Berita Kabupaten Ende

Syuradikara Tidak Lagi Identik Dengan Drum Band

saat ini keberadaan SMAK Syuradikara, Ende, NTT, tidak hanya identic dengan drum band ataupun kegiatan akademik mentereng

Syuradikara Tidak Lagi Identik Dengan Drum Band
pos kupang.com, romualdus pius
Siswa SMAK Syuradikara yang ikut dalam kelompok teater. 

Laporan Wartawan Pos Kupang.Com, Romualdus Pius

POS KUPANG.COM - Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAK Syuradikara, Ende, Silvester Keu mengatakan saat ini keberadaan SMAK Syuradikara, Ende, NTT, tidak hanya identic dengan drum band ataupun kegiatan akademik mentereng yang dihasilkan  para siswanya.

namun juga dikenal dengan kegiatan teater. Tercatat sudah 10 kali para siswa SMAK Syuradikara Ende mementaskan teater yang dimulai dari teater berjudul versus lalu diikuti dengan Separuh Nafas serta Patah dan Kursi Retak serta yang paling akhir Tungku Haram.

Kepada Pos Kupang, Senin (3/9/2018) Silvester mengatakan khusus untuk teater dengan judul Tungku Haram sengaja diangkat untuk memperlihatkan kepada public tentang realitas kehidupan masyarakat NTT khususnya di Flores dan Kabupaten Ende secara khusus yakni soal perdagangan orang yang mana mereka yang menjadi korban adalah para TKI yang bekerja diluar negeri.

Dengan pementasan teater tersebut diharapkan dapat menggugah para pengambil kebijakan untuk menaruh perhatian lebih kepada masyarakat yang menjadi korban human trafiking dalam arti memberikan perlindungan dan pendampingan serta yang paling utama adalah penyediaan lapangan kerja sehingga dengan demikian tidak banyak warga yang mengadu nasib keluar negeri yang pada akhirnya justru menjadi korban perdagangan orang.

Silvester mengatakan bahwa pada penampilan teater tungku haram yang ketiga ditampilkan di depan Gedung DPRD NTT di Kupang memiliki makna ganda setidaknya ingin menggugah para wakil rakyat untuk lebih memperhatikan keberadaan para TKI dan tenaga kerja lainnya di NTT sehingga tidak menjadi korban human trafiking.

“Saat itu sebenarnya para siswa kami sedang berdemo di depan para wakil rakyat tentang kasus human trafiking namun demo yang kami lakukan dengan cara yang elegan tidak sekedar berteriak di jalan namun para siswa kami berdemo dengan mementaskan teater,”kata Silvester.

Para siswa yang terlibat dalam pementasan teater Tungku Haram 3 di Kupang, Neneng Nadila Milo dan Frensis Fortuna Tora serta Flady Faliyenco F.A Pae mengatakan senang ikut dalam pementasan teater tesebut.

Menurut mereka dengan teater itu mereka setidaknya bisa memberikan sumbangan pemikiran dan daya kritis akan realitas kehidupan masyarakat NTT sehingga bisa menggugah para pengambil kebijakan baik itu pemerintah dan DPRD agar lebih memperhatikan keberadaan TKI asal NTT maupun para pekerja lainnya dengan satu harapan tidak ada lagi warga NTT yang menjadi TKI menjadi korban human trafiking ketika bekerja.

Ketiganya mengaku mereka bangga menjadi bagian dari kelompok teater SMAK Syuradikara karena tidak semua siswa bisa bergabung dalam kelompok teater. “Kami melalui casting terlebih dahulu jadi tidak sekedar asal pilih untuk mengisi peran,”kata Neneng Nadila.

Halaman
1234
Penulis: Romualdus Pius
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help