Opini Pos Kupang

Lewotana Adalah Rumah bagi Kemuliaan

Lewotana adalah kesatuan antara realitas abstrak (lewo) dan realitas material (tana). Seperti jiwa dan raga

Lewotana Adalah Rumah bagi Kemuliaan
ilustrasi

Lewotana adalah hal besar yang ada di balik segala tindak-tanduk, sikap dan laku baik secara individu maupun kolektif. Apapun ilmu, kecakapan, kehebatan dan pencapaian seseorang, tak bernilai, jika tidak untuk kebaikan dan kesejahteraan banyak orang.

Mewariskan kebaikan, kemuliaan, keluhuran dan keutamaan manusia menjadi tugas setiap generasi. Yang dilakukan orang tua mesti diteruskan oleh anak-cucu agar siklus kebaikan tidak boleh berhenti di dalam kehidupan ber-lewotana.

Hidup bukan melulu soal makan-minum. Kekayaan tidak selalu identik dengan materi. Hidup bernilai dan bermakna jika kekayaan materi membantu orang banyak menemukan makna hidupnya. Kekayaan pemimpin bukan rumah atau harta melainkan keselamatan dan kesejahteraan orang-orang yang dipercayakan kepadanya.

Orang besar tidak perlu cari besar. Apalagi berlagak besar. Karena yang besar adalah lewotana. Kekuatan dan kuasa merupakan titipan lewotana. Orang berilmu sedapatnya bicara dengan bahasa dan cara orang-orang `bodoh'. Tampak bodoh tapi sejatinya pintar. Itu kearifan lewotana. Bukan sebaliknya, orang kampung bilang, " pintar-pintar sampai bodoh". Omong besar seolah paling tahu namun tak bisa melihat dan mengurus hal-hal kecil dan sederhana.

Orang yang menyimpan lewotana di hatinya selalu menjaga keluhuran dan kemuliaan hidup. Uang tak dapat membeli harga diri dan nuraninya. Jujur, tulus dan tegas. Tidak nyaman dengan pencitraan. Apalagi doyan selfie supaya tampak penting dan dipuja-puji.

Jualan

Hari ini lewotana jadi serupa barang dagangan. Ketika masih calon anggota legislatif (caleg) misalnya, nama lewotana dibawa-bawa . Dikampanyekan sebagai panggilan lewotana.

Setelah menjadi anggota legislatif, alih-alih memperjuangkan nasib rakyat banyak malah memuluskan rencana membeli mobil dinas baru termasuk proyek-proyek pengadaan barang yang bisa disimpan di rumah atau dikelola oleh orang-orang dekat. Lewotana dijadikan argumen bahkan topeng menutupi konspirasi busuk atau aksi `main mata' buat bagi-bagi jabatan atau proyek kepada keluarga, tim sukses dan sejenisnya.

Ribut soal uang dan jabatan di forum-forum terhormat atau mimbar-mimbar publik bukan lagi merupakan hal risih. Bahkan merengsek masuk ke ruang-ruang suci adat dan agama.

Menepuk dada sebagai tuan tanah tapi tukang jual tanah. Menyebut diri `yang terpilih' namun isi amplop lantas selalu jadi pilihan prioritas pelayanan. Bikin proposal atas nama orang miskin atau pembangunan rumah ibadah namun akhirnya lebih banyak masuk kantong sendiri.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help