Berita Kabupaten Lembata

Hendrikus Bernadus Gilo Kedang: Burung Puyuh juga Disikat

Apesnya, tikus malah menyerang dari kolong kandang (tempat pijak burung puyuh).

Hendrikus Bernadus Gilo Kedang: Burung Puyuh juga Disikat
POS KUPANG/FRANS KROWIN
Hendro Kedang saat dikandng burung puyuh di Lamahora

Laporan Reporter POS KUPANG, Frans Krowin

POS-KUPANG.COM|LEWOLEBA --Hendrikus Bernadus Gilo Kedang peternak burung puyuh di Lamahora, Kelurahan Selandoro, juga mengeluhkan hal yang sama. Dia mengatakan sudah banyak burung puyuh yang dipeliharanya mati dengan kondisi mengenaskan. Hati dan jantungnya ludes dimakan binatang pengerat itu.

"Selama ini kan saya beternak burung puyuh. Sudah banyak burung puyuh yang mati diserang tikus. Adakalanya tikus itu hanya makan hati dan jantungnya saja. Tapi kadang usus juga dilahap Habis. Sedangkan daging burung puyuh tidak diapa-apakan. Saya juga heran ternyata burung puyuh juga disikat, sama seperti anak ayam," ujar Hendro, demikian ia biasa disapa, saat ditemui Pos Kupang.Com, Kamis (30/8/2018).

Untuk menyiasati agar unggas yang diternakinya tak lagi diserang hama predator itu, ungkap Hendro, ia menutup rapat-rapat dinding pada kandang unggas tersebut. Apesnya, tikus malah menyerang dari kolong kandang (tempat pijak burung puyuh).

Olehnya, lanjut dia, ia harus mengubah model kandang burung puyuh itu dengan memagarinya secara berlapis. Sejak itu sampai sekarang, serangan tikus dapat dicegah. Dan, burung puyuh yang dipeliharanya bisa dijauhi dari predator yang tak disangka-sangka itu.

Dikatakannya, saat diserang pertama kali, hanya beberapa ekor burung puyuh yang jadi korban predator pengerat tersebut. Namun selang dua hari kemudian, sekitar 30 ekor burung puyuh mati mengenaskan. Selang beberapa waktu kemudian, 17 ekor puyuh kembali jadi korban. Dan, pada Senin (27/8/2018) enam ekor puyuh lagi-lagi mati diserang tikus.

Tubuh unggas yang dimangsa itu, tutur Hendro, sepertinya utuh, tetapi bagian dada dan perutnya sudah berlubang. Melalui lubang itulah sang predator menyedot hati dan jantungnya kemudian dimakan. Selama ini tikus hanya memakan habis hati dan jantungnya puyuh. Sedangkan daging burung , tidak digigit sama sekali.

Ketika disinggung tentang besarnya kerugian yang dialami akibat serangan binatang pengerat itu, Hendro mengatakan sudah cukup banyak. Jumlahnya hampir mendekati 100 ekor.

Kepada Pos Kupang.Com di kediamannya, Rabu (29/8/2018) ia mengatakan, apa yang dialami itu dianggapnya sebagai tantangan. Saat ini ia sedang memperbaiki kandang yang menjadi salah satu sebab hama tikus menyerang burung yang dikembangbiakkan tersebut.

"Saya menganggap apa yang terjadi selama ini sebagai tantangan dalam menekuni usaha yang satu ini. Di Kabupaten Lembata ini, umumnya warga beternak ayam. Hanya saya sendiri yang memelihara burung puyuh. Makanya saya menganggap apa yang terjadi selama ini sebagai tantangan dalam mengembangbiakkan burung puyuh," ujar Hendro yang juga polisiti Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) Indonesia.

Ia menuturkan, beternak burung puyuh itu dirintis oleh ayahnya dan sekarang ia yang melanjutkannya.
Untuk menekuni usaha itu, ia belajar dari Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Ia juga membeli mesin tetas dari Kefamenanu untuk satu tujuan, yaitu menambah populasi burung puyuh baik jantan maupun betina. Burung puyuh yang dikembangbiakkan itu untuk bisnis telur segar burung puyuh di Kota Lewoleva.

Saat ini, katanya, usaha yang digelutinya tersebut, masih berskala kecil. Populasi burung puyuh yang dipeliharanya, belum terlalu banyak jumlahnya. Bila diangkakan, maka baru sekitar 100 ekor dan sedang diupayakan untuk menuju 200 ekor. (*)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help