Berita Headline Pos Kupang

Warga Kupang Nyaman Pakai Ojek Online, Ini Alasannya

Ojek online merambah Kota Kupang. Umumnya warga pengguna jasa merasa nyaman menggunakan ojek online seperti grabbike.

Warga Kupang Nyaman Pakai Ojek Online, Ini Alasannya
ISTIMEWA
Komunitas Grabbike Kota Kupang menjadi peserta pawai dalam rangka memeriahkan HUT ke-73 Kemerdekaan RI tahun 2018. 

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Ojek online merambah Kota Kupang. Umumnya warga pengguna jasa merasa nyaman menggunakan ojek online seperti grabbike. Demikian juga dengan grabcar (mobil).

Beragam alasan dikemukakan, di antaranya mudah diakses, tarifnya murah serta driver (pengemudi) bersih dan rapi.

Memesan grabbike lebih simpel. Tidak perlu mencari, cukup memencet handphone (HP) sendiri. Waktu menunggu juga tidak lama, tidak ada tawar-menawar ongkos dan fasilitas keamanan seperti helm yang baik.

Baca: Nadine Chandrawinata Kini Punya Pasangan Traveling, Siapa Dia?

Warga Kota Kupang, Ulivia Kurnianing Diah mengatakan, kehadiran grabbike dan grabcar sangat membantu masyarakat perkotaan, terutama pekerja kantoran seperti ASN, karyawan swasta dengan tingkat kesibukan yang tinggi.

"Memesan grabbike sangat mudah. Konsumen tinggal membuka aplikasi Gojek lalu mendaftar. Selanjutnya, driver ojek online akan menelepon pemesan untuk konfirmasi," kata Ulivia saat ditemui, Kamis (27/8/2018).

Dalam aplikasi tersebut, lanjut Ulivia, sudah tertera berapa ongkos yang harus dibayar kepada tukang ojek online sehingga tidak ada tawar-menawar. "Ya...begitulah, saya merasa lebih nyaman pakai jasa ojek online. Mudah-mudahan ojek online ini semakin dikenal luas oleh masyarakat," ujarnya.

Warga Kelurahan Liliba, Graciana Naben mengatakan ojek online gampang dikenali karena punya ciri khas seperti memakai jaket berwarna hijau atau hitam dengan tulisan Grab di bagian belakang.

Ia punya kesan terhadap driver ojek online. Menurutnya, umumnya driver bersih dan rapi. Sepeda motor yang digunakan juga bersih. Atribut dan aksesorisnya lengkap seperti lampu reting, kaca spion dan plat nomor kendaraan.

Bagi Graciana, penampilan tukang ojek online sudah memiliki daya tarik tersendiri bagi konsumen. "Saya suka penampilan mereka, tidak hanya rapi dan bersih, atribut-atribut kendaraan umumnya lengkap," tuturnya.

Keunggulan ojek online itu menjadi alasan mengapa dirinya lebih memilih menggunakan jasa ojek online. "Tentu kita ingin aman dan selamat. Saya kira ojek online memenuhi standar berkendaraan. Kalau bersih rapi dan atributnya lengkap, ya konsumen pasti lebih nyaman," tambahnya.

Graciana mengaku pernah menggunakan jasa tukang ojek pangkalan. Namun dirinya khawatir dan waswas. Apalagi, banyak tukang ojek pangkalan agak ugal-ugalan saat berkendara. Mereka juga sering melanggar aturan lalu lintas.

"Banyak juga ojek pangkalan tapi saya khawatir. Kadang spion, reting, dan helm tidak ada. Belum lagi SIM, siapa yang tahu? Jadi kurang memberikan kenyamanan. Mereka juga terkadang ngebut dan melambung di jalan. Ini yang membuat tidak nyaman," ujar Graciana.

Selain itu, tukang ojek pangkalan cenderung kasar dan berebutan penumpang. Tarif yang diberlakukan juga beragam.

Marselina Ene mengaku belakangan ini suka menggunakan jasa ojek online ketimbang tukang ojek biasa atau pangkalan. Alasannya, tarif ojek online lebih murah dan tetap, sedangkan tarif ojek biasa atau pangkalan mahal serta berubah-ubah seturut keinginan si tukang ojek.

Gadis yang akrab disapa Ayu ini mengatakan, saat memesan lewat aplikasi Gojek, sudah langsung tertera tarifnya. "Jadi lebih nyaman," ujar mahasiswi Undana ini.
Warga lainnya, Dian Kesu mengaku sudah meninggalkan ojek pangkalan dan beralih menggunakan ojek online. Ia kesal gara-gara tarif ojek biasa atau ojek pangkalan tinggi dan ditentukan sesuka hati oleh tukang ojek.

"Pernah saya pergi belanja. Saya naik ojek dari Jalan Bumi, Kelurahan Oesapa Selatan ke Lippo Plaza, tarifnya Rp 10.000. Eh...pas pulang, pakai ojek yang lain tarifnya malah naik sebesar Rp 15.000, " ujarnya.

Ia sempat bertanya kepada tukang ojek pangkalan, mengapa tarifnya tinggi dan berbeda antartukang ojek? Si tukang ojek pangkalan menjawab bahwa memang masing-masing ojek tarifnya berbeda. Dian Kesu berharap ada pemerataan tarif ojek sehingga biaya hidupnya tidak membengkak. "Kasihan kami yang masih sekolah. Kami masih bergantung pada orangtua," kata Dian. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help