mengorganisir teater maupun tarian. Saya juga menggali banyak kiat tentang mengangkat cerita rakyat lalu menguraikannya melalui gerak tari.
Setelah memiliki segudang pengalaman, saya lantas memutuskan untuk pulang kampung, pulang ke Lembata. Mengapa saya lakukan itu, karena di mata saya, Lembata sangat kaya. Kekayaannya luar biasa hampir pada semua bidang kehidupan. Faktor itulah yang membuat saya bangga. Dan kebanggaan itu harus saya wujudnyatakan langsung di tanah ini. Komitmen inilah yang mendorong saya pulang untuk berkarya di sini. Saya ingin mengajak semua orang Lembata untuk bangga dan terus berbangga sebagai putra kandung daerah ini.

Bukankah Anda pulang karena tergiur oleh manisnya otonomi daerah yang direguk Lembata tahun 1999 silam?
Oh, bukan. Saya bukan pulang karena ingin mereguk nikmatnya otonomi daerah. Bukan juga karena ingin mendapatkan peran setelah Lembata dinyatakan otonom. Saya pulang tahun 1994, jauh sebelum Lembata memasuki era baru sebagai daerah otonom, pisah dari Flores Timur (Flotim) sebagai kabupaten induk tahun 1999. Saya pulang sebelum Lembata jadi kabupaten.

Lantas apa yang mendorong Anda untuk kembali?
Yang mendorong saya pulang adalah kekayaan daerah ini. Lembata punya segalanya. Semua kekayaan itu akan saya perkenalkan melalui gerak dan tari. Makanya, ketika tiba di Lembata, saya tetap fokus pada visi awal yaitu membesarkan Lembata melalui gerak dan tari. "Saya ingin orang luar mengenal Lembata melalui potensi seni yang saya karyakan di daerah ini. Saya ingin mengatakan pada dunia bahwa Lembata itu kaya raya," ujarnya.

Jika demikian adanya, apa yang Anda torehkan untuk mengharumkan Lembata?
Perlu Anda tahu, bahwa selama masih di Jakarta, saya banyak bermimpi tentang Lembata. Bermimpi melahirkan karya spektakuler, bermimpi punya sanggar tari dan masih banyak lagi. Olehnya, setelah kembali, saya berusaha mewujudkan itu satu per satu. Tahun 1997, saya melahirkan karya tari keropong kebarek, tarian yang berkisah tentang cinta muda-mudi di lewotana Lembata. Tarian ini juga merupakan ungkapan rindu anak-anak tanah untuk merenda hidup bersama kekasih hingga akhir hayat di lewotana ini.
Seusai mementas karya seni keropong kebarek, saya melahirkan lagi mahakarya baru. Mahakarya itu diangkat dari kisah perjuangan anak-anak Lamalera yang saya beri titel Baleo. Pada tahun 2001, karya seni Baleo mendapat pengakuan di tingkat nasional. Saya diundang khusus untuk mementas tarian tersebut di Jakarta. Sepulang dari Jakarta, inspirasi untuk melahirkan karya seni terus mengalir. Siang malam ide untuk menggali cerita rakyat, datang silih berganti. Dan, di suatu hari kala petang datang menyapa, ia mendapat ilham untuk menguak kisah misteri paji demon yang demikian tersohor di tanah Lamaholot termasuk Lembata.

Baca: Agus Boli Motivasi Masyarakat Pelihara Ternak

Apa yang Anda lakukan setelah mendapat ilham itu?
Seusai menggali ide tersebut, saya menghimpun sejumlah remaja baik laki-laki pun perempuan dari berbagai kalangan dan melatihnya menari. Saya mengajarkan tarian yang bercerita tentang devide et impera yang terkuak dari kisah paji demon di Lembata. Tarian itu mempertontonkan gaya politik penjajah Belanda yang memecah-belah ribu ratu lamaholot lalu dengan mudah menguasainya kembali. Jerih lelah merangkai kisah lewat tarian itu rupanya terbayar lunas kala anak binaannya itu tampil di Kupang dan menjadi jawara tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun 2005.

Apakah Anda senang dan puas dengan prestasi itu?
Prestasi itu bahkan memacu saya untuk menorehkan lagi sejarah baru sebagai juara umum pentas seni tari tingkat Provinsi NTT tahun 2008 lalu. Ketika itu (tahun 2008), pemilik Sanggar Seni Cipta Pesona Lembata tersebut mementas tarian yang menceritakan Lembata sebagai pulau emas, pulau yang dipimpin oleh seorang raja arif dan bijaksana. Raja itu diberi nama Boli Nuwa Wulan yang merupakan singkatan dari nama 8 kecamatan di Lembata saat itu, yakni Buyasuri, Omesuri, Lebatukan Ile Ape (Boli) Nubatukan, Nagawutun, Atadei (Nuwa) dan Wulandoni (Wulan).

Apakah Anda dibantu pelatih lain dalam menata gerak dan tari tersebut?
Saya melatih sendiri para penari itu kurang lebih tiga bulan lamanya. Waktu latihannya cukup lama karena saya harus menata pelan-pelan gestur tubuh penari supaya bisa menyatu dengan kisah cerita. Lebih dari itu, penari harus menampilkan gerak tari yang enak ditonton lantaran waktu pentas cukup lama yakni 12 menit. Kebanggaan lain yang tak akan bisa dilupakan adalah saat Hari Nusantara (Harnus) dimana Lembata menjadi tuan rumah pada 13 Desember 2016. Saat itu saya menampilkan tarian kolosal yang melibatkan lebih dari 200 orang penari.
Untuk menyukseskan acara tersebut, saban hari saya mengajarkan para penari di halaman rumah Guru Gute Betekeneng, dekat Kantor Lurah Lewoleba. Di halaman rumah itulah kami membentuk satu per satu penari, memoles gestur tubuh penari supaya tampil maksimal. Alhasil, yang diinginkannya benar-benar terwujud. Anak-anak tampil sangat baik dan demikian membanggakan.
Bagaimana dengan apresiasi dari warga terhadap karya Anda?
Sejak itu, undangan dari daerah lain selalu datang untuk kami. Pada tahun 2017, kami diundang Pemerintah Provinsi Papua untuk pentas tari di Papua. Undangan itu pun dipenuhinya. Bahkan sekarang ini saya sedang menyiapkan diri untuk pentas seni di tujuh kota di Kalimantan Utara. Undangan sudah disampaikan kepadanya, sehingga saat ini ia sedang bersiap diri untuk itu. Di sela-sela persiapan ini, saya juga sedang menggarap karya baru yang diangkat dari kisah masa lalu tentang Perjanjian Nayubaya antara Kedang dan Ile Ape. Perjanjian masa lampau dengan cap jempol darah itu, rupanya membuahkan persahabatan nan kental antar warga kedua wilayah itu sampai dengan saat ini. Itulah sebabnya, ketika ada orang Kedang datang ke Ile Ape, mereka boleh memetik kelapa untuk sekadar melepas dahaga. Begitu juga sebaliknya. Bahkan saat ini, tak sedikit orang Ile Ape yang memilih menetap di Kedang dan menjadi orang Kedang.

Baca: DPRD NTT Dorong Pemerintah Sertifikasi Produk Lokal

Anda sepertinya sangat haus akan karya tari. Apa yang akan Anda lakukan ke depan?
Jujur saja, sekarang ini saya sedang melirik anak-anak usia TK/PAUD untuk melatih mereka menari. Saya ingin menjadikan anak-anak sebagai laboratorium seni di daerah ini. Bagi saya, seni tak hanya mengajarkan mereka berlenggak- lenggok sesuai irama gong gendang yang dipukul bertalu-talu. Tidak sebatas itu. Seni juga mengajarkan akhlak dan karakter agar nantinya anak-anak bisa menjadi pewaris nan teladan, baik dalam keluarga, bangsa maupun negara. Sesungguhkan masih banyak yang belum diungkapkan bila merunut satu persatu tapak karya yang telah digarapnya selama ini. Satu di antaranya, adalah mewakili NTT untuk pentas seni budaya nasional pada jambore pramuka di Palu, Sulawesi Tengah. (*)

Data Diri

Nama: Yosef Waleng
Lahir: 5 Maret 1965
Istri: Fatima Betekeneng
Anak: Jesika Betekeneng
Ayah: Mateus Boli Waleng
Ibu: Benedikta Hadjon

Penulis: Frans Krowin
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help