Berita Kabupaten Sikka

Alokasi Vaksin Rabies ke Sikka Sudah Berkurang 50 Persen

vaksin rabies untuk Sikka dari Kementrian Pertanian RI dikirim ke Dinas Peternakan NTT selama 2012-2014 sebanyak 80.000 dosis

Alokasi Vaksin Rabies  ke Sikka Sudah Berkurang 50  Persen
POS KUPANG/EUGINIUS MO'A
Seorang anak di Desa Nitakloang, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur,digigit anjing peliharaan di rumahnya bulan April 2018. 

Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Eginius Mo’a

POS-KUPANG.COM|MAUMERE--Pengurangan alokasi vaksin  rabies ke  Kabupaten  Sikka,  Pulau  Flores,  Propinsi Nusa Tenggara  Timur  (NTT) ikut  mendorong naiknya  kasus rebies  di  Sikka. Sampai  bulan  Agustus  2018  ditemukan  29  spesimen positif  rabies.

“Trend  angka  rabies  mulai   tahun lalu  (2017)  ditemukan 11  spesimen positif  menjadi  29  spesimen  positif  di 2019.  Salah satu sebabnya  alokasi  vaksin  rabies    untuk  Sikka berkurang  50 persen,” kata Drh. Maria  Margaretha  Siko,   Kepala Bidang Kesehatan  Hewan, mewakili   Kepala Dinas Pertanian  Perkebunan dan Peternakan  Kabupaten Sikka, Ir. Hengky  Sali, dikonfirmasi  POS-KUPANG.COM,  Selasa (17/4/2018)  di Maumere.

Ia menjelaskan, alokasi   vaksin  rabies   untuk  Sikka    dari  Kementrian  Pertanian  RI dikirim  ke  Dinas  Peternakan NTT selama  2012-2014 sebanyak  80.000  dosis  berkurang menjadi 33 ribu  dosis atau  berkurang 50  persen.

“Sebelumnya, kami  bisa  vaksin dua kali setahun.  Kami selalu  sisir  ulang  terhadap anjing    yang tidak  tervaksin sebelumnya atau populasi  baru  anjing yang baru beranak.  Sekarang  tidak bisa  kita lakukan,  persediaan  vaksin  sangat terbatas,” kata Metha, sapaan   Margaretha.

Keadaan ini  lebih memprihantikan di  tahun  2018, vaksin  dialokasikan  33 ribu  dosis.   Tetapi,  biaya operasional  hanya untuk 12 ribu ekor.  Vaksin yang telah dikirim 21  ribu dosis  dan yang sudah  terpakai   12.120  dosis. 

“Sisanya  kita  harus cari biaya  lagi.  Petugas ke sana kemari, kan  butuh  biaya operasional,” ujar Metha.

Selain alokasi  vaksin, Metha  mengakui, populasi anjing baru   bertambah  setiap  tahun.

“Alokasi  vaksin  semakin  kurang, anjing divaksin makin sedikit. Padahal  kalau alokasi  vaksin  banyak, maka makin  banyak anjing   yang terlindungi,”tandas Metha.

Selain juga kesadaran  pemilik anjing, meski  prosentasenya  diakui  Metha relatif kecil. “Tidak semua  pemilik  anjing yang  kami datangi  secara  sukarela  serahkan anjing  untuk divaksin.  Ada juga  yang  tidak mau. Anjing yang  kami  lihat keluar masuk di rumahnya saat  kami datang,  dibilang bukan miliknya,” imbuh  Metha. (*)

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved