Berita Nasional

In Memoriam Mantan Ketua PWI Sofyan Lubis Sang Wartawan Tujuh Zaman

“Hidup menjadi berarti kalau mampu meraih mimpi. Dari pelosok Sumatera Utara sana mimpi saya dulu bisa lihat Istana Presiden

In Memoriam  Mantan Ketua PWI Sofyan Lubis Sang Wartawan Tujuh Zaman
istimewa
H. Sofyan Lubis (1941--2018). (Repro cover buku "Dalam Kemelut Pers Orde Baru”, 2017) 

POS KUPANG.COM - - “Hidup menjadi berarti kalau mampu meraih mimpi. Dari pelosok Sumatera Utara sana mimpi saya dulu bisa lihat Istana Presiden di Jakarta. Eh, gara-gara jadi wartawan, saya bukan cuma lihat dan masuk itu istana, tapi juga sekaligus pernah bersalamaman dengan tujuh Presiden Indonesia.”

Ucapan penuh optimisme itu menjadi salah satu petikan pengalaman H. Sofyan Lubis, tokoh pers nasional yang meninggal dunia, Minggu (2/9/2018), sekira pukul 16.00 WIB di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Baca: Pusam Mempertanyakan Penggunaan Dana Pilkada Ende Rp 40 Miliar

Pria yang lahir di Tanjung Morawa, Sumatera Utara, pada 22 November 1941 itu dalam sejumlah kesempatannya berbincang dengan sejawatnya di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) selalu tampak penuh antusiasme bila menceritakan dunia kewartawanan.

Ia selalu senang menceritakan sejumlah momen khusus bisa bersalamanan dan berbicara dengan Presiden Republik Indonesia, mulai Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono hingga Joko Widodo.

Oleh karena itu, dirinya bangga dengan sebutan wartawan tujuh zaman, alias tujuh zaman pemerintahan Presiden RI.

“Selain ingin lihat Istana Presiden, saya sejak kecil ingin keliling dunia. Eh, gara-gara jadi wartawan pula bisa berkeliling dunia. Bahkan, saya sering jalan-jalan tanpa modal,” ujarnya, dalam satu percakapan dengan sejumlah alumni International Institute of Journalism (IIJ), Berlin. Jerman.

Pak Sofyan, demikian kalangan pers nasional menyebutnya, selain sebutan Bung Sofyan atau Bang Sofyan, termasuk alumni IIJ Berlin pada musim panas 1972. Program pelatihan yang dijalaninya di Jerman itu merupakan beasiswa sepenuhnya dari Pemerintah Jerman Barat (kini Jerman).

“Jujur saja, saya tidak mahir berbahasa Inggris, apalagi Jerman, saat berangkat ke sana. Beruntung saya sekelas dengan Tribuana Said yang jago Bahasa Inggris dan asli anak Medan. Ke mana-mana selama di Jerman, saya banyak ikut Tri,” kata pria yang memulai karir jurnalistik di Jakarta pada 1962 itu.

Tribuana Said, sang karib Sofyan, adalah putra sulung pasangan Mohammad Said dan Ani Idrus yang keduanya mendirikan Harian Waspada di Kota Medan pada 1946. Baik Sofyan dan Tribuana semakin bersahabat saat aktif berkiprah di PWI Pusat.

Di PWI pula, selain di harian Pos Kota Jakarta, Sofyan mengakui cakrawalanya semakin terbuka luas. Bahkan, ia sempat memimpin organisasi profesi wartawan yang didirikan di Solo, Jawa Tengah, pada 9 Februari 1946 itu.

Halaman
123
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help