Cerpen dan Puisi

Berbagi Luka : Cerpen Arysh Dhae

Ia kerap bercucuran air mata setiap kali aku menemukannya. Nuraniku meriak ingin bertanya apa gerangan yang membuatmu menangis?

Berbagi Luka : Cerpen Arysh Dhae
ilustrasi

***
Malam telah tiba, kami sudah duduk berhadapan di salah satu meja di rumah makan yang kami tuju. "Aporia," panggil Srinka perlahan. Aku menatap padanya, Srinka menarik napas pelan-pelan dan kemudian ia mengulurkan tangannya yang menggenggam suatu kotak kecil. "Kado ulang tahun untukmu," kata Srinka sesaat setelah kuterima kotak itu dari tangannya. Dua untaian kalung dengan liontin berbentuk gabungan huruf A dan S bertakhta di dalamnya. Ah, Srinka, rasaku memang telah tenggelam dalam kelamnya penderitaan yang menyerupai kelamnya malam. Namun, kini di malam yang kelam pula kau mengangkatnya. Aku mengecup keningnya, sesaat ia nampak kaget tetapi serentak pula ia membalas kecupanku. Kami kemudian saling mengalungkan kedua untaian kalung itu pada tonggak yang menegakkan suatu istana di mana energi untuk menatap hari baru dengan harapan dan kepercayaan berdiam.

Aku merenung dan berusaha memahami makna kekelaman yang ke dalamnya kami masing-masing telah jatuh. Hingga akhirnya aku tiba pada suatu kesadaran yang membersitkan suatu syair, dari seorang Pujangga, yang kiranya sanggup menjelaskan makna itu. Aku lalu menulis syair itu di atas tabut yang menjadi halaman terakhir kisah kekelaman kami. Inilah yang tertulis di atas tabut itu. Wahai MALAM pembimbing MALAM yang jauh melebihi fajar dan yang mempersatukan KEKASIH dan KEKASIH.***
(Agustus 2018. Tinggal di Rumah Novisiat OCD Bogenga-Bajawa).

Catatan:
*Ine: sapaan untuk wanita dalam bahasa Negekeo.

Puisi James Sutaluwa
(Siswa SMA Seminari St. Rafael)
Kemarau Rindu

Batang-batang itu adalah kenangan
Bersama daun yang kian mengering
Dan akhirnya tertiup angin
Burung-burung yang dulu tertawa
Dengan suaranya yang indah
Kini tertunduk berat merendah diri
Bersatu dengan tanah dalam kenangan
Lalu,
Sang burung bercerita
Menangisi temannya
Tiada tempat mengadu
Selain dari pada rindu
Panas, kering, hangus
Menelan kenangan
Yang tersisa adalah cinta, kenangan dan rindu

Puisi Patris Bulu Manu
Penyesalan

Mentari memecahkan cakrawala
Dalam hembusan penantian
Menembus dinding-dinding kehidupan
Yang tersayat rindu

Namun,
Semuanya telah purna
Dirasuki kebohongan

Kini
Aku tahu
Semuanya telah berakhir

Puisi Agustinus Gunadin
Layakkah Engkau Marah

Halaman
1234
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved