Berita Internasional

Trump Sebut Dirinya Lebih Sabar daripada Manusia Mana Pun di Dunia

Presiden AS Donald Trump menyanjung dirinya sendiri sebagai orang paling sabar di dunia

Trump Sebut Dirinya Lebih Sabar daripada Manusia Mana Pun di Dunia
KOMPAS.com/AFP PHOTO/SAUL LOEB
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un (kanan) berjalan bersama Presiden AS, Donald Trump pada pertemuan bersejarah antara AS-Korea Utara, di Hotel Capella di Pulau Sentosa, Singapura, Selasa (12/6/2018). Pertemuan ini merupakan yang pertama kalinya bagi pemimpin kedua negara dan menjadi momentum negosiasi untuk mengakhiri kebuntuan permasalahan nuklir yang telah terjadi puluhan tahun. 

POS-KUPANG.COM | WASHINGTON - Presiden AS Donald Trump menyanjung dirinya sendiri sebagai orang paling sabar di dunia karena mampu menghadapi pemimpim Korea Utara Kim Jong Un, yang belum mengambil langkah nyata untuk melepaskan persenjataan nuklirnya.

Padahal kedua pihak telah menyepakati untuk denuklirisasi Semenanjung Korea saat pertemuan bersejarah di Singapura pada Juni lalu.

"Saya memiliki kesabaran lebih besar dari manusia mana pun di dunia. Orang-orang hanya tidak mengerti hal itu tentang saya," kata Trump dalam sebuah wawancara di Gedung Putih, Kamis (30/8/2018), dilansir SCMP.

Baca: Israel Dukung Keputusan AS Hentikan Dana Bantuan untuk UNRWA

Trump juga kembali menegaskan hubungannya dengan Kim tetap "baik". Presiden berusia 72 tahun itu menyontohkan pembebasan warga AS yang sempat ditahan Korea Utara sesaat sebelum pertemuan di Singapura.

Selain itu, Pyongyang telah menahan diri untuk tidak menggelar uji coba senjata nuklir maupun misil mereka.

"Anda tidak melihat uji coba misil, tidak melihat uji coba roket. Kami mendapatkan kembali para sandera. Dan belum ada lagi uji coba nuklir. Dan itu cukup baik," tambahnya.

Pekan lalu, Trump telah membatalkan rencana perjalanan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo ke Korea Utara, setelah menyimpulkan bahwa tidak ada cukup kemajuan dalam pembicaraan yang ditujukan untuk denuklirisasi Semenanjung Korea.

Lalu pada Rabu (29/8/2018), Trump menuduh China telah mengacaukan upaya AS dalam menekan Korea Utara untuk menyerahkan persenjataan nuklirnya.

"Korea Utara berada di bawah tekanan yang sangat besar dari China karena perselisihan dagang kami dengan pemerintahan Beijing," kata Trump dalam akun Twitter-nya.

"Pada saat yang sama, kami juga mengetahui bahwa China memberikan bantuan besar kepada Korea Utara, termasuk dari uang, bahan bakar, pupuk dan berbagai komoditas lainnya. Dan hal itu tidaklah membantu," tambah Trump.

Sikap yang ditunjukkan Trump sangat kontras dengan optimisme usai pertemuan dengan Kim di Singapura, di mana dia mengatakan di antara mereka telah terjalin sebuah ikatan dan menegaskan jika Kim akan berkomitmen dengan denuklirisasi.

Menanggapi hal itu, Trump mengatakan hubungan baiknya dengan Kim bukan berarti tidak akan berubah.

"Saya memiliki hubungan baik dengan Kim Jong Un dan saya tidak mengatakan bahwa itu tidak akan berubah. Itu bisa saja berubah. Segala situasi bisa berubah," ujarnya dalam wawancara. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help