Cerpen dan Puisi

Berbagi Luka : Cerpen Arysh Dhae

Ia kerap bercucuran air mata setiap kali aku menemukannya. Nuraniku meriak ingin bertanya apa gerangan yang membuatmu menangis?

Berbagi Luka : Cerpen Arysh Dhae
ilustrasi

SRINKA, teman kuliahku, gadis bertubuh langsing dengan mata sejuk dan rambut disanggul. Namun, keteduhan mata dan gerakannya yang ayu seakan tidak membawa pesona kelembutan. Jati dirinya yang demikian malah memancarkan aura penderitaan yang dengan kejam menyeruak dan mencabik kepribadiannya. Punggungnya yang sedikit bongkok menambah kesan serupa, seolah ada serangkaian kekejian yang menumpuki pundaknya itu.

Ia kerap bercucuran air mata setiap kali aku menemukannya. Nuraniku meriak ingin bertanya apa gerangan yang membuatmu menangis? Namun, keraguan membuat suatu pertanyaan terbersit di benakku; mengapa engkau tidak menangisi dirimu sendiri? Karena kini akupun sedang melintasi lorong-lorong hidup yang telah dikerasi gilasan roda-roda baja. Seluruh jalan hidupku sudah dibuat menjadi tidak berlekuk.

Roda-roda baja itu telah memaksa jalan hidupku yang tumbuh menggumpal tumbang menjadi rata dan menyiksaku agar jalan hidupku yang kubiarkan melegong tertutup abu kemauan dan keinginan orang lain. Aku dilarang untuk membangun jalan hidup seturut rasa yang ingin kuekspresikan. Malah aku dipaksa untuk membangun jalan hidup seturut kehendak berekspresi pribadi lain. Kini pun aku telah menjadi mati rasa.
Aku tidak dapat menangis ataupun tertawa lagi.

Baca: Kabar Gembira bagi Pencari Kerja! Pemkab Kupang Dapat Kuota CPNSD 249 Kursi dari BKN

Saat kudengar Srinka yang menangis, seakan ia memanggil lewat bisikan suara hatiku. Kemudian aku menyadari bahwa keraguan itu harusnya kuabaikan. Karena aku tidak bermaksud untuk menangis bersamanya. Aku tidak punya tawa dan air mata lagi. Aku hanya punya kata dan itulah senjataku kini untuk memerangi derita tanpa batas ini. Karena itu kusangka aku masih sanggup menyembuhkan Srinka dari penderitaannya sebab aku masih sanggup membuatnya berbagi kisah dan aku sendiripun masih sanggup pula berbagi kisah dengannya.
***
Aku ingin memintanya berkisah, sebab kutahu dengan berkisah tentang penderitaannya Srinka tidak hanya akan menerima penderitaannya dengan air mata.

Bila penderitaannya ia kisahkan ia akan menemukan maknanya dan kemudian bangkit untuk memulai hidup baru dengan harapan. Namun, aku tahu aku tidak mungkin lantas bertanya apa yang kau tangisi? Maka aku berniat mendekatinya perlahan, dengan membuka kisah lazim komunitas intelektual; kisah teman belajar.

"Srinka, apakah engkau sudah menyelesaikan tugas bahasa Inggrismu?" Aku bermaksud menawarkan bantuanku.
"Oh, belum kaka, ini nih, masih lagi tiga nomor!" sahut Srinka, menyambut tawaranku. Aku segera duduk di sampingnya dan kucurahkan seluruh perhatianku pada tugas itu. Setelah tugas itu selesai, Srinka meminta bantuanku dalam persiapan ulangan dan untuk menyelesaikan beberapa tugas lain. Aku sungguh-sungguh membantunya sehingga kami sungguh-sungguh menjadi teman belajar. Kami kemudian melewati banyak waktu dalam laku persahabatan hingga akhirnya kami saling bersandar dalam harapan dan mulai saling berbagi kisah.
"Kak Aporia, saya ingin curhat deng kaka!" kata Srinka padaku.

Baca: Jusuf Kalla Minta Caleg Unjuk Gigi, Bukan Serang Lawan

***
Aku puteri kedua dari tujuh bersaudara. Orangtuaku adalah petani dan kami hidup dalam kemiskinan. Suatu ketika, saat aku duduk di bangku kelas III SD mereka menitipkanku pada keluarga pamanku. Aku lalu hidup bersama paman dan bibi di kota ini. Saat itu mereka baru menikah dan belum berputra, pamanku adalah seorang pengusaha dan bibi adalah karyawati di sebuah bank. Dapat dikatakan bahwa keluarga paman dan bibi hidup berkecukupan. Namun, aku mesti tahu diri kalau aku bukan puteri adopsi, apalagi beberapa tahun kemudian paman dan bibi berputra.

Aku dibebani tugas yang tidak sedikit. Mulai dari urusan dapur, sepupu-sepupuku yang masih kecil hingga melayani di kios milik paman. Karena sifat kekanak-kanakanku maka aku tidak dapat bertanggung jawab sepenuhnya pada tugas-tugas itu. Kisah hidup yang kurangkai ini, kemudian sungguh menjadi suatu balada. Bibiku selalu menyajikan cubitan tak manja pada kulitku dengan rotannya dan sikap sepupuku yang menjengkelkan bagaikan kokok ayam jantan yang membuatku terjaga setiap waktu. Air mata selalu melicinkan wajahku, sebab suasana di rumah paman sungguh menjadi neraka bagiku.

Aku menjadi rindu pada rumah dan kampung halamanku, pada canda tawa adik-adikku, pada belaian ibuku. Siang malam hidupku kemudian kuhabiskan untuk menanti bapak. Aku ingin bapak segera membawaku kembali ke rumah kami. Tahun demi tahun berlalu bapak masih belum menengokku. Aku akhirnya tamat SD dan melanjutkan pendidikan di SMP.

Di suatu sore, saat aku sedang bersama bibi di dapur, ayahku datang. Hatiku seakan ingin melonjak sebab penantian panjangku akhirnya tiba. Aku berpikir bahwa Bapak nanti akan menanyakan keadaanku? Dan bila ia menanyai hal itu seluruh ratap tangisku pasti akan kumuntahkan di hadapannya. Malam itu setelah makan malam aku dan bibi bergabung bersama bapak dan paman yang sudah lama mengobrol di ruang depan.

Mereka menggodaku. "Ine, kau sudah besar!" kata Bapak.
"Dia sudah ada pacar," sambung paman. Bapak tertawa sambil menatapku.
Bibi kemudian menimpali, "Ee., saya punya anak mau sekolah dulu," katanya.
Aku terdiam tak menanggapi gurauan mereka, aku hanya menunggu pertanyaan dari bapak tentang keadaanku. Namun, malam itu bapak sibuk membicarakan urusan adat dan berbagi hal ihwal di kampung bersama paman dan bibi. Hingga keesokan harinya, saat bapak bersiap untuk pulang, pertanyaan itu belum juga datang. Aku menantinya di depan rumah dan bila Bapak menanyakan keadaanku pasti bukan hanya keluh-kesahku yang melompat dari tenggorokanku, tetapi akupun akan melompat ke dalam bus yang akan membawanya.

Bus yang akan membawa bapak sudah tiba. Bapak menghampiriku dan menggandengku, kami bersama-sama melangkah ke tempat bus berhenti. Bapak kemudian berbicara kepadaku, "Ine, maaf Bapak tidak punya uang. Kau tinggal saja dengan paman dan bibi di sini eee...!" Bibi lantas berbicara menyambut ucapan Bapak. "Tidak apa, dia tinggal dengan kami saja," kata bibi seraya menggamiti lenganku.

Baca: Prof Colin Binns Ajak Para Ibu Lebih Lama Memberikan ASI untuk Bayinya

Bus yang ditumpangi bapak melaju meninggalkan kami sambil menghembuskan asap melalui knalpotnya. Bus itu melaju makin kencang dan asap itu kian pekat seolah ingin menghalangi mataku yang masih ingin menangkap rupa bus itu. Bus itu akhirnya tidak sanggup lagi ditangkap mataku; ia menghilang di tikungan jalan.

Hilang pula harapan yang sudah ditangkap hatiku. Bus itu telah merebutnya dan membiarkan hatiku memasuki kegelapan. Kesendirian menghampiriku lagi. Kularikan diriku ke dalam bilik, sahabat dan saksi bagi kesendirianku.

Hari-hari berikutnya aku menjadi sadar bahwa aku tidak sanggup menyandarkan harapanku pada keluargaku lagi. Aku kemudian menggantungkan harapanku pada sekolah. Hanya bila aku sukses dalam pendidikan maka aku dapat keluar dari rumah ini dan menemukan masa depanku sendiri. Aku melanjutkan pendidikanku dengan dibiayai pamanku. Setahun lalu aku menamatkan SMA dan masuk di kampus ini. Awalnya aku berpikir bahwa tinggal selangkah lagi aku akan menemukan mimpiku.

Namun, sejak beberapa minggu yang lalu harapanku diguncang sehingga aku tidak mampu lagi lebih optimis tehadap mimpiku itu. Paman telah memutuskan untuk tidak lagi membiayai kuliahku demi memangkas beban ekonomi keluarga. Hidupku rasanya sudah berakhir. Aku tidak tahu ke mana harus kulabuhkan pengharapanku lagi. Aku tidak punya siapa-siapa untuk bersandar lagi; bapak, paman maupun sekolah, rasanya mereka tidak mau memberikan pundaknya bagiku.

Baca: Deretan Atlet Asing yang Jadi Sorotan pada Asian Games 2018

***
Dari pengalamanku, kutahu amat beresiko bila kubiarkan Srinka yang diberondong berbagai pengabaian dari mereka yang mempunyai hak asuh atas dirinya melangkah seorang diri. Kusadari pula bahwa alangkah indah bila seorang yang diabaikan menemukan orang lain yang dilukai oleh masalah yang sama. Karena hanya yang pernah terluka yang dapat memahami orang yang sedang terluka. Sementara itu, aku pun ingin agar Srinka menemukan sahabat bagi jiwanya itu. Maka aku pun mulai membuka catatan lembaran hidupku yang memang setali tiga uang dengan Srinka.
***
Srinka, aku pun pernah disendirikan dan hingga saat aku menemukanmu aku berada dalam kesendirian. Ibuku menyuruhku pergi ke Pulau Besar. Alasan Ibu adalah pendidikan di sana lebih murah dan juga berkualitas. Aku akhirnya pergi dengan mimpi menemukan harta karun yang dipendam dunia pendidikan Pulau Besar itu.

Hari berganti hari aku berjuang untuk menuntaskan kuliahku. Aku datang sebagai minoritas dan kemudian bertemu pemuda-pemuda picik yang berlagak bijaksana. Persatuan mereka anggap keseragaman. Kekhasan individu mereka abaikan, katanya itu demi kolektivitas. Namun, petualanganku untuk menemukan harta karun itu malah memukul dan melempar aku ke dalam alam kesendirian yang mengancing seluruh inderaku. Seiring dengan itu aku makin disudutkan para pemuda picik itu. Hingga akhirnya aku merasa tidak sanggup menghadapi mereka lagi. Aku akhirnya memutuskan untuk kembali ke Pulau ini dan berpikir untuk melanjutkan studi di tempat ini saja. Saat aku tiba di rumah, keluargaku ternyata tidak mau memahamiku, menurut mereka aku menyia-nyiakan uang ibuku. Mereka memutuskan untuk tidak lagi menyekolahkanku.

Baca: Jusuf Kalla Minta Caleg Unjuk Gigi, Bukan Serang Lawan

Aku tidak bisa mengubah keputusan mereka, tetapi aku pun tidak bisa mengabaikan hasratku untuk menemukan harta karun yang dipendam dunia pendidikan. Maka aku melarikan diri ke kota ini, berguru di Kampus ini sambil bekerja untuk membiayai kuliahku. Kaum kerabatku telah memilih untuk menjauh dariku. Kini aku tertindih oleh amarah mereka dan tercampak ke dalam tubir yang gelap gulita; terpisah dari cinta mereka.
***
Kini kami berangkat ke kampus dengan lebih bergairah. Ada sesuatu di sana yang seakan telah menambatkan hati kami. Di saat kami bertemu mata, kami akan beradu pandang dan masing-masing merasakan pancaran aneh, yang muncul setelah kami saling berbagi kisah, dari dia yang dipandang. Senyum segar terpatri abadi di wajah kami dan rasanya hanya kepada kami berdua bunga yang kembali mekar di awal musim semi itu ditujukan.

Hari ini, tanggal 15 Agustus, hari ulang tahunku. Sepanjang usiaku yang sudah menjelang dua dekade, tanggal ini tidak pernah menyajikan kejutan istimewa bagiku. Satu-satunya kebanggaan karena tanggal lahirku ini adalah aku se-zodiak dengan Napoleon Bonaparte, sang jenderal terbesar Eropa, serta pahlawan dan martir yang agung dari El Salvador, Mgr. Romero. Namun, pagi tadi Srinka mengajakku untuk pergi bersamanya malam nanti. Tentu tujuan kami bukan tempat-tempat maha-istimewa, hanya rumah makan pasar malam. Ini mungkin kejutan bagiku.

Baca: Ini Penyebab Kematian Bintara Polisi yang Tewas Dianiaya Dua Seniornya

***
Malam telah tiba, kami sudah duduk berhadapan di salah satu meja di rumah makan yang kami tuju. "Aporia," panggil Srinka perlahan. Aku menatap padanya, Srinka menarik napas pelan-pelan dan kemudian ia mengulurkan tangannya yang menggenggam suatu kotak kecil. "Kado ulang tahun untukmu," kata Srinka sesaat setelah kuterima kotak itu dari tangannya. Dua untaian kalung dengan liontin berbentuk gabungan huruf A dan S bertakhta di dalamnya. Ah, Srinka, rasaku memang telah tenggelam dalam kelamnya penderitaan yang menyerupai kelamnya malam. Namun, kini di malam yang kelam pula kau mengangkatnya. Aku mengecup keningnya, sesaat ia nampak kaget tetapi serentak pula ia membalas kecupanku. Kami kemudian saling mengalungkan kedua untaian kalung itu pada tonggak yang menegakkan suatu istana di mana energi untuk menatap hari baru dengan harapan dan kepercayaan berdiam.

Aku merenung dan berusaha memahami makna kekelaman yang ke dalamnya kami masing-masing telah jatuh. Hingga akhirnya aku tiba pada suatu kesadaran yang membersitkan suatu syair, dari seorang Pujangga, yang kiranya sanggup menjelaskan makna itu. Aku lalu menulis syair itu di atas tabut yang menjadi halaman terakhir kisah kekelaman kami. Inilah yang tertulis di atas tabut itu. Wahai MALAM pembimbing MALAM yang jauh melebihi fajar dan yang mempersatukan KEKASIH dan KEKASIH.***
(Agustus 2018. Tinggal di Rumah Novisiat OCD Bogenga-Bajawa).

Catatan:
*Ine: sapaan untuk wanita dalam bahasa Negekeo.

Puisi James Sutaluwa
(Siswa SMA Seminari St. Rafael)
Kemarau Rindu

Batang-batang itu adalah kenangan
Bersama daun yang kian mengering
Dan akhirnya tertiup angin
Burung-burung yang dulu tertawa
Dengan suaranya yang indah
Kini tertunduk berat merendah diri
Bersatu dengan tanah dalam kenangan
Lalu,
Sang burung bercerita
Menangisi temannya
Tiada tempat mengadu
Selain dari pada rindu
Panas, kering, hangus
Menelan kenangan
Yang tersisa adalah cinta, kenangan dan rindu

Puisi Patris Bulu Manu
Penyesalan

Mentari memecahkan cakrawala
Dalam hembusan penantian
Menembus dinding-dinding kehidupan
Yang tersayat rindu

Namun,
Semuanya telah purna
Dirasuki kebohongan

Kini
Aku tahu
Semuanya telah berakhir

Puisi Agustinus Gunadin
Layakkah Engkau Marah

1
Dalam sepiku, kutemukan sebuah ruang kosong
Tentang manusia yang tak lagi melihat sesama
Sebagai "tuan" atas revelasi ciptaan
Terlihat jelas dalam kasat mata publik
Begitu kosong
"Omnes Vos Fratres Estis"

II
Saat rindu memang ada
Kepingan-kepingan tubuh pun mulai terbagi
Seperti serakah atas sampah
Tubuh ini sering tidak lagi dilihat
Sebagai bait "Roh Kudus"
Yang ada
Gumpalan darah kemanusian
Sebagai tumbal atas kepincangan pemahaman dogma picik
Kehidupan seseorang yang berbeda keyakinan
Layak sebagai serakah
Kematian seseorang sebagai jawaban eskatologis
Tentang keselamatan

III
Sederet kepingan waktu
Selalu berbicara untuk terus bergulir
Walaupun teriakan para korban sebagai horizon masa lalu
Namun menghantui cara berada kemanusian masa kini
Kapan kita damai?
Kapan cerita teroris berhenti meneror
Menemukan pencerahan atas "Kesalahpahaman"
Bahwa manusia lain bukan sebagai mainan
Pencobaan dalam kasus "Pemboman"
"Omnes Vos Frates Estis"
Sebagai jawaban pluralisme negeri ini
(San Camillo: GND, Cin Mei 2018)

Demokrasi Si Pemodal

I
Kisah seorang penyair selalu mengarungi masa lalu
Menjadi masa kini
Bertarung melawan sunyi menjadi tirai
Melampaui malam yang gelap
Lalu pelan menjadi fajar
Catatan sunyi.
Antara calon pemimpin
Menyasar pada rumah para pemodal

II
Kata-kata perjanjian selalu menggambarkan
Kebisuan para pemimpin di hadapan pemodal
Yang memasang jerat kebijakan
Tentang harga komoditi rakyat teri
Lalu senyap dalam ingatan
"ini bukan urusan pemimpin tapi pemodal"
Pelan-pelan kehidupan rakyat teri
Kehilangan oase kebahagian

III
Ini mungkin catatan penggiran penyair
Bahwa negeri ini "politiknya terlalu mahal"
Lantas, politisi pelentir mencari celah
Bisakah harga politik dijangkau?

IV
Sambil ingatan tak lekang surut
Mengenang dan memaknai setiap momentum
Percaturan politik menjadi tradisi
Bahwa kehilangan kebijakan menjadi pemimpin
Bentuk lain dari penyerahan
Untuk memenangkan pemilik modal

V
Sebuah keajaiban rindu
Masa depan rakyat teri
Berhentilah meminang dengan pemodal
Lalu muara dalam rangkaian niat
"harga mati rakyat teri, dipacung harga komoditi"
Hingga kenangan masa kepemimpinan
Masih berbaju, " membela rakyat kecil"
(Gnd, MI: San Camillo 2018)

Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help