Cerpen dan Puisi

Berbagi Luka : Cerpen Arysh Dhae

Ia kerap bercucuran air mata setiap kali aku menemukannya. Nuraniku meriak ingin bertanya apa gerangan yang membuatmu menangis?

Berbagi Luka : Cerpen Arysh Dhae
ilustrasi

1
Dalam sepiku, kutemukan sebuah ruang kosong
Tentang manusia yang tak lagi melihat sesama
Sebagai "tuan" atas revelasi ciptaan
Terlihat jelas dalam kasat mata publik
Begitu kosong
"Omnes Vos Fratres Estis"

II
Saat rindu memang ada
Kepingan-kepingan tubuh pun mulai terbagi
Seperti serakah atas sampah
Tubuh ini sering tidak lagi dilihat
Sebagai bait "Roh Kudus"
Yang ada
Gumpalan darah kemanusian
Sebagai tumbal atas kepincangan pemahaman dogma picik
Kehidupan seseorang yang berbeda keyakinan
Layak sebagai serakah
Kematian seseorang sebagai jawaban eskatologis
Tentang keselamatan

III
Sederet kepingan waktu
Selalu berbicara untuk terus bergulir
Walaupun teriakan para korban sebagai horizon masa lalu
Namun menghantui cara berada kemanusian masa kini
Kapan kita damai?
Kapan cerita teroris berhenti meneror
Menemukan pencerahan atas "Kesalahpahaman"
Bahwa manusia lain bukan sebagai mainan
Pencobaan dalam kasus "Pemboman"
"Omnes Vos Frates Estis"
Sebagai jawaban pluralisme negeri ini
(San Camillo: GND, Cin Mei 2018)

Demokrasi Si Pemodal

I
Kisah seorang penyair selalu mengarungi masa lalu
Menjadi masa kini
Bertarung melawan sunyi menjadi tirai
Melampaui malam yang gelap
Lalu pelan menjadi fajar
Catatan sunyi.
Antara calon pemimpin
Menyasar pada rumah para pemodal

II
Kata-kata perjanjian selalu menggambarkan
Kebisuan para pemimpin di hadapan pemodal
Yang memasang jerat kebijakan
Tentang harga komoditi rakyat teri
Lalu senyap dalam ingatan
"ini bukan urusan pemimpin tapi pemodal"
Pelan-pelan kehidupan rakyat teri
Kehilangan oase kebahagian

III
Ini mungkin catatan penggiran penyair
Bahwa negeri ini "politiknya terlalu mahal"
Lantas, politisi pelentir mencari celah
Bisakah harga politik dijangkau?

IV
Sambil ingatan tak lekang surut
Mengenang dan memaknai setiap momentum
Percaturan politik menjadi tradisi
Bahwa kehilangan kebijakan menjadi pemimpin
Bentuk lain dari penyerahan
Untuk memenangkan pemilik modal

V
Sebuah keajaiban rindu
Masa depan rakyat teri
Berhentilah meminang dengan pemodal
Lalu muara dalam rangkaian niat
"harga mati rakyat teri, dipacung harga komoditi"
Hingga kenangan masa kepemimpinan
Masih berbaju, " membela rakyat kecil"
(Gnd, MI: San Camillo 2018)

Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved