Berita Kabupaten TTS

Araksi Sebut BPKP Tidak Profesional, Ini Alasannya

Ketua aliansi rakyat anti korupsi (Araksi) Kabupaten TTS, Alfred Baun menuding BPKP Perwakilan NTT tidak profesional dalam melakukan audit

Araksi Sebut BPKP Tidak Profesional, Ini Alasannya
POS-KUPANG.COM/Dion Kota
Ketua aliansi rakyat anti korupsi (Araksi) Kabupaten TTS, Alfred Baun 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dion Kota

POS-KUPANG.COM | SOE - Ketua aliansi rakyat anti korupsi (Araksi) Kabupaten TTS, Alfred Baun menuding BPKP Perwakilan NTT tidak profesional dalam melakukan audit perhitungan negara dalam kasus landscape Kantor Bupati TTS.

Pasalnya, satu bulan setelah melakukan klarifikasi ke TTS, hingga saat ini hasil audit perhitungan negera tak juga kelar.

Selain itu, indikasi tidak profesionalnya BPKP dalam melakukan audit kerugian negera terlihat dari dua kali melakukan audit dengan tim yang berbeda tetapi tak memiliki hasil.

Baca: Sepuluh Hari Hilang, Netty Ternyata Dilarikan Seorang Sopir Bemo

"BPKP Perwakilan NTT sudah dua kali turun melakukan audit tetapi hasil audit hingga saat ini belum ada. Padahal, Politeknik Negeri Kupang yang melakukan pemeriksaan fisik sudah menemukan adanya kekurangan volume dalam pekerjaan landscape yang berdampak pada kerugian negera. Lambatnya BPKP dalam mengeluarkan hasil audit menyebabkan penyidik Polres TTS belum bisa menetapkan tersangka dalam kasus ini. Saya menilai BPKP sangat tidak profesional dan menyebabkan kasus ini terkatung-katung hingga saat ini," tuding Alfred.

Pekan kemarin, lanjut Alfred, yang ditemui POS-KUPANG.COM, Kamis ( 30/8/2018 di Kota Soe, dirinya sudah mendatangi kantor BPKP Perwakilan NTT untuk menanyakan hasil audit kerugian negara dalam kasus landscape, tetapi bukannya mendapatkan jawabannya, dirinya malah diping pong.

"Saya ketemu auditornya, katanya auditor tidak punya wewenang untuk bicara, jadi arahkan saya untuk bertemu humas. Sampai di humas, saya disuruh ketemu auditor karena untuk bicara hasil audit humas tidak punya wewenang. Karena merasa saya hanya diping-pong, akhirnya saya pulang tanpa mendapatkan jawaban dari BPKP Perwakilan NTT, " ujarnya dengan nada kesal.

Sikap BPKP Perwakilan NTT yang enggan merampungkan hasil audit kerugian negara, membuat Alfred bertanya-tanya. Dia curiga dengan sikap BPKP tersebut. Dia khawatir jika auditor BPKP sudah kemasukan "angin" saat melakukan klarifikasi belum lama.

Alfred bahkan menuding jika BPKP enggan membeberkan hasil audit karena ingin menyembunyikan hasil temuan audit.

"Saya takutnya kalau BPKP kemasukan angin sehingga lambat dalam menyelesaikan hasi auditnya. Ada sesuatu yang ingin disembunyikan sehingga lambat dalam merampung hasil auditnya," tuding Alfred lagi.

Selain menyasar BPKP dalam penuntasan kasus Landscape kantor Bupati TTS, Alfred juga menaruh curiga terhadap kinerja penyidik TTS.

Pasalnya, empat tahun melakukan penyelidikan kasus tersebut, hingga saat ini belum ada titik terang terhadap penuntasan kasus tersebut. Jika dalam waktu satu bulan belum ada tersangka yang ditetapkan dalam kasus tersebut, dirinya akan mengadukan kasus dugaan korupsi landscape kantor bupati TTS ke Bareskrim Maber Polri guna bisa diambil alih. (*)

Penulis: Dion Kota
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help