Berita Kabupaten Sumba Barat

Museum Tenun Bukan Untuk Cari Nama

Pater Robert Ramone, CSsR menegaskan, dirinya mendirikan Museum Tenun Atma Hondu Sumba, bukan untuk mencari nama

Museum Tenun Bukan Untuk Cari Nama
POS KUPANG/GERADUS MANYELA
Biyan Wanaatmaja menggunting pita leresmian Museum Tenun Sumba, Rabu (29/8/2018) malam.

Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Geradus Manyela

POS-KUPANG.COM|TAMBOLAKA--Pater Robert Ramone, CSsR menegaskan, dirinya mendirikan Museum Tenun Atma Hondu Sumba, bukan untuk mencari nama.

Museum yang diresmikan Penjabat Gubernur NTT, Robert Simbolon diwakili Kepala Dinas Kebudayaan, Sinun Petrus Manuk, Rabu (29/8/2018) malam, hadir karena dirinya memiliki koleksi kain tua yang perlu dilestarikan.

Dalam acara yang dihadiri para donatur, Wakil Bupati Sumba Barat Daya (SBD), Dara Tanggu Kaha bersama oimpinan OPD, Bupati SBD Terpilih, Kornelius Kodi Mete, Bupati Sumba Tengah Terpilih, Paul Kira Limu, serta tamu undangan lainnya, Pater Robert mengatakan, dirinya terus digoda oleh kolektor yang menawarkan harga mahal,tapi ia tidak bergeming.

"Kalau saya mau jual, dua lembar kain saja bisa membeli mobil Kijang Inova bekas menjadi impian untuk mengantar tamu. Tapi itu tidak dilakukan karena kecintaan saya terhadap tanah kelahiran Sumba. Saya harus melestarikan ini untuk generasi muda, "kata Pater Robert yang hari itu genap berusia 56 tahun.

Pater Robert menyampaikan terima kasih kepada para donatur terlebih desainer tersohor, Biyan Wanaatmaja yang menyumbang dana perampungan gedung museum yang menelan biaya mendekati Rp 2 miliar, arsitek nusantara, Yori Antar, Nyoman dan Wahyudi yang menyumbangkan satu kontainer kain, Dr. dr. Anna Sinardja yang menyumbang pembangunan kapela, Ibu Dian, Yuni dan Yanti yang menyumbang dana pembangunan rumah tinggal, Ibu Lanny dari Tata Logam yang menyumbang multi roof, Lisa Tirta Utomo sebagai donatur tetap, serta pihak lain yang tak dapat disebutkan satu persatu.

Acara berlangsung meriah dengan tarian kataga, tarian kreasi dari sanggar seni, puisi tanahku adalah ibuku dan Mars Rumah Budaya.

Yori Antar, arsitek nusantara yang 15 tahun peduli terhadap Sumba mengaku memperkenalkan kain Sumba kepada desainer internasional, Biyan Wanaatmaja yang langsung jatuh cinta dan muncul kerinduan mendesain kain Sumba menjadi tersohor.

Biyan Wanaatmaja mengatakan, perkembangan teknologi sangat memengaruhi perkembangan manusia. Sumba hanya ada satu di dunia dengan warisan budaya beragam dan generasi muda perlu meneruskan warisan pendahulu.

Pater Propinsial Redemtoris Indonesia, Pater Yoakim Rambaho Ndelo, CSsR mengatakan Pater Robert pribadi yang unik.

"Saya bisa pegang kepalanya tapi tidak bisa pegang isi kepalanya. Saya bisa kasih pindah Robert tapi mencari yang menggantikannya sulit. Pater Robert berkarya dengan hati susah cari penggantinya. Setelah Robert siapa lagi? "tanya Pater Yoakim retoris.

Penjabat Gubernur NTT, Robert Simbolon dalam sanbutan tertulis yang dibacakan Kadis Kebudayaan, Sinun Petrus Manuk mengatakan, museum tenun Sumba merulakan kemajuan baru dan semangat baru melestarikan kain Sumba.

Kain Sumba ibarat lembaran surat yang bisa dibaca pesan-pesannya. "Jaga kebersamaan dan kerukunan bangun NTT, bangun Sumba, "pinta Gubernur.

Sinun Petrus Manuk usai membacakan sambutan mengaku bangga dengan apa yang dilakukan Pater Robert mendirikan Rumah Budaya dan Museum Tenun Atma Hondu Sumba. Manuk mengakui kurang perhatian pemerintah terhadap pelestarian budaya Sumba seperti dilakukan Pater Robert.

Pater Robert juga memberikan penghargaan kepada para donatur dan pihak-pihak yang menopangnya, termasuk para tukang dan karyawan-karyawati Rumah Budaya dengan menyelendangi kain tenun Sumba. (*)


Penulis: Gerardus Manyela
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help